Kolom

Negeri Para Penjilat…

Published

on

(hanya seulas kata dan sekejap fakta)

Episode Pertama

Ancaman terbesar satu negeri bukan pandemi virus atau bom nuklir, tapi tumor ganas bernama penjilat.

Begini kerja dan duduk soalnya ;

Dia akan meracuni akal sehat.
Dengan sanjungan palsu yang membutakan mata penguasa.

Kebijakan yang lahir bisa dari ilusi, bukan realita. Keputusan diambil demi sanjungan, bukan analisa.

Lalu membunuh meritokrasi.
Siapa yang naik bukan yang kompeten, tapi yang paling lihai melengkungkan tulang punggung.
Kinerja nyata tergilas roda bibir nan manis.

Juga akan merusak struktur organisasi.
Bikin pabrik keputusan jadi mandul. Tegasnya jadi impoten barang itu.

Kritisisme mati suri.
Yang tersisa hanya gema pujian kosong.
Loyalitas palsu ini menggerogoti fondasi kebijakan seperti rayap.

Kegawatannya adalah penghancuran moral.
Jiwa penjilat adalah jiwa yang hancur oleh kemunafikan, sementara yang jujur tersingkir atau ikut terdemoralisasi.

Inilah bom waktu sosial.
Ledakannya tak bersuara, tapi dampaknya mengikis bangsa dari dalam.

Lebih bahaya dari musuh terbuka, karena penjilat adalah virus oportunisme yang hidup dalam inang kekuasaan itu sendiri.

Sungguh jua sebuah malapetaka, maka berhati-hatilah.

Episoda Kedua

”Negeri Penjilat” di atas bukan untuk menyerang seseorang, pahamilah sebagai cermin untuk melihat wajahmu sendiri….

Karena dia merupakan hasil kutipan pikiran dari banyak orang berbudaya yang hatinya perih teriris.

Sebagian besarnya mengutip dari omongan ;

Taufiq Ismail
“malu aku jadi orang Indonesia”
“Mereka cium pantat atasan lupa rakyat kelaparan !”.

Mahbub Junaidi “Penjilat meracuni kedaulatan akal sehat !”.

Pramudya Ananta Tur “Penjilat adalah pelacur pikiran !
Mereka jual martabat demi secuil kuasa.

Gunawan Muhammad “Asal bapak senang adalah dosa intelektusl yang mengubur nurani”

W.S. Rendra
dalam Sajak Sebatang Lisong
menggugat:
Mereka menyembah berhala kuasa, lidahnya bercabang bagai ular.

Buya Hamka
tegas mengecam:
Penjilat adalah munafik intelektual ! Mereka korbankan kebenaran demi kursi empuk.

Sujiwo Tejo
menyindir satiris:
Di negeri ini, cium pantat lebih laris daripada kerja nyata. Sungguh penyakit akal budi !

Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) menggugat:
Penjilat adalah petualang jiwa ! Mereka menjual suara demi mangkok kuasa. Bangsa ini sakit karena lebih banyak pemuja daripada pemikir.

Sindhunata
menyindir:
Budaya ABS (Asal Bapak Senang) adalah pembunuhan karakter sistematis. Ia melahirkan generasi pengekor, bukan pemimpin.

Tom Lembong
Budaya menjilat (sucking up) bisa lebih rusak dari korupsi,

KH Mustofa Bisri (Gus Mus)
menusuk dengan sindiran sufistik:
Penjilat itu pemuja berhala modern! Mereka sujud pada kursi, bukan pada kebenaran…”

Dalam puisi “Lorong”, ia menggugat: Di istana-istana, nurani dikubur dalam puja-puji palsu.

Pun dalam “Khotbah” : Bila ketulusan mati, yang tumbuh subur cuma lidah-lidah penjilat.

Jadi itu bukan hasil mengarang bebas tapi hasil olah banyak pikiran(sayid)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Exit mobile version