Kolom
Ngobrol dengan Pohon Beringin
Gde Mahesa
Jayakarters, percaya tidak percaya sama saja. Kenapa ? Bukan apa-apa, karena tidak akan berpengaruh apa pun kepada yang percaya ataupun yang tidak.
Jika ditanya, tumbuhan di atas bumi ini, pohon apa yang terkandung energi mistis? Tentu jawabannya akan bervariasi, bisa sesuai pengalaman, atau image ilusi yang dibuat sendiri. Namun penulis meyakini bahwa apa yang ada di atas bumi ini bisa berkomunikasi. Hanya kita peka atau tidak, sebab saat penulis menjelajah ketempat yang jauh dari hinggar bingar menemukan pohon beringin tua yang nyaris sulurnya tertancap di tanah dan menjadi batang.
Penulis menikmati bentuk ujud beringin tersebut dalam keheningan, sehingga menemukan dialog yang mungkin menarik buat pembaca.
“Sang Maha Sepi”
Lihat pohon beringin tua,
Dia tidak pernah ceramah. Tapi semua makhluk belajar padanya.
Akarnya turun ke bumi mengajarkan “eling sangkan paraning dumadi”.
Ingat dari mana kita berasal.
Dahannya yang naik ke langit mengajarkan kita “manembah”. Selalu tunduk pada Sang Akarya Jagad.
Sulurnya jatuh turun kebawah mengajarkan kita “andhap asor”.
Semakin tinggi ilmu, semakin menunduk.
Akarnya kemana-mana tapi tetap satu pohon yang memberi pitutur “Bhinneka Tunggal Ika”. Beda-beda, tapi tetap seduluran.
Beringin tidak butuh pengakuan, tidak minta disembah.
Dia ada guna menjadi tempat teduh bagi yang kepanasan, jadi rumah bagi yang kedinginan.
Inilah “Sangkan Paraning Dumadi”
Hidup itu nggak usah ribut. Cukup jadi manfaat.
Pertanyaannya: Kita ini sudah jadi “beringin” buat siapa hari ini?
Atau jangan-jangan kita masih jadi “brahala wasangka” yang bikin gerah ?
Para leluhur kita dulu bilang: Beringin tua itu bukan kayu. Itu “paku bumi”.
Kalau bumi ini kasur, beringin ini pasak-nya. Biar nggak goyang waktu kita tidur.
Lihat akar yang gantung itu?
Itu bukan akar. Itu “tangga”. Tangga buat doa-doa kita naik ke langit.
Lihat batang yang melingkar itu?
Itu bukan lilitan. Itu “pelukan”.
Pelukan bumi untuk semua anak-anaknya yang capek.
Di bawah beringin ini, brahala luntur. Wasangka gugur. Yang tersisa cuma “rasa”.
Rasa yang sama waktu kita masih di kandungan Ibu Pertiwi.
Aman. Tentram. Disayang tanpa syarat.
Jadi kalau satu hari hati masih sumpek, coba peluk pohon.
Siapa tau yang kita peluk itu bukan pohon… tapi doa leluhur yang kangen anaknya pulang.
Kalau Beringin Bisa Ngomong”
Kata Beringin: ” Woy, aku wis 300 tahun berdiri disini. Kowe baru 40 tahun wis ngomyang koyo DPR.”
“Aku telah berdiri lama bukan karena kuat. Tapi karena aku tidak banyak prasangka.”
“Akarku menyebar, tapi tidak berebutan.
Dahanku menghadap keatas, namun tidak congkak.”
” Yang menghampiriku aku ayomi. Yang membuat ribut aku biarkan. Yang menebangku… Juga aku diamkan. Sebab dikemudian hari akan tumbuh kembali.”
“Menjadi manusia jangan kaku. Hiduplah bagai akarku. Jika mentok, mencari jalan lain. Nek putus, tumbuh kembali dengan lebih banyak.”
“Brahala itu bagai benalu. Menempel, menyedot, membuat kematian pelan-pelan. Maka singkirkan.”
Bullllll….. bullllll…. klepussss…..