Kabar
Seni, Ode Visual dan Ingatan Kolektif Berbangsa
Seni terlahir secara niscaya mengemban tentang majemuknya narasi sejarah dan identitas. Membincangkan cinta kepada negeri seperti menguak sebuah ode visual, yang kali ini tidak hanya memuat puja-puji karunia illahi paras populasi dan etnisitas yang ramah juga alam nan elok.
Ode Visual dalam konteks ini bermakna semacam parodi untuk mengaca sekaligus mengolok-olok diri sebagai warga, bukan glorifikasi kecintaan membabi buta namun kewaspadaan dan kehati-hatian.
Kecintaan berarti juga penjelmaan refleksi atas kegundahan, rasa sedih, empati mendalam pada yang terkasih, sebab beririsan dengan ingatan kolektif untuk rasa ikut memiliki bahwa negeri sedang berjalan tertatih-tatih selama 81 tahun ini.
Karya dari 26 partisipan dari fotografer, pelukis, pematung, desainer pun arsitek serta pembuat karya instalatif dalam pameran ini menggugah kembali makna keberagaman berekspresi. Yakni, bertemunya berbagai entitas nalar, rasa dan pengalaman-pengalaman yang cerlang pun yang subtil dialami oleh para perupa individual dan yang kolaboratif.
Sebagian perupa dan arsitek membawa konteks termutakhir dari makna “genting’, yakni isu politik dan kebangsaan yang menyesakkan dada, sementara ada desainer menyentuh rasa trenyuh kita memtaforakan negeri sebagai ibu yang yang telah merawat dan memberi segala (gunung, laut, hutan dll). Tiba saatnya untuk merawatnya tatkala ibu Pertiwi sedang sakit.
Perupa lain, membawa kita pada sejarah dan identitas lokal ratusan tahun tentang sosok heroine, jenial perempuan dari masa lalu untuk berbagi cerita sedih hari ini bahwa kita belum menemui pemimpin negeri yang mampu memberi tauladan, demikian pula sosok “dewata”, yang diperankan dalam budaya wayang seperti Petruk dan Semar yang menggelitik memberi kritik.
Keberagaman ekspresi ditampilkan tak hanya berlatar budaya, namun satire yang kental sebagai pengalaman personal tentang isu mutakhir tentang dunia digital yang mencipta hoaks, serta merapuhnya peran eksistensi jurnalisme, misalnya untuk tetap tabah dan kuat menghadapi fenomena disrupsi teknologi.
Sementara perupa lainnya, menghantar simbol-simbol yang provokatif beraura cerah, yang tentunya menghablur dengan keelokan warna-warna nan berenergi menggambarkan optimisme, sekaligus juga yang beraroma reflektif tentang memaknai batas-batas sebuah harapan. Kita juga menemui ekspresi privat tentang bagaimana negeri dikaitkan dengan gambaran sesuatu yang telah mati—seperti bayang-bayang– oleh seorang fotografer dan sementara arsitek lain seperti membangun instalasi doa via mantra-mantra Ibrani untuk sebuah negeri.
Dari keyakinan reliji, pameran ini menampilkan pelukis, penari dan performans lain yang mengeksplorasi sosok Dewa Shiva sebagai penjaga siklus semesta melahirkan, merawat sekaligus membinasakan. Maka sebuah entitas negara boleh jadi hilang, namun negeri dan bangsa-bangsa akan tetap terus menjadi eros (daya hidup) yang abadi. Bukankah yang hilang dan punah akan digantikan dengan yang anyar dan muda? Shiva dan siklus semesta adalah niscaya.
Cinta kepada negeri tak bisa diuarkan semata, namun dilakoni, dijaga dan dirawat meski tertatih-tatih. Bisa jadi ia semacam cermin refleksi bersama para perupa dan desainer-desainer mengaca sekaligus mengolok-olok diri sebagai warga: apakah kita sudah benar-benar merdeka?
Kurator:
Aendra Medita
Bambang Asrini
Susi Adrini