Entertainment
Nia: Angkat Budaya Minang
JAYAKARTA NEWS— Kisah nyata seorang pelajar wanita bernama Nia Kurnia Sari (14 tahun) yang dirudapaksa (diperkosa) dan dibunuh secara keji oleh residivis menjadi viral dan menggegerkan masyarakat.
September 2024, masyarakat Kayu Tanam, Padang Pariaman, Sumatera Barat marah atas perbuatan Andri, pengangguran dan pecandu narkoba yang membekap dan membunuh Nia, penjual gorengan kala hujan lebat di tengah hutan yang sunyi.
Tidak itu saja. Pria bejat itu lalu merudapaksa Nia dan jasadnya dikubur di pinggir sungai irigasi.
Tiga hari setelah kejadian, jasad Nia ditemukan.
Tak lama kemudian, pelakunya Andri berhasil ditangkap di sebuah rumah tua.
Mau dihakimi massa, tapi keburu diamankan polisi dan ditahan. Berdasar bukti otentik dan pengakuannya, Andri menjadi tersangka tunggal.
Menanti vonis jaksa di pengadilan, Andri diancam hukuman mati.
Peristiwa pilu dan getir ini difilmkan oleh sutradara Aditya Gumay dan Ronny Mepet berjudul ‘Nia’ yang akan beredar di bioskop 4 Desember 2025.
Kala digelar gala premier dan press screening di Epicentrum dan Plaza Senayan baru-baru ini sebanyak 8 studio, penonton full dan meneteskan air mata haru.
“Film ini mengangkat budaya Minang. Para diaspora orang Minang di rantau berjejal memenuhi bioskop. Kita harus dukung karya orang Minang ini,” kata Andre Rosiade, Ketua Ikatan Keluarga Minang (IKM) usai nonton.
Di bioskop di Padang, juga penonton membludak, tersentuh dan banjir air mata ketika dipreviewkan khusus.
Bahkan, Menbud Fadli Zon ikut main sebagai cameo dan Gubernur Sumbar juga terlibat sebagai special guest.
Sebagian penjualan tiket akan didonasikan untuk membangun Rumah Tahfizd Qur’an dan pesantren serta kegiatan sosial lain.
Syuting di Sumbar dan Bogor, produksi 786 Production dan PT Smaradana Pro ini benar-benar penuh kejadian unik.
“Kami tak memvisualkan adegan perkosaan guna menghormati ibu korban,” papar Aditya Gumay, pimpinan Sanggar Ananda yang dulu dikenal dengan Lenong Bocah.
Nia adalah gadis sholehah dan tulang punggung keluarga bagi ibu n saudaranya, kakak dan adiknya. Pacarnya yang sedang studi di mancanegara terkena penyakit jantung namun hubungan per telepon terus terjalin.
Diperankan oleh pendatang baru Shakira Humaira Ramadani yang masih berusia 18 tahun (di film berumur 14 tahun). Gesture dan pembawaannya menarik.
“Haruskah aku mati agar ayahku kembali” demikian teriak Nia dalam satu adegan mengharukan. Maklum, orang tuanya sudah lama bercerai.
Pemeran lain adalah Neno Warisman, Ida Leman, Qya Ditra, Zainal Chaniago, Adie Danoe, Aisyah Zahara, Vivi Misroyani (juga bertindak sebagai produser eksekutif), DR Fadli Zon, Helsi Herlinda dan sederet aktor lokal dan Sumbar yang bermain cemerlang dan elok.
Duka nestapa dan kekerasan terhadap perempuan pas divisualkan di film ini.
Diproduseri Ruben Onsu dan Nicky RW, ‘Nia’ dari awal sampai ending benar-benar menggiring penonton mengharu biru dan tersentuh.
Satu hal pasti. Aditya Gumay dan Ronny Mepet ‘naik kelas’ dan membawa rekam jejak menjanjikan. (pik)