Kabar
Nyawa-nyawa Melayang di Jembatan “Gladak Perak”
Kisah Lain Seputar Erupsi Gunung Semeru
Gunung Semeru bisa jadi adalah gunung aktif yang paling sering “batuk”. Data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaporkan selama 2025 hingga hari ini, gunung di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang mengalami 2.802 kali letusan.
Hasil pengamatan visual per Rabu 20 November 2025 menyebutkan: “Semeru tertutup Kabut 0 – II. Asap kawah tidak teramati. Cuaca mendung, angin lemah ke arah utara, tenggara dan selatan”.
Letusan Gunungapi Semeru sempat menjadi sorotan di penghujung 2021. Saat itu, otoritas mencatat korban meninggal mencapai 51 jiwa dan lebih dari 10.000 orang mengungsi. Salah satu peristiwa besar adalah rusaknya jembatan legendaris Jembatan Gladak Perak.
Jembatan peninggalan Belanda (dibangun 1925 – 1940) itu adalah Jembatan Gladak Perak. Jemabtan ini menghubungkan wilayah Pasirian dengan Dampit, sekaligus menghubungkan dua kabupaten: Lumajang – Malang.
Letak jembatan Gladak Perak berada pada rangkaian jalur berliku yang sering disebut kawasan “piket nol”. Sejak dibangun hingga hari ini, teramat banyak cerita misteri yang menyelimuti jembatan “keramat” ini.
Ketika dibangun tahun 20-an, misalnya, terbetik kabar tentang banyaknya biaya yang keluar serta tak sedikit pekerja rodi yang meregang nyawa akibat kerja paksa. Dengan keterbatasan makanan dan obat-obatan, para pekerja pribumi dipaksa menyelesaikan pembangunan jembatan pada lokasi yang sangat curam.
Kemudian di erah revolusi perang mempertahankan kemerdekaan (1947 – 1949), para pejuang sempat merusak jembatan ini, dengan tujuan menghambat laju pasukan Sekutu yang diboncengi Nica (Belanda). Tak sedikit mereka yang gugur di sekitar jembatan Gladak Perak.
Tragedi 1965 juga menorehkan cerita kelam di jembatan Gladak Perak. Anak bangsa yang dituduh anggota PKI atau antek organisasi onderbow-nya, dibunuh dan dibuang ke sungai dari atas jembatan.
Kemudian tahun 1983 – 1985, saat marak pemberantasan preman yang dikenal dengan aksi “petrus” (penembakan misterius), lagi-lagi Jembatan Gladak Perak jadi saksi bisu. Banyak jazad preman atau bromocorah, dibuang ke sungai dari atas jembatan ini usai di-dor.
Besuk Kobo’an
Kerusakan jembatan akibat erupsi Gunung Semeru tahun 2021, tidak serta merta menghapus jejak sejarah Jembatan Gladak Perak. Sekalipun, pemerintah telah membangun kembali jembatan itu, dan mengganti namanya menjadi Jembatan Besuk Kobo’an.
Saat peresmian tahun 2023, masyarakat kaget dengan tulisan besar “Jembatan Besuk Kobo’an” terukir di sisi barat jembatan. Usut-punya-usut, nama itu mengacu pada nomenklatur proyek Kementerian PUPR.
Menjawab pertanyaan masyarakat, maka Pemeritah Kabupaten Lumajang membawa solusi, memasang papan nama Jembatan Gladak Perak di sisi timur. Jadilah jembatan misterius itu memiliki dua nama. Sekalipun begitu, sampai sekarang, masyarakat tetap menyebut jembatan itu Gladak Perak.
Nama yang sudah terpatri sejak jaman Belanda. Gladak artinya jembatan. Perak, mengacu pada warna keperakan yang digunakan untuk bangunan rangka jembatan.
Gladak Perak dan Gunung Semeru nyaris tak bisa dipisahkan. Sungai Besuk Sat yang melintas di bawahnya, adalah “jalur lahar” Gunung Semeru.
Ia akan tampak anggun dan cantik ketika cuaca cerah dan Semeru tidak sedang batuk. Bahkan banyak warga sekitar memanfaatkan area sekitar jembatan untuk rekreasi murah meriah. Sebaliknya, Gladak Perak akan tertutup kabut bahkan abu vulkanik saat Semeru erupsi. Dalam keadaan seperti itu, jembatan ini menampakkan kembali wajah angkernya.
Seperti yang hari-hari ini (akhir November 2025) terjadi. Banyak warga terdampak erupsi, terpapar abu vulkanik. Tidak sedikit di antara mereka yang mengungsi.
Sedangkan, yang hilir-mudik di area jembatan itu, kebanyakan kendaraan yang terkait dengan bencana. Misalnya, armada yang membawa bantuan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
BNPB dikabarkan sudah menyalurkan 300 matras, 300 terpal, 300 lembar selimut, masker medik sebanyak 300 boks, alat kebersihan, makanan siap saji, dan 1.000 paket sembako, dll.
Selain bantuan, personel BNPB membantu manajemen logistik, seperti penataan dan administrasi gudang di pos-pos lapangan yang berada di Pronojiwo dan Candipuro. Bantuan diprioritaskan kepada mereka yang harus mengungsi di pos-pos pengungsian, seperti yang tampak di SMP 02 Pronojiwo dengan 307 jiwa dan SDN 04 Supiturang 221 jiwa.
Dampak Erupsi
Berdasarkan data sementara hingga Minggu (23/11/2025), lokasi terdampak berada pada 3 desa di 2 kecamatan. Desa-desa terdampak yaitu Desa Supiturang dan Oro-Oro Ombo di Kecamatan Pronojiwo, dan Desa Penanggal di Kecamatan Candipuro.
Dampak korban jiwa terdapat 3 warga luka berat. Mereka telah dirujuk dan dirawat di RSUD Dr. Haryoto Lumajang. Sedangkan kerugian material terdiri dari rumah rusak berat 21 unit serta fasdik, faskes dan gardu PLN masing-masing rusak berat 1 unit. Selain itu, lahan pertanian seluas 204,63 ha rusak.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Lumajang telah menetapkan status tanggap darurat erupsi Gunung Semeru selama 7 hari, terhitung 19 – 25 November 2025. Status aktivitas vulkanik gunung ini berada pada level tertinggi atau level IV (Awas). (roso daras)