Site icon Jayakarta News

“Sapa Salah Seleh” – Paku Moral Bangsa dari Gunung Tidar

Oleh Brigjen TNI Purn MJP Hutagaol

Gunung Tidar: Paku Tanah Jawa dan Cermin Batin Bangsa

Di jantung Pulau Jawa, Gunung Tidar berdiri tenang — tidak tinggi, tetapi bermartabat.

Masyarakat menyebutnya Pakuning Tanah Jawa, paku yang menancap agar pulau ini tak oleng.

Di puncaknya terdapat Tugu Sa, berbentuk segi empat bertingkat, dengan huruf Jawa “Sa” yang diartikan sebagai “Sapa Salah Seleh” — siapa yang salah hendaklah mengalah kepada kebenaran.

Kesederhanaan kata itu menyimpan pesan besar: bukan soal menang-kalah dalam debat atau politik, melainkan soal kejujuran batin — keberanian menoleh ke dalam, mengakui salah, lalu memperbaiki.

Seperti menanam pohon: akar yang jujur membuat pohon tegak, akar yang tercemar akan menumbangkannya sendiri.

1. Tidar dan Akmil — Tempaan Jiwa, Bukan Sekadar Geografi

Akademi Militer Magelang berdiri di kaki Tidar bukan tanpa makna.

Para taruna ditempa bukan hanya untuk menguasai medan tempur, tetapi juga untuk menegakkan moral dan tanggung jawab kepemimpinan.

Gunung Tidar mengajarkan keseimbangan: kekuatan tanpa kebijaksanaan hanya menimbulkan bahaya; kebijaksanaan tanpa kekuatan akan mudah tergoyang.

Tugu “Sa” di puncaknya menegaskan satu hal sederhana bagi calon pemimpin bangsa:

yang mulia bukanlah yang tak pernah salah, tetapi yang berani mengakui dan memperbaiki.

2. Filosofi “Sapa Salah Seleh”

Pepatah ini menegaskan bahwa kesalahan tidak dapat disembunyikan selamanya; kebenaran akan muncul pada waktunya.

Kejujuran, kerendahan hati, dan tanggung jawab adalah fondasi moral individu dan bangsa.

Dalam konteks Indonesia hari ini, nilai ini relevan menghadapi korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dan praktik yang merugikan rakyat — cepat atau lambat, kebenaran akan menemukan jalannya.

Ajaran para Mpu Jawa meneguhkan makna ini:

Mpu Tantular menekankan kesatuan dalam keragaman (Bhinneka Tunggal Ika) dan bahwa kebenaran tak akan hilang.

Mpu Kanwa dan Mpu Panuluh mengajarkan introspeksi, kesabaran, dan harmoni.

Kesalahan yang diakui bukanlah kehinaan, tetapi langkah menuju keseimbangan dan kemurnian hati.

3. Nilai Kepemimpinan dan Kearifan Jawa

Pemimpin sejati diukur bukan dari pangkatnya, tetapi dari keberaniannya mengakui kesalahan dan memperbaiki diri.

Gunung Tidar menjadi simbol keseimbangan:

kekuatan fisik tanpa kebijaksanaan tidak bermanfaat; kebijaksanaan tanpa keberanian tak akan tegak.

Nilai ini pula yang diwariskan di Akmil:

para calon perwira ditempa menjadi paku moral bangsa — menegakkan negeri di tengah guncangan zaman.

4. Relevansi bagi Bangsa: Kebenaran yang Pasti Muncul

Kini, di tengah terbukanya informasi dan kesadaran publik, banyak hal yang dahulu tertutup mulai terungkap.

Hukum sebab-akibat bekerja: cepat atau lambat, kebenaran menemukan jalannya.

“Sapa salah, seleh” bukan sekadar pepatah, tetapi lensa moral bangsa.

Ia mengajarkan agar kita tidak terpancing emosi, tidak saling menuduh tanpa dasar.

Pesan ini menyerukan tindakan nyata:

perkuat lembaga pengawas, perbaiki tata kelola, dorong transparansi, dan biarkan hukum bekerja.

Kebenaran yang muncul harus dihadapi dengan kebijaksanaan, bukan dendam.

5. Penutup — Mengakui Supaya Merdeka

“Sapa Salah Seleh” mengajak kita pulang kepada inti kemanusiaan:

kerendahan hati, kejujuran, dan tanggung jawab.

Gunung Tidar menancapkan tanah Jawa;

tetapi kebenaran dan kejujuranlah yang menegakkan bangsa.

Siapa pun yang salah namun berani mengakui, bukanlah hina — itulah tanda kebesaran jiwa.

Pengakuan adalah langkah menuju kebenaran, pemulihan, dan kemerdekaan batin.

Mari jadikan pepatah ini bukan sekadar kata di puncak batu,

melainkan napas kehidupan bangsa — menuntun tutur kata, tindakan, dan kebijakan.

Tulisan ini bukan hanya refleksi budaya, tetapi juga pesan moral bagi generasi pemimpin masa depan, agar tidak takut salah — yang penting, berani memperbaiki.

Dari kaki Gunung Tidar, pesan sederhana ini meneguhkan kembali jati diri Indonesia: berdiri di atas kebenaran, ditegakkan oleh kejujuran.

Exit mobile version