Histori
Sejarah Panjang Kawasan Glodok, Dari Asal Nama Hingga Latar Belakangnya Menjadi Pecinan
JAYAKARTA NEWS – Jauh sebelum menjadi pusat elektronik, Glodok lebih dulu sebagai daerah pecinan.
Di Glodok terdapat kawasan Petak Sembilan dan Pancoran Glodok yang dipenuhi pedagang kuliner.
Dari zaman VOC pun Glodok sudah merajut sejarahnya sendiri hingga akhirnya menjadi pusat perdagangan.
Berikut sejarah menarik tentang Glodok, dikutip dari Ragam BUMN, Senin (23/6/2025).
Pintu masuk pulau
Nama Glodok dipercaya diambil dari Bahasa Sunda golodog yang artinya pintu masuk.
Ini merujuk pada kondisi saat itu, Sunda Kelapa jadi pintu masuk orang-orang ke Kerajaan Sunda.
Pada masa tersebut Sunda Kelapa memang lebih banyak didominasi orang Sunda.
Setelah kehadiran banyak orang Betawi dan asing lainnya, kata golodog diucapkan menjadi glodok.
Versi lain, arkeolog mengatakan nama glodok diambil dari nama pancoran atau pancuran air di sekitar daerah tersebut.
Sekitar abad 16, ada waduk penampungan air sungai Ciliwung yang mengalir lewat sebuah pancuran.
Air yang mengalir menghasilkan suara geluduk-geluduk.
Penduduk setempat kemudian menamai daerah tersebut dengan glodok.
Kawasan khusus pecinan
Glodok menjadi daerah Pecinan setelah terjadinya peristiwa pembantaian Tionghoa tahun 1740.
Peristiwa pembunuhan besar-besaran oleh pemerintah Hindia Belanda itu dikenal dengan nama Geger Pecinan.
Setelah itu, untuk bisa mengatur dan mengawasi lebih ketat kelompok ini, Belanda menempatkan orang Tionghoa di daerah Glodok.
Di pemukiman ini mereka bisa mendirikan rumah, berbisnis dan melakukan aktivitas sosial lainnya.
Pintu masuk ke kawasan Petak Sembilan, Glodok, jakarta. (Instagram/@evan.sandjaja via jatimnetwork.com)
Belanda juga membuat aturan, hanya di daerah tersebut orang Tionghoa boleh membangun rumah.
Kelompok tersebut perlu izin khusus bila ingin keluar dari kawasan pecinan.
Belanda juga memilih seorang Kapitan Tionghoa untuk mengawasi keteraturan dan keamanan di kawasan.
Kawasan ini hingga masa kemerdekaan dan sampai sekarang berubah menjadi daerah pecinan.
Pusat perdagangan elektronik terbesar
Munculnya radio, televisi, lemari es, dan produk eletronik di tahun 1970-an mengubah Glodok jadi pusat elektronik.
Saat itu perekonomian masyarakat mulai membaik dan permintaan barang-barang elektronik meningkat.
Ini yang pada akhirnya membuat banyak toko elektronik tumbuh subur di Glodok.
Tahun 1990-an, Glodok Plaza menjadi salah satu pusat perdagangan elektronik terbesar di Asia Tenggara.
Sayangnya setelah era digital secara perlahan pesona Glodok mulai redup.
Orang beralih membeli online dan mencari barang-barang digital.***/mel