Kolom

Merajut Kembali Batu yang Terserak: Diplomasi Candi di Balik Restorasi 224 Perwara Prambanan

Published

on

Oleh Heri Mulyono

Di bawah bayang tiga menara utamanya yang menjulang sejak abad kesembilan, Candi Prambanan menjadi saksi babak baru diplomasi budaya. Presiden Prabowo Subianto dan PM India Narendra Modi menyepakati restorasi 224 candi perwara, proyek konservasi lintas negara terbesar sepanjang sejarah situs.

Kompleks Prambanan tidak pernah benar-benar selesai dipugar sejak reruntuhannya ditemukan kembali oleh dunia modern hampir dua abad silam. Tiga candi utama yang menghadap ke barat—persembahan untuk Trimurti, Brahma, Wisnu, dan Siwa—memang telah berdiri gagah kembali setelah puluhan tahun kerja arkeologis. Namun di sekeliling mereka, empat baris candi pendamping yang disebut candi perwara sebagian besar masih berupa tumpukan batu andesit yang terserak, sisa kehancuran akibat gempa bumi, letusan gunung berapi, dan pergeseran kekuasaan politik yang melanda Jawa tengah berabad-abad lalu.

Sejarah panjang Prambanan sendiri adalah kisah pergantian kekuasaan dan kebangkitan kembali. Kompleks ini didirikan pada pertengahan abad kesembilan oleh Rakai Pikatan, penguasa dari Wangsa Sanjaya, sebagai jawaban megah atas Candi Borobudur yang dibangun beberapa dekade sebelumnya oleh Wangsa Sailendra yang beraliran Buddha. Prasasti Siwagrha yang berangka tahun 856 Masehi mencatat peresmian bangunan suci yang didedikasikan bagi Siwa ini, menjadikannya penanda kembalinya pengaruh Hindu di jantung kekuasaan Mataram Kuno setelah periode dominasi dinasti Buddha. Selama beberapa abad kemudian, pusat kekuasaan Jawa berangsur bergeser ke timur, dan Prambanan pun ditinggalkan, terkubur abu vulkanik serta runtuh akibat gempa bumi besar yang diduga melanda kawasan itu sekitar abad keenam belas.

Dunia modern baru mengenal kembali reruntuhan itu pada awal abad kesembilan belas, ketika sejumlah peneliti kolonial mendokumentasikan keberadaannya di tengah semak belukar. Upaya pemugaran sistematis pertama baru dimulai pada dekade 1930-an oleh arkeolog Belanda, dan candi utama Siwa—yang tertinggi di antara ketiganya—baru selesai direkonstruksi dan diresmikan pada 1953. Proses itu berlanjut perlahan sepanjang paruh kedua abad kedua puluh, sementara ratusan candi perwara di sekelilingnya tetap menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas, bahkan sempat mengalami kerusakan tambahan akibat gempa bumi Yogyakarta pada 2006 yang meruntuhkan sejumlah bagian struktur yang sudah dipugar.

Rabu, 8 Juli 2026, di kawasan Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Prabowo dan Modi berdiri berdampingan membuka plakat bertuliskan Indonesia-India Collaborative Cultural Heritage Conservation. Momen itu menandai dimulainya program restorasi berjangka sepuluh tahun, dari 2026 hingga 2036, yang akan menyasar 224 candi perwara di kompleks tersebut. Dari jumlah itu, baru enam yang telah dipugar secara utuh sejak revitalisasi bertahap dimulai puluhan tahun lalu. Sebanyak 218 candi lainnya masih menanti giliran, sebagian besar berupa reruntuhan yang belum tersentuh.

Kesepakatan ini dituangkan dalam Letter of Intent for the Conservation and Restoration of Prambanan Temple Complex, salah satu dari enam belas dokumen kerja sama yang diteken dalam rangkaian kunjungan kenegaraan Modi ke Indonesia. Program ini akan dijalankan bersama oleh Indonesian Heritage Agency dan Archaeological Survey of India, lembaga yang selama puluhan tahun menangani ribuan situs purbakala di anak benua India, mulai dari kuil-kuil Khajuraho hingga kompleks candi Angkor-era di Kamboja melalui kerja sama internasional serupa.

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon, yang mendampingi Prabowo sepanjang kunjungan, menjelaskan bahwa ketertarikan Modi terhadap Prambanan bukan hal baru. Menurutnya, gagasan kolaborasi ini pertama kali disampaikan Modi secara langsung sekitar satu setengah tahun sebelum kunjungan kenegaraan berlangsung. Ketertarikan itu, kata Fadli, tumbuh dari kesadaran bahwa Prambanan adalah kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia dan salah satu mahakarya arsitektur Hindu di Asia Tenggara.

“Ada seperempat bagian dari Candi Prambanan yang memang namanya perwara, candi-candi kecilnya itu belum kita revitalisasi,” ujar Fadli di hadapan wartawan di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta menjelang kunjungan ke Yogyakarta. Ia menambahkan bahwa dari sekitar dua ratusan lebih candi perwara yang ada, pemerintah Indonesia sejauh ini baru merampungkan pemugaran enam di antaranya, sementara tiga candi utama telah tuntas direstorasi sepenuhnya.

Keterbatasan itu bukan semata soal anggaran, meski Fadli mengakui kebutuhan dana untuk merampungkan revitalisasi ratusan candi kecil itu cukup besar dan hingga kini belum dihitung secara pasti. Tantangan yang lebih mendasar adalah kompleksitas ilmiah pemugaran itu sendiri. Ribuan blok batu andesit asli, sisa struktur candi berusia lebih dari seribu tahun, kini tersebar, tertimbun, atau bercampur di berbagai titik kawasan. Metode dokumentasi yang terbatas pada era pemugaran awal, ditambah tercampurnya batu-batu dari struktur candi yang berbeda serta hilangnya sejumlah komponen asli, membuat proses rekonstruksi menjadi pekerjaan detektif arkeologis yang rumit.

Di sinilah pengalaman India dipandang relevan. Archaeological Survey of India memiliki rekam jejak panjang dalam konservasi kuil-kuil Hindu kuno dengan tantangan struktural serupa. Fadli menilai keahlian tersebut dapat mempercepat proses revitalisasi Prambanan. “Dengan expertise juga dari mereka terhadap candi Hindu, saya kira ini akan membantu kita untuk mempercepat proses revitalisasi,” katanya.

Tahap pertama program konservasi, sebagaimana dipaparkan dalam keterangan resmi Kementerian Kebudayaan, akan difokuskan pada 54 candi perwara di kuadran timur laut kompleks Prambanan. Kawasan ini dipilih sebagai model percontohan bagi tahapan konservasi berikutnya, dengan tetap mengutamakan standar ilmiah, prinsip keaslian, dan integritas Prambanan sebagai situs Warisan Dunia UNESCO—status yang disandang kompleks ini sejak 1991.

Pendekatan yang digunakan mengandalkan teknologi mutakhir. Tim gabungan kedua negara akan memanfaatkan survei LiDAR untuk memetakan struktur candi secara presisi, dokumentasi digital dan fotogrametri untuk merekam kondisi setiap reruntuhan, rekonstruksi berbasis kecerdasan buatan untuk membantu menyusun kembali pola asli bangunan dari serakan batu yang tercampur, serta metode anastilosis—teknik pemugaran klasik yang menyusun kembali struktur dari komponen aslinya sejauh masih memungkinkan, alih-alih mengganti dengan material baru. Program ini juga mencakup penelitian arkeologi, kajian struktur, hidrologi, dan geoteknik, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui pertukaran keahlian antar-arkeolog kedua bangsa.

Bagi Modi, kunjungan ke Prambanan membawa muatan emosional tersendiri. Dalam sambutannya di kompleks candi, ia menyebut suasana di sana mengingatkannya pada nuansa budaya dan spiritual yang juga ia rasakan di India. Modi mengaku sempat mendengar lantunan Maha Mrityunjaya Mantra dan ucapan “Om Namah Shivaya” saat berada di kawasan tersebut, sebuah pengalaman yang menurutnya menegaskan kedekatan spiritual antara dua bangsa meski terpisah lautan.

“Ini adalah tempat yang menampilkan warisan budaya bersama antara kedua negara kita,” kata Modi. “Saya juga sangat beruntung bersama sahabat saya untuk memulai proses restorasi kompleks candi yang megah ini.” Ia menyebut kekayaan budaya Indonesia mengingatkannya pada warisan yang dimiliki India, dan menilai kesamaan itu telah menjadi perekat hubungan kedua bangsa selama lebih dari 1.200 tahun.

Modi bahkan menyampaikan komitmen pribadi untuk menuntaskan seluruh program restorasi sebelum tahun 2029, jauh lebih cepat dari target sepuluh tahun yang direncanakan. Ia berjanji akan kembali berkunjung ke Indonesia untuk meresmikan kompleks candi begitu proses restorasi rampung. “Di hadapan Anda semua, izinkan saya menegaskan kembali janji saya. Kita akan menyelesaikan pekerjaan ini sebelum tahun 2029, dan bersama-sama kita akan merayakan restorasi dan peresmiannya sebagai sebuah festival besar,” ujarnya.

Prabowo, dalam sambutan yang mengiringi peresmian, menegaskan bahwa kerja sama ini memiliki makna yang melampaui urusan teknis pemugaran batu candi. Ia menyebut Prambanan bukan hanya warisan budaya Indonesia, melainkan juga simbol hubungan panjang kedua negara yang telah terjalin lebih dari seribu tahun. “Pada kesempatan yang berbahagia ini, saya menyambut baik kesepakatan konservasi dan restorasi Kompleks Candi Prambanan antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik India,” katanya. Ia menambahkan bahwa hubungan kedua negara tidak hanya dibangun melalui kerja sama politik, ekonomi, dan pertahanan, tetapi juga memiliki akar sejarah yang kuat dalam bidang kebudayaan dan ilmu pengetahuan.

Jejak hubungan itu sesungguhnya sudah terpahat di dinding-dinding Prambanan sendiri. Relief Ramayana dan Krishnayana yang mengelilingi candi utama menjadi bukti nyata pertukaran gagasan, pengetahuan, dan tradisi keagamaan antara Nusantara dan anak benua India yang telah berlangsung sejak berabad-abad silam, jauh sebelum kompleks ini dibangun oleh Wangsa Sanjaya pada pertengahan abad kesembilan. Arsitektur candi pun mengadopsi prinsip Vastu Shastra, sistem tata ruang dan proporsi bangunan khas peradaban India kuno yang mengatur orientasi, denah, dan hierarki ruang suci. Kesamaan prinsip arsitektural ini, menurut sejumlah pemaparan resmi dalam kunjungan tersebut, memperkuat argumen bahwa Prambanan adalah manifestasi arsitektural dari pertukaran peradaban yang jauh lebih tua daripada relasi diplomatik modern kedua negara.

Momentum kunjungan ini juga diwarnai penetapan tahun 2026-2027 sebagai Tahun Tagore-Dewantara, penghormatan atas pertemuan bersejarah antara filsuf dan sastrawan India Rabindranath Tagore dengan Ki Hajar Dewantara pada 1927, pertemuan yang memicu pertukaran nilai-nilai pendidikan antara Timur dan pemikiran kebangsaan Indonesia. Prabowo menyebut inisiatif itu, bersama kerja sama restorasi Prambanan, mencerminkan ikatan peradaban yang telah lama terjalin antara kedua bangsa, jauh melampaui hubungan bilateral konvensional antarpemerintah.

Kerja sama pelestarian Prambanan sendiri hanyalah satu dari enam belas dokumen yang disepakati dalam rangkaian kunjungan kenegaraan Modi. Kedua negara turut memperluas kemitraan di sektor pertahanan, kesehatan, telekomunikasi, pertanian, mineral kritis, pendidikan, serta riset dan inovasi, sebagai bagian dari penguatan Kemitraan Strategis Komprehensif Indonesia-India. Namun di antara belasan kesepakatan itu, restorasi Prambanan tampil menonjol karena sifatnya yang simbolis sekaligus konkret—sebuah proyek yang bisa disaksikan wujudnya, batu demi batu, selama satu dekade ke depan.

Dampak ekonomi dari kerja sama ini juga menjadi perhatian pengelola pariwisata. Direktur Utama InJourney Maya Watono menyebut langkah restorasi ini sebagai bagian penting dari upaya memperkuat posisi Indonesia sebagai destinasi wisata budaya berkelas dunia. Sementara itu, Direktur Utama InJourney Destination Management Febrina Intan menekankan bahwa kawasan Prambanan kini tidak lagi diposisikan semata sebagai objek wisata, melainkan juga sebagai ruang spiritual, edukasi, dan diplomasi budaya internasional. Sejak 2022, kawasan ini pun telah ditetapkan sebagai salah satu pusat ibadah umat Hindu di Indonesia.

Setiap tahun, Candi Prambanan menarik sekitar 2,4 juta wisatawan domestik dan mancanegara, menjadikannya salah satu ikon pariwisata nasional sekaligus motor penggerak ekonomi di kawasan Sleman dan sekitarnya. Modi sendiri meyakini bahwa rampungnya proses restorasi akan mendorong lonjakan kunjungan wisatawan dan peziarah dari India secara signifikan. “Saya dapat meyakinkan Anda, setelah upaya bersama kita dalam renovasi, jumlah wisatawan dan umat dari India akan tumbuh secara eksponensial di masa mendatang,” ujarnya.

Bagi Indonesia, pengalaman merevitalisasi situs cagar budaya bukan hal baru. Fadli Zon menyebut negara ini telah memiliki rekam jejak dalam memugar sejumlah candi lain di kawasan Jawa Tengah dan Yogyakarta, seperti Candi Plaosan, Candi Sewu, dan Candi Mendut. Namun ia mengakui Prambanan menghadirkan tingkat kompleksitas yang jauh lebih tinggi, mengingat statusnya sebagai salah satu kompleks candi Hindu terbesar di dunia dengan ratusan candi pendamping yang belum seluruhnya terpugar. Tim teknis dari kedua negara, menurut Fadli, telah menggelar pertemuan awal untuk membahas rincian kerja sama dan dijadwalkan bertemu kembali dalam waktu dekat guna mematangkan kajian konservasi lebih lanjut.

Para sejarawan kerap mengingatkan bahwa hubungan Nusantara dan anak benua India bukan dimulai dari kunjungan kenegaraan abad kedua puluh satu ini. Jauh sebelum kapal-kapal dagang Eropa memasuki perairan Nusantara, pelaut dan pedagang dari pesisir timur India telah menjalin kontak dengan kerajaan-kerajaan di Jawa dan Sumatra, membawa serta aksara, sistem kepercayaan, hukum, dan konsep kenegaraan yang kemudian diserap dan diolah ulang oleh masyarakat lokal menjadi sesuatu yang khas Nusantara. Prambanan, dengan segala kemegahannya, bukan tiruan dari kuil-kuil India, melainkan hasil pergumulan kreatif antara gagasan yang datang dari luar dan cita rasa arsitektural setempat—sebuah proses akulturasi yang oleh sejumlah sejarawan disebut sebagai lokalisasi genius, bukan sekadar penjiplakan.

Di balik seremoni pembukaan plakat dan pidato-pidato kenegaraan, pekerjaan sesungguhnya baru akan dimulai: menyusun kembali ratusan candi kecil dari tumpukan batu yang telah terserak selama berabad-abad, satu blok andesit demi satu blok andesit, dengan presisi ilmiah dan kesabaran yang menyerupai kesabaran para leluhur yang membangunnya pertama kali pada abad kesembilan. Jika target Modi tercapai, sebelum 2029 dunia akan menyaksikan wajah baru Prambanan—bukan sekadar tiga candi utama yang menjulang gagah, melainkan kompleks penuh dengan ratusan candi perwara yang mengelilinginya, utuh seperti rancangan awalnya lebih dari seribu seratus tahun lalu.

Restorasi ini, pada akhirnya, adalah kisah tentang bagaimana dua bangsa yang dipisahkan oleh Samudra Hindia namun disatukan oleh arus peradaban yang sama, memilih untuk merawat warisan bersama itu bukan sebagai monumen mati, melainkan sebagai jembatan hidup yang terus dilalui bolak-balik oleh gagasan, keyakinan, dan persahabatan—sebagaimana ia telah dilalui sejak lebih dari seribu tahun silam. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Exit mobile version