PBSI dan PB Cakra Champ Bahas Masa Depan Bulutangkis, Kurikulum dan Pencarian Bakat Jadi Fokus

JAYAKARTA NEWS— Pemerataan pembinaan usia dini menjadi salah satu pekerjaan penting untuk menjaga tradisi juara bulutangkis Indonesia. Sekjen PBSI Ricky Achmad Soebagdja menyambut positif inisiatif PB Cakra Champ mengembangkan youth badminton development di seluruh Nusantara.

Indonesia memiliki wilayah yang luas sekaligus sumber daya atlet bulutangkis yang tersebar di berbagai daerah. Namun, potensi besar tersebut belum seluruhnya mendapatkan sentuhan pembinaan yang optimal.

Persoalan inilah yang menjadi salah satu perhatian Sekretaris Jenderal PBSI, Ricky Achmad Soebagdja, ketika menerima audiensi Pengurus Besar (PB) Cakra Champ di kantor PBSI, Cipayung, Jakarta Timur, medio Oktober 2026.

Ricky menyambut positif gagasan pengembangan youth badminton development yang dirancang menjangkau seluruh wilayah Indonesia.

“Kita bangsa besar. Banyak sekali bibit atlet bulutangkis yang tersebar di seluruh wilayah. Hanya saja, pembinaannya memang belum maksimal,” ujar Ricky.

Pertemuan tersebut juga menjadi ruang diskusi mengenai sejumlah persoalan teknis pembinaan. Ricky didampingi Arief Mizan dari Bidang Teknologi Informasi dan Riset & Pengembangan. Sementara PB Cakra Champ diwakili Ketua Roso Daras dan Pembina Rizki Yulian.

Standarisasi Kurikulum Jadi Kebutuhan

Dalam audiensi itu, Roso Daras menyampaikan perkembangan komunikasi sebelumnya dengan Ketua Umum PBSI, Mohammad Fadil Imran. Menindaklanjuti arahan Ketua Umum, Roso kemudian berdiskusi dengan Ricky untuk membahas sejumlah persoalan teknis.

Salah satu hal yang menjadi perhatian PB Cakra Champ adalah kebutuhan kurikulum dan silabus pelatihan yang terstandarisasi.

Dengan banyaknya tempat latihan yang dikelola di berbagai daerah, keseragaman pola pembinaan dinilai penting agar proses pengembangan atlet memiliki arah dan kualitas yang terukur.

“Salah satu concern kami adalah kurikulum dan silabus pelatihan. Karena PB Cakra Champ memiliki banyak tempat latihan di banyak daerah, diperlukan standarisasi kurikulum dan silabus. Karena itu kami mohon arahan dan rekomendasi direktur teknik terkait hal itu,” ujar Roso kepada Ricky Soebagdja.

Ricky mengungkapkan, PBSI saat ini juga tengah menyelesaikan kurikulum pelatihan. Karena itu, pembahasan yang disampaikan PB Cakra Champ dinilai sejalan dengan agenda yang sedang dikerjakan federasi.

“Jadi pas sekali ini momentumnya. Kita sedang membicarakan persoalan yang sama. Terkait sosok yang memenuhi kualifikasi sebagai direktur teknik atau pembinaan prestasi, nanti kami bahas terlebih dahulu bersama teman-teman, tentang siapa-siapa saja yang bisa kami rekomendasikan,” ujar peraih medali emas Olimpiade Atlanta 1996 itu.

Belajar dari Tradisi Klub Besar

Pembicaraan kemudian berkembang pada persoalan pembinaan atlet usia muda atau youth development. Sebab, keberhasilan menjaga prestasi bulutangkis tidak bisa dilepaskan dari sistem pembinaan yang terencana dan berkelanjutan.

Selama ini, tradisi pembinaan usia muda secara berjenjang relatif lebih kuat di klub-klub besar seperti Djarum, Jaya Raya, dan Exist. Klub-klub tersebut mampu mengembangkan pemain sejak usia dini hingga menembus prestasi nasional maupun internasional.

Kekuatan mereka tidak semata-mata terletak pada tradisi pembinaan yang sudah lama dibangun. Dari sisi manajemen, khususnya pengelolaan keuangan, klub-klub besar tersebut juga mampu menjaga kesinambungan program.

Mereka bahkan mengembangkan sistem kemitraan dan perekrutan pemain potensial dari klub-klub kecil yang tersebar di berbagai daerah.

Pola seperti ini menjadi salah satu gambaran bahwa pembinaan membutuhkan ekosistem yang kuat. Bukan hanya fasilitas latihan dan pelatih, melainkan juga manajemen serta jaringan kerja sama yang memungkinkan program berjalan dalam jangka panjang.

Bulutangkis dan Tradisi Panjang Para Juara

Bagi Indonesia, bulutangkis bukan sekadar cabang olahraga. Ada sejarah panjang, tradisi, dan kebanggaan nasional yang melekat di dalamnya.

Roso Daras mengingatkan bahwa tradisi juara bulutangkis Indonesia memiliki corak dan warna tersendiri. Perjalanan olahraga ini sudah hadir sejak era Hindia Belanda tahun 30-an, kemudian pembakuan istilah badminton menjadi bulutangkis pada era pendudukan Jepang, hingga pembentukan PBSI pada 1951 di Bandung.

Tidak mengherankan jika bulutangkis kemudian menjadi cabang olahraga terpopuler kedua di Indonesia setelah sepakbola.

Sejarah prestasinya pun dihiasi nama-nama besar. Mulai dari Tan Joe Hok, Rudi Hartono, Christian Hadinata, Liem Swie King, Icuk Sugiarto, Alan Budikusuma, Minarni, Imelda Wiguna, hingga Susi Susanti.

Mereka telah melekat sebagai “pahlawan bulutangkis” yang mengharumkan nama Merah Putih di panggung dunia.

Tradisi juara itu terus terukir hingga hari ini. Sebuah warisan yang niscaya akan terus hidup selama matahari masih terbit dari timur.

Talent Scouting hingga Sabang-Merauke

Dari perjalanan panjang tersebut, Ricky maupun Roso Daras sepakat bahwa pembinaan usia dini merupakan pilar terpenting untuk menjaga konsistensi prestasi bulutangkis Indonesia.

Karena itu, perluasan pencarian bakat menjadi bagian penting dari upaya memperkuat fondasi pembinaan nasional.

PB Cakra Champ memandang bahwa potensi atlet tidak boleh hanya dicari di pusat-pusat pembinaan yang sudah mapan. Talenta-talenta dari daerah juga harus mendapatkan kesempatan yang sama untuk ditemukan dan dikembangkan.

“Selama ini pembinaan usia dini sudah bagus. Yang kami lakukan dengan memperluas talent scouting dari Sabang sampai Merauke, dari Talaud sampai Rote, lebih kepada tekad pemerataan,” ujar Roso Daras.

Gagasan tersebut sejalan dengan perhatian PBSI terhadap potensi besar atlet muda di berbagai wilayah Indonesia. Sebab, semakin luas jangkauan pencarian bakat, semakin besar pula peluang menemukan calon-calon juara baru.

Pada akhirnya, menjaga kejayaan bulutangkis Indonesia bukan hanya soal mempertahankan prestasi yang sudah diraih. Lebih dari itu, diperlukan keberanian membangun pembinaan yang merata agar kesempatan menjadi juara terbuka bagi anak-anak muda dari seluruh penjuru Nusantara. (*)

Exit mobile version