Feature
Seni dan Blockchain Bertemu
Kuala Lumpur: Frontier Baru Kreativitas dan Modal
Di jantung Kuala Lumpur, sebuah frontier baru sedang terbentuk—tempat di mana seni dan blockchain bertemu, menciptakan lanskap segar bagi ekonomi kreatif. Acara Funders Meet Creators menjadi panggung pertemuan antara seniman, inovator, dan investor, dengan tujuan berani: mendefinisikan ulang cara karya kreatif didanai, dimiliki, dan dikembangkan.
IMSTYLO: Menjembatani Kreativitas dan Modal
Diselenggarakan oleh IMSTYLO, sebuah IP blockchain berbasis Swiss di bawah Stylo International, acara ini mempertemukan talenta-talenta Malaysia dalam ekosistem Hall of F.A.M.E (Fashion, Arts, Music, Entertainment, Lifestyle & Sustainability). Para kreator tidak hanya menampilkan ide, tetapi menyajikan visi matang kepada panel penasihat bisnis dan mitra modal.
Didirikan oleh Datuk Nancy Yeoh bersama venture builder asal Singapura, Ivan Lim, IMSTYLO memiliki misi jelas: menjembatani kesenjangan antara kreativitas dan modal melalui teknologi. Sebagai platform Real World Assets (RWA), IMSTYLO memungkinkan kekayaan intelektual kreatif—mulai dari koleksi fesyen, film, hak musik, hingga karya budaya—untuk disusun sebagai aset on-chain bernilai. Model ini menghadirkan likuiditas, transparansi, serta kepemilikan fraksional, membuka akses ke pasar modal global.
RWA: Tren Baru dalam Keuangan On-Chain
Sektor RWA tengah berkembang pesat, dengan nilai pasar melampaui US$360 miliar per April 2026, didorong oleh instrumen seperti treasury, kredit swasta, dan real estate. IMSTYLO memperluas model ini ke dalam ekonomi kreatif, membuka peluang investasi baru di bidang seni dan budaya.
“Dunia tidak kekurangan kreativitas,” ujar Yeoh. “Yang hilang adalah teknologi integrasi, ekosistem terstruktur, dan akses nyata ke pasar modal.”
Panggung Kreator: Dari Film hingga Fesyen
Di antara presentasi yang mencuri perhatian adalah sutradara ternama Datuk Shuhaimi Baba bersama produser Kavita Sidhu dengan proyek film horor yang dinanti, Pontianak 3. Franchise ini telah lama membentuk wajah sinema Malaysia dan melambungkan nama Maya Karin sebagai ikon genre horor Asia Tenggara.
Turut tampil Rodin Kumar, komponis sekaligus pendiri International Jazz Festival, dengan visi produksi musik dan pengalaman panggung. Azizul Latif memperkenalkan label songkok edgy “We Are Nothing” bersama konsep koleksi RWA berjudul Punk Rock Kelantanese: A Textile Motif.
Dari Penang, pemenang Malaysia Fashion Week 2016 sekaligus desainer aksesori Jimmy Choo, Jonathan Yun, menampilkan koleksi perhiasan Nyonya yang akan dipamerkan dalam showcase IMSTYLO mendatang bertajuk The Little Nyonya pada Juni ini.
Transformasi: Seniman Menjadi Pembangun Aset
Meski beragam dalam ekspresi kreatif, benang merah dari setiap presentasi adalah transformasi.
“Kami membantu kreator berevolusi dari seniman menjadi pembangun aset,” jelas Lim. “Dari kepemilikan berbasis blockchain hingga ekosistem investor terstruktur, kami menciptakan model baru untuk skalabilitas global.”
Panel Penasihat dan Mitra Modal
Visi ini didukung oleh panel penasihat dan mitra modal terkemuka, di antaranya:
- Dennis O’Neill, Founder O’Neill Capital Advisor, USA
- Eddy Virgo, Founder Permai juga Global Advisor IBOM dari Indonesia
- Dato’ Sri Dr. Steven Eng, JP, Business Advisor, KSI Strategic Institute for Asia Pacific
- Rolv Andre Reissiger, Chief Business Development Advisor, International Blockchain Organisation Malaysia.
Seni, Teknologi, dan Keuangan: Masa Depan Ekonomi Kreatif
Seiring semakin kaburnya batas antara seni, teknologi, dan keuangan, inisiatif IMSTYLO menandai pergeseran besar: kreator kini bukan sekadar pencerita, melainkan arsitek dari kekayaan intelektual yang dapat diinvestasikan tanpa batas. Dengan blockchain sebagai fondasi, seni dan budaya memasuki era baru—era di mana kreativitas tidak hanya dihargai sebagai ekspresi, tetapi juga sebagai aset global yang berkelanjutan. (*)