Oleh: Heri Mulyono
Dalam 115 tahun, negara kecil di tepi Samudra Atlantik berubah menjadi kekuatan yang menguasai benua dari timur ke barat, lalu melangkah ke seberang lautan. Perluasan wilayah itu bukan kebetulan, melainkan sudah direncanakan sejak 1783.
Amerika Serikat lahir setelah berperang melawan Inggris. Pada 3 September 1783, lewat perjanjian damai yang ditandatangani di Paris, Inggris mengakui 13 (tiga belas) bekas jajahannya sebagai negara merdeka. Inggris juga menyerahkan tanah sampai Sungai Mississippi, sungai besar yang mengalir di tengah daratan Amerika. Bagi negara yang baru lahir dan hampir kehabisan uang, itu hadiah yang sangat besar. Namun bagi para pendirinya, itu baru permulaan.
Para pemimpin awal Amerika tidak ingin negaranya berhenti di Pegunungan Appalachian, deretan gunung di dekat pantai timur. Pada 1787 mereka membuat aturan untuk wilayah di utara Sungai Ohio. Tanah baru itu tidak dijadikan jajahan. Setelah cukup banyak penduduknya, wilayah itu boleh menjadi negara bagian dengan hak yang sama seperti negara bagian lama.
Cara ini cerdik, sebab Amerika lahir dari perlawanan terhadap penjajahan dan tidak mau tampak menjajah. Aturan itu melarang perbudakan di sana, tetapi tidak di selatan Sungai Ohio, dan perbedaan ini kelak menjadi sumber pertikaian besar. Satu hal lagi: tanah itu tidak kosong. Suku-suku asli, yang disebut orang Indian, sudah tinggal di sana selama berabad-abad. Merekalah yang kelak membayar paling mahal.
Lompatan besar pertama terjadi pada 1803. Saat itu Prancis dipimpin Napoleon Bonaparte. Ia butuh uang untuk melawan Inggris, dan ia sudah kehilangan minat pada tanah jajahan di Amerika setelah pasukannya kewalahan menghadapi pemberontakan para budak di Haiti. Napoleon lalu menawarkan seluruh wilayah Louisiana, tanah luas di sebelah barat Sungai Mississippi, kepada Amerika.
Presiden Thomas Jefferson sempat ragu, karena Undang-Undang Dasar tidak jelas memberi presiden hak untuk membeli tanah. Tetapi tawarannya terlalu menggiurkan. Harganya 15 juta dolar untuk tanah seluas sekitar dua juta kilometer persegi, hampir sama dengan seluruh daratan Indonesia. Dalam sekejap, luas negara itu hampir dua kali lipat.
Tak hanya itu. Pelabuhan New Orleans, pintu keluar hasil pertanian dari lembah Mississippi, juga ikut menjadi milik Amerika. Setahun kemudian Jefferson mengirim dua penjelajah, Meriwether Lewis dan William Clark, untuk memetakan tanah yang baru dibelinya. Sikap Jefferson menunjukkan ciri ekspansi Amerika: prinsip boleh dilonggarkan kalau peluangnya terlalu besar.
Florida lain ceritanya. Di sini Amerika memakai tekanan. Saat itu Florida milik Spanyol. Pada 1818 Jenderal Andrew Jackson memasuki Florida dengan alasan mengejar suku Seminole dan budak yang melarikan diri, bahkan merebut kota Pensacola.
Spanyol sedang lemah. Negeri itu sibuk menghadapi pemberontakan di jajahannya di Amerika Latin, dan tahu Florida sulit dipertahankan. Lewat Perjanjian Adams-Onís, yang ditandatangani pada 1819 dan berlaku sejak 1821, Florida jatuh ke tangan Amerika. Sebagai gantinya, Amerika menanggung tuntutan ganti rugi warganya terhadap Spanyol hingga 5 juta dolar.
Perjanjian itu juga menarik garis perbatasan sampai Samudra Pasifik, sehingga untuk pertama kalinya klaim resmi Amerika menjangkau pantai barat. Pola yang akan terulang sudah tampak: pasukan bergerak lebih dulu, perjanjian datang belakangan untuk mengesahkannya.
Pada 1823 Presiden James Monroe menyatakan bahwa negara-negara Eropa tidak boleh lagi menjajah wilayah baru di benua Amerika. Kedengarannya seperti membela diri, tetapi lama-lama pernyataan itu dipakai untuk menganggap seluruh benua sebagai halaman belakang Amerika.
Tujuh tahun kemudian, Andrew Jackson, yang menjadi presiden, menandatangani undang-undang yang mengusir suku-suku Indian di wilayah tenggara ke sebelah barat Mississippi. Puncak tragedinya terjadi pada 1838–1839, ketika ribuan orang Cherokee tewas dalam perjalanan paksa yang dikenang sebagai Jalan Air Mata. Sejak awal, perluasan wilayah bukan hanya soal peta yang makin lebar, tetapi juga soal manusia yang disingkirkan dari peta itu.
Pada 1845, seorang wartawan bernama John L. O’Sullivan memberi nama pada dorongan yang sudah berjalan puluhan tahun. Ia menulis bahwa Amerika memiliki “takdir yang nyata”, atau manifest destiny dalam bahasa Inggris, untuk menyebar ke seluruh benua yang disediakan Tuhan bagi penduduknya yang terus bertambah.
Maksudnya sederhana: Tuhan sudah menetapkan bahwa tanah itu milik Amerika. Gagasan ini sangat nyaman dipakai. Merebut tanah terdengar seperti tugas mulia. Siapa pun yang menghalangi, entah Meksiko, suku asli, atau Inggris, dianggap menghalangi kehendak sejarah.
Ujian pertamanya adalah Texas. Dulu Texas bagian dari Meksiko. Banyak orang Amerika pindah ke sana, dan pada 1836 mereka memisahkan diri. Salah satu sumber pertikaiannya adalah perbudakan, yang dilarang di Meksiko. Selama sembilan tahun Texas berdiri sebagai negara sendiri, sampai Amerika mencaploknya pada 1845 dan Texas resmi menjadi negara bagian pada Desember tahun itu.
Di Kongres Amerika, langkah ini diperdebatkan dengan sengit, sebab bagi kaum Utara, Texas berarti tambahan suara kubu pro-perbudakan. Meksiko, yang tidak pernah mengakui kemerdekaan Texas, memutus hubungan dengan Amerika. Perang tinggal menunggu pemicu.
Presiden James K. Polk adalah pemimpin yang paling bernafsu memperluas wilayah. Di utara, pendukungnya menuntut seluruh wilayah Oregon di pantai barat sampai garis lintang 54°40′. Tetapi saat berhadapan dengan Inggris yang kuat, Polk memilih berunding. Lewat Perjanjian Oregon pada Juni 1846, wilayah itu dibagi dua di garis lintang 49°, dan Inggris tetap memegang Pulau Vancouver.
Di selatan, caranya lain. Pada 1845 Polk mengirim utusan bernama John Slidell untuk menawar California dan New Mexico dengan harga puluhan juta dolar. Meksiko menolak, bahkan tidak mau menerima utusan itu. Pelajarannya jelas: Amerika bersikap keras terhadap yang lemah dan lentur terhadap yang kuat.
Perang Amerika-Meksiko meletus pada 1846, setelah bentrokan di wilayah yang diperebutkan kedua negara. Pasukan Amerika masuk jauh ke selatan dan menduduki Kota Meksiko pada September 1847. Perang berakhir lewat Perjanjian Guadalupe Hidalgo pada 2 Februari 1848. Meksiko menyerahkan sekitar separuh wilayahnya, yang kini menjadi California, Nevada, Utah, sebagian besar Arizona dan New Mexico, serta sebagian Colorado dan Wyoming.
Amerika membayar 15 juta dolar dan menanggung tuntutan warganya terhadap Meksiko, jumlah yang jauh dari sepadan bagi tanah sebesar itu. Sembilan hari sebelum perjanjian ditandatangani, emas ditemukan di California.
Di Kongres, seorang anggota baru dari Illinois bernama Abraham Lincoln mempertanyakan klaim Polk bahwa darah Amerika sudah tertumpah di tanah Amerika. Suaranya tenggelam oleh euforia kemenangan.
Ulysses S. Grant, yang ikut bertempur sebagai perwira muda dan kelak menjadi presiden, menyebut perang itu salah satu yang paling tidak adil, karena negara kuat menyerang negara lemah.
Pada 1853 Amerika masih membeli sepotong tanah di selatan Arizona dan New Mexico seharga 10 juta dolar, yang dikenal sebagai Pembelian Gadsden. Bentuk daratan Amerika yang kita kenal sekarang pun hampir lengkap.
Perang Saudara Amerika (1861–1865) menyita seluruh tenaga negara itu, tetapi tidak memadamkan ambisinya. Pada 1867 Menteri Luar Negeri William Seward membeli Alaska dari Rusia seharga 7,2 juta dolar. Luasnya lebih dari 1,5 juta kilometer persegi, sekitar dua belas kali Pulau Jawa. Orang mengejek pembelian itu sebagai “Kebodohan Seward”. Rusia ingin melepas wilayah yang sulit dijaga dan mudah direbut Inggris. Seward melihat lebih jauh: Alaska adalah pijakan menuju Pasifik, dan Pasifik adalah pintu menuju Asia. Puluhan tahun kemudian, setelah emas dan minyak ditemukan, pembelian itu dianggap sangat cerdik.
Pada 1890, lembaga sensus Amerika menyatakan bahwa garis batas permukiman baru, yang disebut frontier, sudah tidak bisa lagi digambar di peta. Garis yang selama seratus tahun bergerak ke barat itu kini bertemu laut. Tiga tahun kemudian, sejarawan Frederick Jackson Turner berpendapat bahwa frontier itulah yang membentuk watak orang Amerika.
Kalau frontier sudah habis, ke mana semangat itu akan disalurkan? Jawabannya datang dari seorang perwira angkatan laut, Alfred Thayer Mahan. Pada 1890 ia menerbitkan buku yang menyatakan bahwa negara besar butuh kapal perang yang kuat, pangkalan di seberang lautan, dan pasar di luar negeri. Para pemimpin Amerika membacanya dengan serius.
Tahun 1898 menjadi titik balik. Lima tahun sebelumnya, para pemilik perkebunan, dibantu pasukan marinir Amerika, menggulingkan Ratu Liliʻuokalani di Hawaii. Pada Juli 1898, di tengah suasana perang, Amerika mencaplok kepulauan itu.
Perang Spanyol-Amerika meletus setelah kapal perang USS Maine meledak di pelabuhan Havana, Kuba. Koran-koran besar ikut memanaskan suasana dengan berlomba memberitakan kekejaman Spanyol di Kuba, sehingga rakyat mendesak Presiden William McKinley untuk berperang.
Perang selesai dalam hitungan bulan. Pada 1 Mei, armada Laksamana George Dewey menghancurkan kapal-kapal Spanyol di Teluk Manila. Lewat Perjanjian Paris pada Desember 1898, Spanyol menyerahkan Filipina, Puerto Riko, dan Guam kepada Amerika.
Untuk Filipina, Amerika membayar 20 juta dolar. Kuba merdeka di atas kertas, tetapi aturan tambahan bernama Amandemen Platt kemudian mengikatnya pada kepentingan Amerika. Di dalam negeri, perjanjian itu hanya lolos di Senat dengan selisih satu suara di atas batas minimum. Liga Anti-Imperialis, yang dihuni tokoh seperti Mark Twain dan Andrew Carnegie, menentangnya, tetapi sia-sia. Negara yang lahir dari perlawanan terhadap penjajahan kini memiliki jajahan di seberang lautan.
Bagi Asia, 1898 bukan sekadar bab dalam sejarah Amerika. Sebelumnya, pada 1853–1854, Komodor Matthew Perry membawa kapal-kapal perang ke Teluk Edo, kini Tokyo, dan memaksa Jepang membuka pelabuhannya lewat Perjanjian Kanagawa. Kini Amerika benar-benar hadir di Pasifik.
Hawaii, Guam, dan Filipina membentuk rantai pangkalan menuju pasar Tiongkok yang luas. Pada 1899 Menteri Luar Negeri John Hay merumuskan kebijakan “Pintu Terbuka”: semua negara besar harus punya akses dagang yang sama di Tiongkok, tanpa Amerika harus menjajah daratannya.
Di Filipina, Emilio Aguinaldo sudah memproklamasikan kemerdekaan pada Juni 1898 dan mendirikan republik pada Januari 1899, tetapi Amerika tidak mengakuinya. Rakyat yang baru saja melawan Spanyol mendapati penjajah baru. Perang Filipina-Amerika pada 1899–1902 menewaskan puluhan ribu pejuang dan, menurut sejumlah taksiran, ratusan ribu warga sipil karena pertempuran, kelaparan, dan penyakit.
Pada 1905, lewat kesepahaman Taft–Katsura, Amerika dan Jepang saling mengakui pengaruh masing-masing: Amerika di Filipina, Jepang di Korea. Nasib wilayah-wilayah itu ditentukan di meja perundingan tanpa melibatkan penduduknya.
Akhir abad ke-19 bukan titik henti. Presiden Theodore Roosevelt mendukung Panama memisahkan diri dari Kolombia pada 1903, supaya Amerika bisa membangun terusan yang menghubungkan Samudra Atlantik dan Pasifik. Pada 1904 ia menegaskan bahwa Amerika berhak bertindak sebagai “polisi” di belahan bumi barat. Terusan Panama selesai pada 1914 dan mempercepat perpindahan kapal perang dari satu samudra ke samudra lain.
Dampaknya terasa jauh ke depan. Hawaii, tempat Armada Pasifik berlabuh, diserang Jepang di Pearl Harbor pada 1941. Filipina merdeka pada 1946, tetapi pasukan Amerika tetap berada di sana puluhan tahun.
Setelah 1945, Okinawa, Guam, dan Filipina menjadi simpul jaringan pangkalan Amerika di Pasifik Barat, dan pangkalan di Jepang serta Korea Selatan kini menjadi tulang punggung strategi Washington di kawasan itu. Bagi negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia yang bertetangga langsung dengan Filipina, kehadiran Amerika di Pasifik menjadi hal yang selalu masuk dalam hitungan keamanan.
Dari 1783 sampai 1898 terlihat satu benang merah. Watak ekspansif itu lahir bersama negaranya, mendapat pembenaran lewat gagasan Manifest Destiny pada 1840-an, dan berubah menjadi penjajahan di seberang lautan pada akhir abad ke-19. Setelah itu bentuknya terus berubah: dari tanah ke pangkalan, dari pencaplokan ke persekutuan, dari bendera ke pengaruh.
Bagi pembaca Indonesia, kisah ini bukan sekadar sejarah negeri jauh. Cara sebuah negara memandang peta, perbatasan, dan haknya atas wilayah di luar dirinya ikut membentuk dunia tempat kita hidup. Pembela warisan itu menunjuk pada stabilitas dan perdagangan bebas yang ditopang kekuatan Amerika, sedangkan para pengkritik menunjuk pada intervensi, penaklukan, dan korban manusia di balik peta.
Keduanya perlu dibaca berdampingan. Perbatasan Sungai Mississippi yang diwariskan Paris pada 1783 ternyata hanya garis pertama, dan Amerika tidak pernah berhenti menggambar garis berikutnya. (*)
