Puisi-puisi Visual Yusuf Susilo Hartono

Yusuf Susilo Hartono, jurnalis, penyair serta pelukis di ruang pamer solo show dia di Cemara 6 Galeri, Menteng, Jakarta Pusat.

Sungguh sebuah keistimewaan bagi penulis diberi kesempatan untuk menceritakan sebuah perspektif tertentu bagi seorang seniman, jurnalis, penyair juga penulis handal yang melanglang-buana dalam dunia seni selama lebih dari tiga puluh lima tahun.

Bagaimana seseorang penerima anugerah Sastra Rancage (2012), penghargaan tahunan yang diberikan untuk penyair yang kuat dan mengembangkan sastra Nusantara dalam bahasa daerah (dalam konteks Yusuf adalah Jawa, Sastra Rancage diinisiasi budayawan dan sastrawan Sunda Ajip Rosidi) yang ia mampu juga melukis, terutama sketsa-sketsa dan drawing yang bernas?

Jawabnya, tentu saja sangat majemuk dengan pengayaan luar biasa atas profesi lainnya selain sebagai pelukis, yakni seperti sebagai jurnalis senior (sempat menjadi Pemred Majalah Visual Arts dan Galeri (Galeri Nasional) dan esais tak henti menuliskan tentang seni rupa dan menjadi kurator.

Karya lukisnya sempat meraih penghargaan pada akhir tahun 90an dengan Philip Morris Award dan awal tahun 2000-an dengan Indofood Art Award, yang membuatnya fasih membincangkan narasi-narasi visual di kanvas, kertas pun memakai berbagai medium campuran.

Dalam pameran tuggalnya kali ini serasa sebuah gelaran “retrospeksi mungil” yang dihelat pada 9- 18 Oktober lalu di Cemara Galeri 6 dan dikuratori oleh Citra Smara Dewi, yang membuat penulis tercenung, dan sedikit lama mampu menuliskan tentang Yusuf Susilo Hartono.

Bukan sebab pamerannya bertajuk cukup provokatif yakni NEGOSIASI TUBUH URBAN: Tradisi, Warisan, dan Gaya Hidup, namun kegigihan berkarya dan semangatnya mengulik “seni yang puitik” dan mempresentasikan tak hanya lukisan-lukisan anyar, namun menyentuh cara ungkap para maestro seni modern selama puluhan tahun tak henti.

Pengayaan tersebut ditambahkan bahkan mungkin sejak tahun awal 2000an (26 tahun yang lalu) dan tahun-tahun lebih lama 1990 dan 1980-an. Melalui seabrek arsip-arsip buku sketsa, buku karyanya, majalah dan foto-foto tokoh-tokoh (dari seniman, budayawan sampai pejabat bahkan Presiden RI) yang sempat dikenalnya dengan baik dan membuka pamerannya; yang sekarang banyak yang telah almarhum) di pamerkan di ruang tengah galeri Cemara 6.

Dari amatan penulis, Yusuf meletakkan estetikanya yang dipengaruhi oleh majemuknya profesi  pada tataran dan kemampuan teknis pun nalar rupa yang diimbuhi jejak-jejak inspirasi para maesto “seni modern” yang bisa kita kenali dari sosok seperti: Ipe Maaruf, X-Link (sketsa dan drawing), Rusli (lukisan, utamanya cat air/tinta cina), bahkan Edi Soenarso atau Henk Ngantung (lukisan dan karakter figur-figur yang khas).

Yusuf menyetubuh tanpa disadarinya dengan bergumulnya secara dekat (acapkali secara personal) dengan sosok maestro tersebut. Para perintis seni modern kita itu membenamkan secara psikis pada “oevre” karya sekaligus diri Yusuf yang memahami seni lukis secara substantive. Yakni, pada bidang gambar, mengelola paradigma “seni modern” dengan menempatkan subject-matter secara tertata, juga mengalami langsung dan pengalaman inderawi menatap objek-objeknya (dipengaruhi profesinya sebagai jurnalis).

Puisi Visual Seni Modern

Puisi visual dipinjam istilahnya oleh penulis, dari cara ia menggubah dan meminjam teks-sastra namun visual, yang “licentia poetica” membawa tuturan yang liris dan naratif secara visualisasi dengan membawa simbol, lambang dan kode-kode yang saling terhubung dan lebih mudah ditafsirkan dan tidak kompleks bertumpuk-tumpuk makna.

Hal ini tentu membeda dengan kecendrungan kompleks cara “seni kontemporer” dengan segala bentuk dan metodenya mengetengahkan strategi-strategi “parody” dengan “siasat apropriasi”, sampai imbuhan konsepsi “pastiche” (bertemunya simbol-simbol kompleks tentang yang lalu dan kini dan tafsiran futuristik), serta bahasa-bahasa visual yang “lebih ahistoris”.

Acapkali, seni kontemporer memerlukan pendekatan-pendekatan yang sangat lebar dan rumit dalam “filsafat dekonstruktif”, sosiologi seni yang pada tataran tertentu sangat berjarak pada apresian seni yang mana iklim kritik siber media dan visual “yang ringan” lebih dominan pada hari-hari ini.

Maka sebuah aroma tentang “kondisi urban” dalam konteks tajuk pameran, membawa kita satu contoh pada karya berjuluk Tubuh Konsumtif, Seri Kafe, Judul Perempuan Kafé (Wine), Cat air, Akrilik pada kertas, 50 X 40 cm, Tahun 2026.

Karya ini dengan gamblang membayangkan tentang lapisan maknawi realitas fundamen awal objek-objek berupa minuman wine dan perempuan-perempuan di kafe dalam bentuk distorsi sosok perempuan dan gelas, dan tentunya ingatan tentang konstruksi sebuah kota besar (metropolitan).

Secara subyektif, penulis menyukai cara Yusuf, misalnya menggunakan kepiawaiannya lebih elok dengan “tatapan langsung” saat ia melukiskan sebuah objek yang bergerak seperti sosok penari yang mengingatkan pada Ipe Maaroef atau X-Link, seperti pada karyanya berjuluk Dewa Brata – Padneswara, Oil pastel, akrilik pada kertas, 38 x 26 cm, 2024 dengan cara melihat penari bergerak di panggung.

Semata-mata on the spot painting dalam seni modern adalah kemampuan secara cermat memahami anatomi mahluk hidup yang berkelebat dan menangkap esensi tubuh yang distorsi sedemikian rupa yang kemudian bisa juga menambahkannya kelak di studio dengan berbagai medium yang digunakan sebagai penambahan.

Selama wawancara dengan Yusuf, penulis berterus terang bahwa ia piawai membuat dan mengontrol brush stroke, baik pensil, oil pastel pun penggunaan medium lainnya yang tentunya berhutang pada tata cara para maesto drawing dan sketsa-sketasa yang telah disebutkan penulis. Jika mengingat tahun pembuatan 2024 lalu, ia masih mebawa itu sebagai daya ungkap visual dan skill utama.

Demikian juga pada karyanya yang lain, Perempuan dalam Hujan, akrilik pada kertas, 42 X 30 cm, 2019 yang sempat ditampilkan sebagai karya di Ilustrasi Cerpen Koran Kompas Minggu. Figur Peremuan yang dibalut seolah rintik hujan seperti guratan-guratan putih diatas tubuh berpakaian merah dan latar hijau seperti sebuah larik-larik sajak yang tentunya secara visual emotif pun memberi sentuhan melankoli.

Kemudian juga karya berjudul Lanskap Kopi, tinta cina pada kertas, 42 X 60 cm, 2025 seperti mengingatkan kita pada Maestro Rusli, yang elok memainkan gambaran substansi dunia, ia memilih “semesta secara sederhana”. Salah seorang pelopor seni lukis modern yang membenamkan filsafat timur khas Indonesia dan pengalaman spiritual di India, para kritikus menamainya acapkali dengan “minimalisme ala Indonesia”. Yusuf selayaknya Rusli ia mmebawa esensi dunia dalam kelir ochre, coklat muda dan putih serta memainkan lansekap seolah bergerak dengan garis putus-putus yang puitis.

Kemudian, dalam konteksnya sebagai jurnalis, kepekaan pada peristiwa-peristiwa politik dituangkan pada Balada Demonstran dan Pinokio, cat Akrilik pada kanvas, 120 X 130 cm, 2023 yang mengingatkan kita pada suasana pencalonan presiden tahun itu.

Karya ini yang jelas-jelas memanggungkan “simbol pinokio” dengan sosok seseorang meniup seruling berhidung panjang, munculnya kehadiran paras lelaki yang tegas dan seolah marah berkelir baju merah, dan sosok di pojok kanvas bawah membawa senjata? Latar samar-samar Gedung DPR menunjukkan jalinan cerita dan pergolakan yang gamblang.

Yusuf menceritakan tanpa “berdarah-darah” pun “kengerian-kengerian visual” yang malahan cukup puitis dengan elok menyandingkan kata “demonstran” cukup dengan paras lelaki yang berparas kuat seolah ada kemarahan dengan mulut menganga dan ini mengingatkan kita pada sosok karya Memanah (karya Henk Ngantunk yang dibuat sekitar tahun 1944).

Yang mana, tahun-tahun pergolakan sosial adalah bahasa sehari-hari, demikian juga tatkala Edhi Soenarso yang menggunakan anatomi tubuh dan gestur saat Indonesia dalam kondisi pergolakan fisik dalam patung-patungnya yang ikonik ada irisan seperti digambarkan oleh Yusuf dalam lelaki yang mulutnya terbuka tersebut.

Pada pertengahan karirnya sebagai pelukis, sekitar tahun 2002, penulis juga melihat keelokan karya “seni modern” milik Yusuf yang cukup memukau, yang berjudul Tari Pandawa Kurawa Tanding, akrilik, carcoal, pada kanvas, 100 X 210 cm – Triptych (triptika).

Di artikel ini disertakan dalam foto bersamanya, yakni seperti pengakuannya sebuah pentas tari yang dilakoni para penari prempuan yang cukup dikenalnya juga secara personal. Ia mempersentasikan gestur dan komposisi sosok-sosok penari yang distortif dalam bentuk, imbuhan-ibuhan warna yang cenderung monokrom, yang ia lukis langsung.

Karya berkecenderungan gambaran narasi spiritual yang simbolik, berjudul Dua Ikan Lima Roti, oil pastel pada kertas, 42 X 30 cm, 2026 juga menyentuh pembabakannya membawa sensifitas seni modern dengan simbol-simbol kristiani ( Yusuf di pameran ini juga mengeksplorasi simbol-simcol Islam, Budha dan Hindu). Karya Dua Ikan Lima Roti ini kemudian dikoleksi oleh Edward Depari, sejawatnya tokoh penyiaran, pakar komunikasi dan akademisi.

Dari sejumlah zona-zona yang dibagi oleh kurator dan juga persetujuan Yusuf untuk diseleksi dari ribuan karyanya, baik yang berukuran besar dan kecil kita memang ditawarkan begitu banyak paparan visual sketsa sampai lukisan-lukisan yang majemuk.

Puisi-puisi visual Yusuf, yang sebagian besar mengingatkan kita bahwa seni modern yang baik, tentulah juga diapresiai dengan baik, yang jauh bisa diapresiasi dengan layak berbanding dengan semangat untuk bertolak dari “eksperimentasi” menyaksikan karya-karya seni kontemporer yang kurang matang. Karya Yusuf, masih sampai hari ini memberi pencerahan seni modern yang terang-benderang.

Bambang Asrini, Penulis Seni

Judul :  Perempuan dalam Hujan
ukuran : Akrilik pada kertas,
Media : 42 X 30 cm
Tahun : 2019
Ilustrasi Cerpen Kompas Minggu

Judul :  Balada Demonstran dan Pinokio
ukuran : Cat Akrilik pada kanvas,
Media : 120 X 130 cm
Tahun : 2023

TUBUH KONSUMTIF – Seri Kafe, Judul Perempuan Kafé (Wine), Cat air, Akrilik pada kertas, 50 X 40 cm, Tahun 2026

Judul :  Lanskap Kopi
Ukuran : Tinta china pada kertas,
Media : 42 X 60 cm
Tahun : 2025

Yusuf Susilo Hartono di depan karyanya
Judul :  Tari Pandawa Kurawa Tanding
Ukuran : Akrilik, carcoal, pada kanvas,
Media : 100 X 210 cm – Triptych (triptika)
Tahun : 2002

Judul :  Dua Ikan Lima Roti
Ukuran : Oil pastel pada kertas,
Media : 42 X 30 cm
Tahun : 2026

Judul :  Dewa Brata – Padneswara
Ukuran : Oil pastel, akrilik pada kertas,
Media : 38 x 26 cm
Tahun : 2024
On the spot

Exit mobile version