Oleh: Heri Mulyono
Di Paris, jarum dan benang Minangkabau berubah menjadi bunyi. Di Yogyakarta, yayasan yang menaungi Biennale Jogja memutuskan berhenti beroperasi sebagai institusi seni. Dua kabar ini datang berdekatan, dan saling menjelaskan.
Bayangkan selembar kain sulaman yang bisa berbicara. Setiap kali jarum menembus kain dan benang ditarik, terdengar bunyi. Gerakan tangan yang biasanya sunyi berubah menjadi nada, dan nada-nada itu menyatu menjadi komposisi musik. Itulah yang ditawarkan sebuah karya seni dari Indonesia di Paris, Prancis, pada pengujung Oktober ini.
Karya itu hanyalah satu bab dari kisah yang lebih besar, yakni kehadiran Biennale Jogja di ajang seni Asia NOW Paris 2026. Namun, ketika kita menengok ke rumah asalnya, ceritanya menjadi lebih rumit. Tak lama sebelum pameran dibuka, muncul kabar bahwa Yayasan Biennale Yogyakarta, lembaga yang selama bertahun-tahun mengurus Biennale Jogja, memutuskan mengakhiri operasionalnya sebagai institusi seni. Dari kontras inilah tulisan ini berangkat: apa artinya membawa seni Indonesia ke panggung dunia ketika penopangnya di dalam negeri sedang goyah?
Ajang Besar di Paris
Asia NOW adalah ajang seni kontemporer yang memperkenalkan karya dan seniman dari Asia kepada publik Eropa. Tahun ini ia memasuki edisi ke-12 dan berlangsung pada 20–24 Oktober di Monnaie de Paris. Skalanya tidak kecil. Lebih dari 200 seniman dari berbagai negara tampil lewat sekitar 60 galeri, institusi, dan yayasan swasta. Bagi seniman, ajang semacam ini ibarat etalase besar, tempat karya mereka bisa dilihat orang-orang yang mungkin belum pernah mendengar nama mereka.
Di tengah keramaian itu, Biennale Jogja hadir lewat proyek bernama Vessels of Memory, yang kira-kira berarti “bejana ingatan”. Biennale Jogja sendiri adalah pameran seni rupa internasional yang digelar dua tahun sekali dan telah berlangsung sejak 1988. Di Paris, mereka membawa pengalaman dan cara pandang yang tumbuh dari seni dan kebudayaan Indonesia ke dalam percakapan seni kontemporer dunia. Para senimannya berlatar beragam, tetapi sama-sama terhubung lewat keterlibatan mereka dalam berbagai kegiatan Biennale Jogja.
Proyek ini dikuratori Alia Swastika, pendiri sekaligus direktur Biennale Jogja yang juga kurator, peneliti, dan penulis seni. Kurator adalah orang yang memilih karya, lalu merangkainya menjadi satu cerita besar. Benang merah yang dipilih Alia adalah ingatan. Namun, ingatan di sini bukan sekadar kenangan yang tersimpan rapi di masa lalu, seperti foto di album lama. Ingatan dipahami sebagai pengetahuan yang terus hidup: ia tinggal di dalam bahan, tubuh, keterampilan, dan pengalaman sehari-hari masyarakat. Cara tangan seorang perajin bergerak, misalnya, adalah ingatan yang diwariskan tanpa perlu ditulis dalam buku.
Ketika Sulaman Bersuara
Contoh paling terang dari gagasan itu datang dari Rani Jambak. Ia lahir di Medan dan berdarah Minangkabau. Label yang melekat padanya panjang: komposer, produser, vokalis, perancang instrumen, sekaligus seniman bunyi. Praktik seninya menjelajahi hubungan antara suara, lingkungan, identitas budaya, dan warisan leluhur. Pada 2022, ia menerima The Oram Awards di Inggris atas inovasinya dalam bidang bunyi, musik, dan teknologi.
Di Paris, Rani menghadirkan Pamedangan, sebuah instalasi multimedia interaktif. Istilah itu terdengar rumit, tetapi maknanya sederhana: karya yang memadukan beberapa medium, dalam hal ini kain, bunyi, dan teknologi, dan bisa ditanggapi langsung oleh pengunjung. Pamedangan berangkat dari tradisi sulaman Minangkabau. Dengan bantuan sensor elektronik, gerakan jarum dan benang diterjemahkan menjadi bunyi. Menyulam tidak lagi hanya menghasilkan motif yang bisa dilihat, tetapi juga menjadi bagian dari komposisi musik yang melibatkan partisipasi pengunjung. Karya ini turut menampilkan sulaman Uni Essy Hariya.
Foto dokumentasi memperlihatkan wujudnya. Lembar-lembar kain bersulam tergantung di dinding putih, sebagian terpasang pada bingkai kayu kecil dengan benang kuning dan merah yang membentuk kuntum bunga. Di lantai, di atas kain oranye, tampak kabel dan sebuah laptop, jeroan teknologi yang membuat benang bisa bersuara. Seorang perempuan duduk di dekatnya, seolah siap menyulam kapan saja.
Rani menjelaskan gagasannya dengan lugas.
“Bagi saya, menyulam itu bukan hanya soal benang, jarum, atau motif yang dihasilkan. Ada pengetahuan dan ingatan yang hidup di dalam gerakan tangan, dalam proses belajar dari generasi ke generasi. Melalui Pamedangan, saya ingin membawa pengetahuan itu ke ruang yang berbeda, agar orang tidak hanya melihat sulaman, tetapi juga bisa mendengarkan dan mengalami cerita yang tersimpan di dalamnya,” ujar Rani.
Dari sudut pandang kritik seni, rancangan ini menarik justru karena ia menghindari jebakan yang sering menjerat karya berbasis teknologi. Banyak karya semacam itu berakhir sebagai pamer gawai: penonton terkesima oleh kecanggihannya, lalu lupa pada apa yang hendak disampaikan. Dari keterangan yang tersedia, Pamedangan tampak berusaha membalik urutan itu. Teknologi tidak dimaksudkan untuk menggantikan tradisi, melainkan membuka cara lain untuk mengalaminya. Pengetahuan yang biasanya hadir lewat keterampilan tangan kini bisa dijelajahi lewat bunyi dan interaksi. Tradisi tidak berhenti sebagai warisan yang dipertontonkan di balik kaca, tetapi menjadi sumber penciptaan yang terus berkembang.
Sulaman Minangkabau tidak diperlakukan sebagai kenangan yang dibekukan. Ia diperlakukan sebagai bahasa yang masih bisa dipakai untuk bercerita pada zaman sensor elektronik.
Ingatan yang Tak Selalu Manis
Jika Rani menunjukkan sisi lembut dari ingatan, seniman lain dalam proyek ini mengingatkan bahwa ingatan tidak selalu manis. Dicky Takndare, seniman dari Papua, lewat karya The Tower of Abandoned Voices menyoroti ingatan tentang kekerasan dan konflik yang kerap terpinggirkan. Judulnya saja sudah memuat gambaran yang kuat: menara berisi suara-suara yang ditinggalkan. Ada kisah yang jarang didengar, dan karya ini mencoba memberinya tempat.
Satu karya yang terekam kamera berdiri di halaman berbatu sebuah bangunan tua berjendela terali. Bentuknya mirip tiang totem. Di bagian bawah, wajah berwarna merah bata dengan kain putih di leher, tubuhnya terbungkus kain bermotif mata dan spiral. Di atasnya, sosok kurus merentangkan lengan berbentuk corong merah, seperti pengeras suara yang menjerit ke arah tak terlihat.
Citra Sasmita berangkat dari tradisi lukisan Kamasan, gaya lukis klasik dari Bali. Dari sana ia menelusuri sejarah, spiritualitas, dan posisi perempuan. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa tradisi bisa menjadi pintu masuk untuk bertanya, bukan hanya untuk memuja. Siapa yang selama ini menjadi tokoh dalam cerita lama, dan siapa yang tidak pernah diberi ruang?
Karya lain dari proyek ini berupa pohon raksasa yang digantung pada rangka logam, bertanda “MAEVWOT 2023”. Dahan-dahannya keemasan, daunnya bulatan kuning-hijau, dan akarnya merah muda di bagian atas. Alih-alih buah, pohon ini ditumbuhi puluhan wajah tampak samping, masing-masing bermata satu dan dengan kait putih kecil di mulut.
Sementara itu, Hashel Al Lamki mempertemukan dua kain dari dua dunia: batik Jawa dan kain kanga dari tradisi Swahili. Hasilnya adalah Clove Series: Bandung 1955. Angka 1955 mengingatkan pada Konferensi Asia-Afrika di Bandung, pertemuan negara-negara Asia dan Afrika yang kini menjadi simbol solidaritas dua benua. Lewat pertemuan material dan sejarah lintas kawasan itu, karya ini membuka kembali hubungan Asia dan Afrika sekaligus warisan kolonialisme yang pernah menyatukan sekaligus melukai keduanya.
Proyek ini juga melibatkan Ines Katamso, Jumaadi, Amalia Laurent, Timoteus Anggawan Kusno, dan Nathalie Mochamad. Latar dan pendekatan artistik mereka beragam, dan kehadiran mereka memperluas cakupan Vessels of Memory dalam menelusuri hubungan antara ingatan, material, sejarah, dan pengalaman masyarakat.
Bila dilihat bersama, ragam karya ini memberi satu pesan yang tegas. Tradisi dan pengetahuan budaya bukan sekadar warisan yang harus dijaga agar tidak hilang. Ia juga ruang untuk mempertanyakan sejarah, kekuasaan, gender, dan konflik. Karya-karya ini menyoroti pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi, tetapi juga pengetahuan yang selama ini tersingkir dari narasi dominan. Bagi pengunjung awam di Paris, itu berarti mereka tidak hanya disuguhi “Indonesia yang indah”, tetapi juga Indonesia yang penuh pertanyaan.
Dukungan datang dari perwakilan negara. Mohamad Oemar, Duta Besar Indonesia untuk Prancis, hadir dalam kegiatan tersebut dan menyampaikan apresiasi atas keterlibatan para seniman.
“Karya-karya seniman kita sangat menarik. Selamat dan sukses untuk para seniman, dan semoga makin dikenal dunia,” ujarnya.
Pertanyaan Setelah Tepuk Tangan
Namun, tampil di perhelatan internasional tidak dengan sendirinya menjamin bahwa gagasan para seniman akan mendapat perhatian yang berkelanjutan. Pameran berlangsung lima hari, sedangkan pekerjaan seniman berlangsung bertahun-tahun. Perjumpaan di Paris baru bermakna dalam jangka panjang apabila membuka dialog, jaringan kerja, dan kesempatan baru bagi seniman setelah pameran berakhir.
Pertanyaan itu memperoleh konteks lain dari perjalanan Biennale Jogja sendiri. Sejak 2011, melalui seri bernama Khatulistiwa, perhelatan ini mengembangkan dialog antara seniman Indonesia dan kawasan-kawasan lain di dunia. Garis khatulistiwa yang melintasi Indonesia dijadikan titik berangkat untuk melihat dunia dari posisi Indonesia, bukan dari pusat-pusat seni yang lazim. Dengan kata lain, Biennale Jogja sudah lama berlatih menjadi pembicara, bukan sekadar pendengar, dalam peta seni global.
Kerja panjang itu tidak berjalan sendirian. Penyelenggaraan dan program Biennale Jogja selama bertahun-tahun dikelola oleh Yayasan Biennale Yogyakarta, yang berdiri pada 23 Agustus 2010. Yayasan ini tidak hanya menaungi pameran dua tahunan. Ia juga membangun ruang pertemuan bagi seniman, kurator, komunitas, dan organisasi kebudayaan.
Kabar dari Rumah
Di tengah partisipasi Biennale Jogja dalam forum seni internasional, muncul kabar penting dari lembaga yang selama ini menopangnya. Pada 9 Oktober 2026, Biennial Foundation memberitakan keputusan Yayasan Biennale Yogyakarta untuk mengakhiri operasionalnya sebagai institusi seni.
Dalam pernyataan resminya, yayasan mengaitkan keputusan itu dengan situasi politik, meningkatnya sensor, serta kekerasan terhadap aktivis dan demonstran. Alasan yang dikemukakan menunjuk pada iklim di sekitar kerja seni. Meski demikian, yayasan berharap pengetahuan, praktik, dan jaringan yang telah dibangun selama ini tetap berkembang melalui komunitas yang terlibat.
Kabar ini memperlihatkan kontras yang tajam. Di satu sisi, karya-karya Indonesia terus mencari ruang perjumpaan di luar negeri. Di sisi lain, salah satu institusi yang bertahun-tahun membangun jaringan seniman, kurator, dan komunitas justru mengakhiri operasionalnya. Seolah-olah sebuah rumah mengirimkan anak-anaknya merantau ke kota-kota besar, sementara atap rumahnya sendiri mulai bocor.
Situasi ini tidak menghapus arti penting kehadiran Biennale Jogja di Paris. Karya Rani, Dicky, Citra, Hashel, dan seniman lainnya tetap bernilai, dan percakapan yang mereka mulai tetap sah. Akan tetapi, kabar dari Yogyakarta mengingatkan kita pada satu hal mendasar: diplomasi budaya tidak cukup bertumpu pada partisipasi dalam pameran di luar negeri.
Taman yang Perlu Dirawat
Barangkali perumpamaan yang paling pas adalah taman. Pameran internasional ibarat pesta kebun yang meriah, tempat bunga-bunga terbaik dipamerkan kepada tamu dari jauh. Namun, pesta itu hanya mungkin bila tamannya dirawat sepanjang tahun. Di dalam negeri, seniman membutuhkan ekosistem agar terus bisa bereksperimen, membangun jaringan, memperoleh dukungan, dan berhubungan dengan masyarakat. Tanpa itu, yang tersisa hanyalah panen yang tidak sempat ditanam kembali.
Di tengah minimnya dukungan langsung dari pemerintah Indonesia, Biennale Jogja melalui Vessels of Memory tetap membawa pengetahuan dan pengalaman lokal ke dalam perjumpaan seni global. Itu pencapaian yang patut dicatat. Namun, tantangan sesungguhnya baru dimulai setelah lampu pameran dipadamkan dan para seniman pulang. Pertanyaannya, apakah praktik dan gagasan yang diperkenalkan di Paris itu masih punya ruang untuk tumbuh, diperdebatkan, dan diwariskan di Indonesia?
Kembali ke kain sulaman di awal tulisan ini. Karya Rani Jambak mengajarkan bahwa pengetahuan bisa berpindah dari tangan ke bunyi tanpa kehilangan jiwanya, asalkan ada yang menjaga rantai penghubungnya. Rantai itulah, yakni lembaga, komunitas, dan dukungan, yang kini sedang diuji. Paris sudah mendengar suara sulaman itu. Yang belum pasti adalah apakah di rumah sendiri, suara itu akan terus punya tempat untuk berbunyi. Itulah ujian sesungguhnya bagi diplomasi budaya kita, jauh sesudah pameran di luar negeri usai. (*)
