Kabar

Mengejar Mimpi ke Negeri Ginseng: Faisal, PMI yang Kerja di Pabrik Sambil Kuliah Magister

Published

on

Ahmad Faisal (33), pekerja pabrik yang studi magister Cyber di Hankuk University of Foreign Studies/Foto: KP2MI

JAYAKARTA NEWS— Bagi Ahmad Faisal (33), merantau ke Korea Selatan bukan sekadar mencari nafkah. Pekerja Migran Indonesia  (PMI) asal Serang, Banten ini menjadikan perantauan sebagai jalan untuk menempuh pendidikan tinggi dan mengembangkan diri.

Sejak 2022, Faisal sudah menempuh studi daring di Hankuk University of Foreign Studies. Dua tahun kemudian, ia berangkat ke Negeri Ginseng melalui program Government to Government (G to G) dan bekerja di sektor manufaktur.

“Tujuan saya bukan hanya uang, tapi juga pendidikan dan pengalaman internasional,” ujarnya dalam perbincangan via Zoom bersama Tim Humas KP2MI, baru-baru ini.

Perjalanan Panjang Menuju Negeri Ginseng

Keinginan bekerja di luar negeri sudah tumbuh sejak lama. Faisal menyiapkan diri dengan belajar bahasa Korea, bahkan rela menunggu kontrak kerja selama setahun. “Bahasa menjadi modal utama. Tanpa itu, sulit beradaptasi,” katanya.

Pengamat migrasi tenaga kerja, Dwi Hartono, menilai kisah Faisal mencerminkan tren baru PMI yang tak hanya fokus pada penghasilan. “Ada generasi muda yang melihat migrasi sebagai pintu masuk ke pendidikan dan pengalaman global. Ini positif bagi kualitas SDM Indonesia,” ujarnya.

Faisal harus beradaptasi dengan cuaca ekstrem, dialek lokal, hingga sistem kerja bergilir. “Awal-awal kulit saya iritasi karena dingin. Saya jadi paham kenapa orang Korea sangat peduli skincare,” kenangnya sambil tertawa.

Meski begitu, ia tetap melanjutkan kuliah. Kini ia menempuh magister Cyber dengan fokus Global Korean Studies. Cita-citanya jelas: menjadi pengajar Bahasa Korea di Indonesia.

Dukungan Keluarga dan Sesama PMI

Di tengah kesibukan, keluarga tetap jadi sumber kekuatan. Rindu ia obati lewat panggilan video. “Peran keluarga sangat penting menjaga mental,” ujarnya.

Lingkungan kerja juga mendukung. Perusahaan menyediakan asrama dan fasilitas makan. Bersama belasan PMI lain, Faisal saling menguatkan. “Kami seperti keluarga baru di perantauan,” katanya.

Netizen yang mendengar kisah Faisal banyak memberi komentar positif. “Salut, kerja sambil kuliah itu luar biasa,” tulis seorang pengguna media sosial. Ada pula yang menyebutnya sebagai contoh nyata bahwa disiplin dan tekad bisa membuka jalan.

Kontrak kerjanya berlangsung hingga 2027 dan bisa diperpanjang sampai 2029. Setelah itu, ia berharap pulang untuk mengabdi. “Saya ingin mengajar Bahasa Korea kepada anak-anak muda Indonesia,” ujarnya.

Pesannya untuk generasi muda: jangan takut bermimpi besar, disiplin, dan siapkan diri, terutama bahasa. “Program G to G bukan hanya kesempatan bekerja, tapi juga belajar dan membuka masa depan lebih baik,” pungkasnya.

Kisah Faisal menunjukkan bahwa menjadi pekerja migran bukan hanya soal mencari nafkah, melainkan juga perjuangan mewujudkan mimpi dan masa depan yang lebih cerah. (di/Sumber: KP2MI)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Exit mobile version