Sungguh memprihatinkan dan meruapkan kecemasan masal, jika benar penelitian Pusat Riset Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) memperkirakan terdapat 3.560 kematian akibat polusi asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Indonesia pada September 2026.
Meski Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan bahwa angka 3.560 nyawa terenggut dalam tragedi kebakaran hutan itu, penelitian yang belum terverifikasi dengan menggunakan metode pemodelan paparan polutan jangka pendek, yang bukan kematian klinis tercatat langsung sejak 2025, tetapi ancaman nyata ini membuat seniman Enda Ginting gusar.
Total Kematian Terkait Karhutla: 3.560 jiwa (meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan estimasi Agustus 2026 yang sebesar 1.700 jiwa, Enda (35th), berteriak dalam karyanya The Earth is Red?
Karya ekspresif namun menguarkan visualisasi puitik ini, bemedium watercolor, tahun 2025 semacam sebuah getaran rasa dahsyat yang tak hanya dirasa Enda, tetapi kegundahan kolektif yang menyasar masyarakat urban Jakarta yang tidak terpapar langsung tragedi kebakaran di Kalimantan.
Jika sekitar 57,8 juta penduduk Indonesia terpapar kualitas udara tidak sehat akibat Karhutla dan polusi perkotaan pada penelitian CREA, di sela-sela ajang StartMoments, yakni eksibisi ruang kreatifitas seni, fesyen, desain, serta gaya hidup yang menampilkan 70 Galeri dari enam negara yang dihelat pada 5–8 November 2026, karya yang kuat Enda Ginting menohok kesadaran kita.
“Saya merasa ada yang sangat kontekstual dan adanya urgensi artistik untuk disampaikan tentang kerusakan ekologi kita. Yakni tentang bencana tragedi kemanusiaan kebakaran hutan, yang telah menghilangkan nyawa sebagian manusia”, katanya meyakinkan saat wawancara dengan penulis.
Di ajang ajang kreatif Startmoments itu, yang dihelat sampai 8 November ini, Enda Ginting menggunakan kekuatan ekspresi visualnya berupa lukisan water color, yang membeda dari 130 seniman dan 68 eksibitor pameran.
Enda menekankan dibalik itikad pembuatan karyanya yang menggambarkan warna langit kuning, dataran bawah merah, serta cakrawala sebuah lansekap merembeskan kegundahan keprihatinnan pada sejumlah bayi-bayi yang baru lahir terenggut nyawanya.
Penulis, tatkala berkunjung ke ajang eksibisi unik ini, merasakan bahwa timbulnya kesadaran sangat mendesak dan mendalam tatkala seniman tak terlelakkan. Yakni, yangmembuat penulis yakin bahwa karya-karya kombinasi kepedulian seperti fesyen, seni rupa bahkan arsitektur dan desain interior yang berkonsentrasi pada materi karya, pesan-pesan pada publik dan keterhubungan dengan komunitas yang peduli pada lingkungan hidup makin marak.
Karya Enda Ginting bisa mewakili keresahan masyarakat urban, yang dalam lima belas tahun terakhir ini, sungguh diikhtiarkan menyampaikan pesan secara terbuka bahwa hakikatnya para desainer, kreator fesyen sampai para perupa di ajang seni kontemporer mampu memantik harap pada perlindungan ekologi.
Penulis sempat menyambangi tekad Enda tentang kepedulian lingkungan yang dipresentasikan di dua lokasi eksibitor, yakni Indonesian Watercolor Society dan Zen1 Gallery yang melebur dalam suasana perkantoran di Ciputra World 2, Jakarta.
Marilah kita tengok, apa yang hendak dikabarkan pesan-pesan di karyanya Enda Ginting yang lain di Zen1 Gallery di ajang eksibisi yang sama, yakni berjuluk: My good side, Tunnel vision, Happy Hours dan Loose Ends yang terbuat dan berukuran kanvas-kertas dari 38x28cm, water color on paper.
Enda membuat quadriptych, 4 panel/bagian yang terhubung atau berjajar, seperti karya yang berdialog satu dan lainnya membangun narasi tertentu pada lokasi tersebut.
Itikad yang baik, dengan memberi pesan kegundahan atas kepedulian lingkungan hidup, memberi visi utama kebaikan (my good side) semacam uptya membaca terowongan harapan (tunnel vision), dan yang tak terikat ketat (loose end) serta keluwesan pergerakan akan membuat akhirnya, merasakan saat-saat waktu membahagiakan (happy hours).
Dari amatan penulis, rangkaian empat karya milik Endan dengan ilustrasi sosok perempuan yang mungkin dia sendiri dengan warna-warna sephia, ochre sampai temaramnya coklat tua juga sabetan brush stroke hitam adalah dialog diri yang bergerak.
Dalam artian, memberi makna khusus, tidak hanya penampakan visual karya namun cara ia meletakkan (display) berajajar, pilihan sosok ilustrasi manusia, serta perspektif penempatan miring tertentu di dinding menyembulkan tafsiran-tafsiran yang kaya .
Enda seolah menggumam, bahwa jarak yang memisahkan dari rembesan tuturan ekspresif cat airnya merupakan untaian gejolak diam untuk berkata, “saat tiba waktu berbenah dan berbuat untuk kondisi ekologi kita, lansekap hutan terbakar mencemaskan kita semua!”.
Penggagas platform Workplace Art Fair Startmoments, Sendy Widjaja yang dalam pernyataan di depan jurnalis mengatakan topik Offerings pada eksibisi ini, bisa ditafsirkan secara bebas bahwa menyingkap ikhtiar bahwa seni seni adalah semata ruang-ruang koneksi kekayaan imajinasi bagi pekerja kreatif untuk memperkenalkan karya mereka pada publik.
Bagi penulis, Offerings adalah persembahan mendalam dalam hati-nurani para seniman, ilustrator, serta berbagai bentuk ekspresi lain selayaknya desain dan bahkan arsitektur memang dekat dengan ikatan kolektif bahwa kehidupan keseharian semata meningkatkan kesadaran utuh bahwa kreatifitas adalah juga membaca nasib kebangsaan; selain pengalaman keseharian sangat personal.
Pesan menohok Enda Ginting, mengingatkan pada cover koran The New York Times 15 Oktober 2026, karya seniman asal Jepang Sho Shibuya yang menggambarkan tebalnya kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan berjuluk: Indonesia.
Bgi Endang, yang menimbang bahwa karyanya dibuat tahun 2025, ia memberi argumentasi jelas warna kuning dan merah sebagai perwakilan tanah gambut dan rawa-rawa yang menyulitkan pemadaman kebakaran yang acapkali terjadi di Kalimantan. Selain kelir kuning, simbol asap beracun jauh sebelum karya senman Jepang itu membuat laporan investigasi jurnalis-jurnalis The New York Times di Kalimantan.
Bagaimanapun, sebuah bencana seperti Karhutla dan kebakaran hebat tak hanya terjadi sebab iklim ekstrim seperti datangnya El Nino, namun namun juga kesembronoan pembakaran hutan yang sengaja dilakukan oleh koprporasi pemegang konsesi hak hutan produktif (man made disaster).
Dilema ini, yang menimbulkan keniscayaan korban jiwa dan berbulan-bulan warga penderitaan warga lokal yang Enda di ajang pameran tersebut berujar pesan lewat lukisannya:
Kita semua, memang terhubung tidak pada konteks lokal kebakaran hutan yang terjadi pada hutan Indonesia saja, namun kesadaran global, generasi muda melihat secara cermat apa yang terjadi di Indonesia bahwa ancaman krisis iklim dan eksistensi hutan tropis dan gambut, serta bumi yang tak terawat adalah refleksi atas rumah kaca yang nyata, hutan Kecemasan umat manusia.
Bambang Asrini, penulis seni.
