JAYAKARTA NEWS – Rekaman perubahan iklim masa silam kini dapat dibaca kembali lewat lapisan tanah Pulau Jawa. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menghadirkan hasil riset terbaru tentang dinamika bumi tropis dan pengaruhnya terhadap kehidupan manusia purba di Asia Tenggara.
Dikutip dari Rilis BRIN, Sabtu (8/11/2025), hal tersebut dibahas dalam rangakaian kegiatan Union Internationale des Sciences Préhistoriques et Protohistoriques (UISPP) Inter-Congress Conference 2025 bertema “Asian Prehistory Today: Bridging Science, Heritage, and Development”, di Salatiga-Jawa Tengah (27/10- 6/11).
Kepala Pusat Riset Arkeometri BRIN Sofwan Noerwidi, memaparkan penelitian “Paleoenvironment Reconstruction of the Lower Kaliglagah Formation in the Palaeontological Site Bumiayu, Brebes, Central Java.” Kajian ini menyingkap transisi lingkungan antara laut dangkal dan rawa fluvial pada kisaran 2,4 juta tahun lalu, saat bumi mengalami pendinginan global.
“Penelitian tersebut mengkonfirmasi bahwa Bumiayu merekam osilasi glasial yang berulang fase ketika permukaan laut menurun drastis dan Pulau Jawa tersambung dengan daratan Asia. Rekaman Bumiayu memberi potret konkret bagaimana perubahan iklim membentuk lanskap dan memengaruhi distribusi fauna purba,” ujar Sofwan saat memaparkan kajiannya, Kamis (06/11) .
Ia menekankan pendekatan stratigrafi terpadu dan analisis isotop yang memungkinkan peneliti membaca sejarah lingkungan tropis dengan presisi baru.
Sementara itu, Ni Luh Gde Dyah Mega Hafsari, Peneliti pada Pusat Riset Arkeologi Lingkungan, Maritim dan Budaya Berkelanjutan BRIN, melalui paparan “Digging Java’s Middle Pleistocene: Chronostratigraphic, Palaeoenvironmental, and Palaeoanthropological Data from the New Sogen Locality.” Temuan lapisan sedimen di Sogen Jawa Timur ini memperlihatkan perubahan vegetasi dan aktivitas vulkanik yang tumpang-tindih dengan keberadaan hominin awal.
“Temuan lapisan sedimen di wilayah tersebut, memperlihatkan perubahan vegetasi dan aktivitas vulkanik yang tumpang-tindih dengan keberadaan hominin awal. Data kronostratigrafi dan geokimia yang dikumpulkan memperluas pemahaman tentang hubungan antara perubahan iklim. Kemudian migrasi fauna, dan kemungkinan jalur persebaran manusia purba di wilayah timur Jawa,” ungkapnya.
Taufiqurrahman Setiawan, Peneliti dari Pusat Riset Arkeometri BRIN, mengupas studi “Regional Responses to Shared Traditions: The Hoabinhian Techno-Complex and the Case of Gua Mabitce, Western Coast of Aceh.”
“Tradisi alat batu Hoabinhian di Aceh menunjukkan kesinambungan adaptasi manusia terhadap lingkungan lembap tropis setelah berakhirnya Zaman Es,” imbuhnya.
Sinergi ketiga penelitian ini menggambarkan keterpaduan riset BRIN dalam memotret hubungan antara geologi, iklim, dan kebudayaan masa lalu.
Dari Bumiayu hingga Sogen, para ilmuwan Indonesia membaca ulang arsip bumi yang tersimpan di lapisan tanah mengungkap bagaimana manusia, hewan, dan alam pernah bernegosiasi dengan perubahan ekstrem.
Melalui forum UISPP 2025, BRIN memperkuat kolaborasi riset lintas-negara untuk memahami dinamika lingkungan tropis dan dampaknya terhadap evolusi manusia. Pendekatan multidisiplin yang menggabungkan arkeometri, geologi, dan biogeokronologi menjadi wujud komitmen BRIN dalam membangun sains arkeologi berkelanjutan.***/mel
