Ekonomi & Bisnis
Pasokan Susu Dalam Negeri di Bawah 20 Persen Memprihatinkan
JAYAKARTA NEWS — Dewan Persusuan Nasional (DPN) berharap Presiden terpilih Prabowo Subianto akan memberi perhatian kepada peternak sapi perah rakyat dan Koperasi Susu. Karena pasokan susu dalam negeri masih di bawah 20 persen dari kebutuhan nasional sangat memprihatinkan.
“Kita berharap Presiden Terpilih Bapak Prabowo Subianto, yang pernah sebagai Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) akan memberikan atensi kepada peternak sapi perah rakyat dan Koperasi Susu,” ujar Ketua DPN Teguh Boediyana di Jakarta, Kamis (10/10/2024).
Saat ini, kata Teguh, kontribusi peternakan sapi perah rakyat dalam memenuhi kebutuhan susu nasional di bawah 20 persen adalah suatu yang memprihatinkan. DPN beserta para komponen pendukungnya sangat ingin ada perubahan sehingga peternakan sapi perah rakyat mendapat perhatian dari Pemerintah.
Selain itu, lanjut Teguh, petertenak sapi perah juga dapat perhatian dari pihak yang terkait agar dapat berperan serta berkontribusi dalam memberdayakan potensi di pedesaan serta memberikan multiplying effect utamanya di bidang perekonomian. Tentunya termasuk memberikan kesejahteraan bagi peternak sapi perah serta mengokohkan wadah koperasi susu.
Teguh menuturkan, tahun 1978 merupakan tonggak kemajuan usaha peternakan sapi perah rakyat dan koperasi susu di tanah air. Bermula ketika Bustanil Arifin diangkat Presiden Soeharto sebagai Menteri Muda Urusan Koperasi dan tetap merangkap sebagai Kepala Badan Usaha Logistik (Bulog).
Saat itu dibentuklah Tim Pengembangan Persusuan Nasional yang dipimpin Ir. Muslimin Nasution. “Langkah kebijakan pertama dari Pak Bustanil di awal tahun 1978 itu dan menjadi dasar yang kuat perkembangan peternakan sapi perah dan koperasi susu di Indonesia adalah suatu keberanian politik yang luar biasa yang beliau ambil,” ujar Teguh.
Langkah Bustanil tersebut “memaksa“ Industri Pengolahan Susu yang ada saat itu untuk menyerap susu yang dihasilkan para peternak sapi perah rakyat dengan harga Rp. 150,- – Rp. 180,- per liternya. Sebelumnya ada beberapa Industri Pengolahan Susu yang menyerap susu peternak dalam jumlah yang sangat kecil dan dengan harga Rp. 60,- per liternya.
“Kebijakan adanya kepastian pasar dan harga yang layak tersebut ternyata menjadi panacea dan dengan sangat cepat telah mampu menggerakkan peternak sapi perah rakyat bangkit,” ujar Teguh.
Dengan berbagai kebijakan yang sangat pro peternakan sapi perah rakyat dan koperasi yang diawali di tahun 1978 ini, primer koperasi susu dan KUD yang menangani persusuan pernah mencapai jumlah diatas 200 buah. Selain itu di tahun 1995 produksi susu segar dalam negeri mampu memenuhi sekitar 50 persen kebutuhan nasional.
Namun adanya krisis moneter yang terjadi di sekitar tahun 1997 disusul kebijakan International Monetry Fund (IMF) telah dimanfaatkan sementara pihak untuk menghapus payung hukum bagi pembinaan peternakan sapi perah dan persusuan di tanah air. Melalui Inpres no. 4 tahun 1998, Inpres No. 2 tahun 1985 dicabut dan tidak diberlakukan lagi.
“Saat ini perkembangan produksi susu segar relative stagnan di bawah 20 persen dari kebutuhan nasional. Jumlah Koperasi Primer susu juga menyurut dan saat ini tercatat tinggal 65 buah. Dari koperasi yang ada tersebut hanya beberapa yang mengelola susu segar dalam jumlah besar,” papar Teguh.
DPN dibentuk pada 9 Agustus 2007 di Solo dalam acara saresehan persusuan yang diselenggarakan oleh Departemen Pertanian (cq. Ditjen Pengolahan Hasil Pertanian) dan dihadliri Menteri Pertanian Anton Apriantono.
Terkait itu DPN memberikan gelar kepada Almarhum Letnan Jenderal TNI (Purn) Bustanil Arifin S.H sebagai Bapak Peternak Sapi Perah Rakyat dan Koperasi Susu karena kontribusinya yang besar bagi peternak sapi perah rakyat dan pesusuan nasional. Pemberian gelar itu tepat pada hari kelahiran Bustanil Arifin tanggal 10 Oktober.
“Gelar Bapak Peternak Sapi Perah Rakyat dan Koperasi Susu tidaklah sekedar sebagai penghargaan kepada jasa Pak Bustanil Arifin. Tetapi terkandung suatu harapan dapat menjadi factor pemicu atau stimulant bagi para peternak sapi perah rakyat dan juga insan koperasi untuk kembali bersemangat seperti yang terjadi di awal tahun 1978,” ujar Teguh. (yogi)