Kolom
Perang Bayangan yang Menjadi Perang Sungguhan
Perang Intelijen dan Perang Proksi AS-Israel versus Iran
Oleh : Heri Mulyono
Selama empat dekade, Amerika Serikat, Israel, dan Iran bertempur dalam kegelapan — saling mengirim agen, merancang sabotase, dan memelihara proksi bersenjata — hingga tabir perang bayangan itu akhirnya robek, berubah menjadi konfrontasi militer terbuka yang mengguncang tatanan Timur Tengah sejak 2024.
Sabotase, Pager, dan Pembunuhan: Arsitektur Perang Gelap
Dalam leksikon intelijen, operasi yang paling berhasil adalah yang tidak pernah diakui. Israel membuktikan prinsip ini pada September 2024, ketika ribuan pager — perangkat komunikasi yang digunakan anggota Hizbullah di seluruh Lebanon — meledak secara bersamaan dalam rentang beberapa menit. Ledakan itu menewaskan puluhan orang dan melukai ribuan lainnya, termasuk para komandan senior milisi yang telah bertahun-tahun bersembunyi di balik jaringan komunikasi terenkripsi. Tidak ada satu pun bom yang dijatuhkan dari pesawat. Tidak ada satu pun tentara yang menyeberangi perbatasan. Hanya serpihan logam dari dalam saku.
Operasi itu — yang belakangan diidentifikasi sebagai karya Mossad dengan dukungan logistik CIA — menandai evolusi dramatis dalam doktrin perang intelijen Israel. Selama puluhan tahun, Mossad telah melakukan pembunuhan terhadap ilmuwan nuklir Iran, menanam virus Stuxnet ke dalam sentrifugal pengayaan uranium Natanz pada 2010, dan mengirim agen-agen yang beroperasi jauh di dalam wilayah musuh. Namun operasi pager itu berbeda: ia bukan sekadar pembunuhan, melainkan demonstrasi kemampuan penetrasi yang mempermalukan seluruh jaringan proksi Iran secara sekaligus.
Penetrasi intelijen Israel terhadap Hizbullah ternyata jauh lebih dalam dari yang pernah dibayangkan Teheran. Badan keamanan Shin Bet dan Direktorat Siber Nasional Israel kemudian mengungkapkan — pada Februari 2026 — bahwa selama setahun sebelumnya mereka telah menggagalkan ratusan upaya serangan siber yang diatribusikan kepada intelijen Iran. Mayoritas berupa phishing tertarget dan pengambilalihan akun terhadap pejabat pemerintah senior, tokoh pertahanan, akademisi, dan jurnalis Israel. Hampir semuanya gagal.
Hizbullah Runtuh: Jantung Proksi Iran yang Dibekukan
Selama empat dekade, Hizbullah adalah mahkota kebanggaan strategi proksi Iran. Dibentuk pada 1982 dengan dukungan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sebagai respons atas invasi Israel ke Lebanon, Hizbullah berkembang menjadi kekuatan militer paling formidabel di kawasan — melampui tentara reguler banyak negara Arab. Iran mengalirkan miliaran dolar, ribuan roket, dan ratusan penasihat militer ke dalam tubuh organisasi itu.
Namun intervensi Hizbullah dalam perang Gaza, yang dimulai 8 Oktober 2023 dengan membuka front utara dari Lebanon, menjadi titik balik yang fatal. Israel merespons dengan kampanye militer yang menghancurkan. Sekjen Hizbullah Hassan Nasrallah — sosok yang oleh pemimpin Houthi Abdul Malik al-Houthi disebut sebagai mentor ideologis dan operasional — dibunuh dalam serangan udara Israel pada September 2024. Kehilangannya menciptakan gelombang paranoia di seluruh jaringan proksi Iran: jika Nasrallah bisa dieksekusi dengan presisi setinggi itu, berarti penetrasi intelijen Israel sudah mencapai lapisan paling dalam.
Paranoia itu tidak berlebihan. Para analis dari Belfer Center Harvard kemudian mendokumentasikan bagaimana infiltrasi Israel ke jaringan komunikasi Hizbullah memicu ketakutan serupa di jajaran Houthi di Yaman. Pasca kekalahan militer Hizbullah, Amerika Serikat dan Israel mengintensifkan penetrasi intelijen manusia dan pengawasan terhadap struktur Houthi — yang berujung pada pembunuhan sejumlah komandan senior dalam operasi yang menyerupai strategi dekapitasi Israel terhadap Hizbullah. Abdul Malik al-Houthi sendiri menghilang dari publik selama dua bulan pada akhir 2025, sebelum kembali muncul hanya melalui pernyataan online terbatas.
Dua Belas Hari yang Mengubah Segalanya
Pada 12 Juni 2025, badan energi atom internasional IAEA mengeluarkan laporan yang mengubah dinamika seluruh konflik: Iran telah mengayakan uranium yang cukup untuk memproduksi sembilan hulu ledak nuklir. Sehari setelahnya, Israel melancarkan Operation Rising Lion — serangan militer langsung terbesar yang pernah dilakukan Israel terhadap Iran. Dua ratus pesawat tempur menyerang lebih dari seratus target secara bersamaan. Dalam rentang jam, kepemimpinan militer tertinggi Iran — termasuk Kepala IRGC Hossein Salami, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Mohammed Bagheri, dan Komandan Angkatan Udara IRGC Amir Ali Hajizadeh — gugur.
Serangan ini merupakan kulminasi dari akumulasi tekanan intelijen dan militer selama bertahun-tahun. Selama berbulan-bulan sebelumnya, Presiden Trump yang baru kembali menjabat pada Januari 2025 telah berupaya menegosiasikan kesepakatan nuklir baru dengan Teheran. Namun ketika IAEA menyatakan Iran tidak patuh terhadap kewajiban nonproliferasi pada 12 Juni 2025, negosiasi runtuh. Israel menyerang keesokan harinya — sebelum jendela dua bulan yang ditetapkan Washington benar-benar habis.
Amerika Serikat masuk secara langsung pada 22 Juni 2025. Pembom siluman B-2 menjatuhkan bom penghancur bunker GBU-57 ke fasilitas nuklir bawah tanah Fordow — kemampuan yang tidak dimiliki Israel. Iran membalas dengan menyerang Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar, yang menampung ribuan tentara Amerika. Gencatan senjata diumumkan pada 24 Juni 2025 — dua belas hari yang kemudian diberi nama Twelve-Day War oleh Trump sendiri, merujuk kepada Perang Enam Hari 1967.
Namun gencatan senjata itu hanya jeda, bukan perdamaian.
Operasi Epic Fury: Dari Perang Proksi ke Pergantian Rezim
Januari 2026 membawa bab paling gelap rezim Teheran. Pasukan keamanan Iran membantai ribuan warga sipil dalam penumpasan unjuk rasa anti-pemerintah terbesar sejak Revolusi 1979. Trump merespons dengan membangun kekuatan militer Amerika terbesar di kawasan sejak invasi Irak 2003. Pada pidato State of the Union 24 Februari 2026, ia mengklaim Iran telah memulai kembali program nuklirnya dan tengah mengembangkan rudal yang mampu menjangkau wilayah Amerika Serikat.
Empat hari kemudian, pada 28 Februari 2026, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan kejutan yang diberi nama Operation Epic Fury. Sasaran utamanya bukan hanya instalasi militer, melainkan kepemimpinan Iran sendiri. Dalam serangan pembuka itu, Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei tewas — dekapitasi terhadap jantung teokratis Republik Islam Iran yang telah berkuasa selama tiga dekade lebih. Ini bukan lagi perang intelijen atau perang proksi. Ini adalah perang terbuka dengan agenda pergantian rezim.
Namun realitas di lapangan jauh lebih kompleks dari target yang tertulis di peta serangan. Putra Khamenei, Mojtaba Khamenei, tampil sebagai Pemimpin Tertinggi baru pada 12 Maret 2026. Dalam pernyataan publik pertamanya, ia menuntut penutupan semua pangkalan militer Amerika di Timur Tengah dan memperingatkan bahwa mereka akan menjadi sasaran. Rezim tidak runtuh. Ia terluka, tetapi bertahan.
Perang yang Melampaui Medan Tempur
Dimensi paling berbahaya dari konflik ini justru berlangsung di luar arena militer konvensional. Iran menutup Selat Hormuz setelah serangan nuklir Amerika pada Juni 2025 — sebuah langkah yang langsung menghantam rantai pasokan energi global. Sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia melintasi selat sempit itu. Penutupannya memicu lonjakan harga energi yang dirasakan hingga ke pompa bensin di Jakarta dan Mumbai.
Di medan siber, pertempuran berlangsung tanpa henti. Iran meningkatkan serangan terhadap infrastruktur digital Israel dan sekutunya sejak perang Juni 2025. Di sisi lain, Amerika Serikat diam-diam mengirimkan 6.000 kit internet satelit Starlink ke dalam Iran untuk membantu para disiden menembus sensor rezim — sebuah operasi pengaruh yang memadukan teknologi dengan geopolitik. Washington secara aktif mendukung oposisi internal Iran, menjadikan destabilisasi dari dalam sebagai komponen paralel dari kampanye militer dari luar.
Iran pun mencoba memperlebar front. Houthi melanjutkan serangan terhadap Israel dan kepentingan Amerika di kawasan. Milisi Syiah yang didukung Iran di Irak, yang dikenal sebagai Popular Mobilization Forces (PMF), menghadapi tekanan Amerika yang memaksa Teheran menarik pengaruhnya dari proses pembentukan kabinet Baghdad. Namun jaringan ini semakin terfragmentasi. Belfer Center mendeskripsikan apa yang terjadi sebagai proses degradasi struktural: dari proxy network yang kohesif, kini menuju fragmentasi yang tak terkendali.
Siapa yang Menang?
Pertanyaan itu mudah diucapkan, sulit dijawab. Analis dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) di Washington mencatat bahwa dalam satu minggu pertama sejak Operation Epic Fury dimulai, serangan rudal Iran turun 90 persen akibat pemboman dan penekanan Amerika-Israel. Amerika mengklaim menghancurkan lebih dari 90 persen armada laut Iran, menghancurkan peluncur rudal dan situs produksi senjata. Dalam kalkulasi militer konvensional, Amerika Serikat dan Israel unggul secara dramatis.
Tetapi kemenangan memiliki lebih dari satu wajah. Iran berhasil menutup Selat Hormuz, menciptakan kerusakan ekonomi yang melampau kapasitas militer manapun untuk dengan cepat memulihkannya. Rezim, meski kehilangan Khamenei dan banyak pimpinan seniornya, tetap berdiri. Sebuah rezim baru — lebih muda, lebih militeristik — telah mengambil alih. Dan pengetahuan nuklir Iran tidak ikut hancur bersama fasilitas fisiknya: para ilmuwan masih hidup, dokumen mungkin sudah disalin, keahlian tetap ada.
Georgetown Journal of International Affairs memperingatkan bahwa konflik ini mengonsumsi kapasitas strategis Amerika secara masif — sumber daya yang seharusnya juga menopang deterensi terhadap Rusia di Ukraina dan China di Selat Taiwan. Ketika Washington sibuk dengan Iran, kompetitor-kompetitor besar lainnya mengamati, menghitung, dan mempertimbangkan.
Empat puluh tahun perang bayangan antara Washington, Tel Aviv, dan Teheran telah bermetamorfosis menjadi sesuatu yang generasi sebelumnya berusaha keras untuk mencegah: konflik militer langsung dengan skala dan ambisi yang belum pernah ada sebelumnya di kawasan itu. Perang intelijen tidak berhenti — ia hanya menjadi salah satu lapis dari peperangan yang jauh lebih besar. Dan seperti semua perang besar dalam sejarah, tidak ada pihak yang benar-benar tahu ke mana ia akan berakhir.
Sumber referensi: Wikipedia (Iran–Israel Proxy Conflict; Twelve-Day War; 2026 Iran War); Belfer Center for Science and International Affairs, Harvard University; Center for Strategic and International Studies (CSIS); Georgetown Journal of International Affairs; Chinese Journal of International Review (World Scientific); US Department of State (Operation Epic Fury and International Law, 2026); Medium/Write A Catalyst (Syed Faizanul Haque, Maret 2026).