Ekonomi & Bisnis

Pempek Kebangsaan “Seorang Sahabat”

Published

on

MEMANG beda, bisnis yang digeluti dengan rasa kebangsaan dan bisnis yang digelindingkan pure business. Tengok saja dari pilihan nama. Anda pernah mendengar rumah makan Pempek Palembang dengan nama “Seorang Sahabat”?

Adalah Ir Susanto, MM si empunya resto Pempek Palembang Seorang Sahabat. Lelaki kelahiran Palembang tahun 1968 itu, mengisahkan, betapa dalam makna kata “sahabat”. “Intinya, ketika kita suka dan dia ada, belum tentu bisa dibilang sahabat. Akan tetapi, manakala dia ada saat kita terpuruk, itulah sahabat,” ujar Santo, panggilan akrabnya.

Lantas, apa kaitannya dengan rumah makan pempek? Kisahnya panjang. Sebagai Kétua Umum di Asosiasi Pengusaha Pemasok Pasar Modern Indonesia (AP3MI), ia pernah berurusan dengan pengusaha era rezim orde baru. Saat krisis moneter, bisnis dia dan anggota AP3MI lainnya mengalami guncangan hebat. “Saya harus ada buat para sahabat yang sama-sama menderita kerugian,” ujarnya.

Karenanya, ketika ia menggeluti bisnis pempek sebagai jangkar bagi laju bisnis yang dijalankannya, ia namai “Seorang Sahabat”. Sebagai wujud dedikasi atas nama yang disandang, ia pun menawarkan kemitraan. Masyarakat bisa secara berkelompok, minimal 20 orang, datang belajar membuat pempek. “Dengan biaya pelatihan dua ratus ribu, mereka bisa membawa hasil karya pempeknya,” katanya seraya menambahkan, “kami juga menawarkan paket kemitraan. Dengan enam juta rupiah, kami berikan paket lengkap, termasuk manajemennya.”

Tak heran, jika usaha yang dirintis tahun 2012 di Jalan Torompio JM 1 Kelapa Gading, Jakarta Utara ini sudah memiliki beberapa cabang, dan sejumlah mitra. Pempek Palembang Seorang Sahabat menyajikan tujuh macam pempek seperti kapal selam, lenjer, pastel, keriting, patat telor, adaan bulat kecil dan pempek kulit. Makanan lain yang disajikan adalah tekwan, model, pindang patin, pindang tulang iga, laksan, dan celimpangan.

Mengapa bisnis pempek? “Melestarikan budaya kuliner Nusantara. Itu motivasi utama saya. Jangan sampai kuliner Nusantara menjadi penonton di negeri sendiri. Kita harus siap bersaing dengan kuliner dari luar Indonesia,” ujar Susanto, yang aktif di GMNI, semasa kuliah dulu. ***

1 Comment

  1. Nanang

    March 22, 2017 at 12:48 am

    mantaf gan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Exit mobile version