Kolom

Makna “Ora Tedhas Tapak Paluning Pande”

Published

on

Gde Mahesa

Dalam cerita pewayangan Raden Gathutkaca ksatria dari Pringgondani, yang gagah perkasa sakti mandraguna “Ora Tedhas Tapak Paluning Pandhe Sisaning Gurinda” .

Secara kiasan, ungkapan ini menggambarkan ketahanan atau kekebalan terhadap berbagai macam bahaya atau kesulitan, atau kemampuan untuk bertahan dalam situasi yang sulit. Hal ini sering dikaitkan dengan orang yang memiliki kesaktian atau kekebalan tubuh, terutama terhadap senjata tajam. Namun, dalam konteks yang lebih luas, maknanya bisa merujuk pada ketangguhan seseorang dalam menghadapi berbagai tantangan hidup. 

Menengok kembali ke masa lalu, dengan kajian ilmu ilmu luhur yang telah diajarkan oleh para leluhur, berbagai istilah sering terdengar sampai saat ini. Hal tersebut sebenarnya merupakan hal dari kelunturan ajaran “Budi Luhur” yang sangat dalam kajianya. Salah satu kalimat yang sering kita dengar yaitu “Sakti Mandraguna“ yang dikonotasikan dengan hal hal yang berunsur “mistis” salah satunya kebal terhadap bermacam jenis senjata.

Ora Tedhas Tapak Paluning Pande hanya dipunyai oleh orang yang telah menjalalankan lelaku spiritual sehingga tercipta kekuatan dari dalam yang bisa menolak semua efek senjata tajam. 

Lelaku spiritual bisa berupa puasa mutih, puasa patigeni, atau puasa ngebleng, dengan bimbingan seorang guru spiritual. 

Terkadang  dalam  penempaan berlaku proses “dematerialisasi”, memasukkan benda yang  sudah diisi khodam ke dalam tubuh seseorang sehingga menjadi sumber kekuatan super. Debus di Jawa Barat adalah salah satu komunitas yang  sering memamerkan keahlian ini. 

Dalam keilmuwan ini, terkadang membuat seseorang lupa diri sehingga bisa berbuat semaunya. Saya pernah mendapatkan sebuah pesan dari seseorang, kala itu masih zaman SMS, dengan isi pesan :

JALMO SENAJAN DIKDOYO SEKTI MANDRA GUNA PARIBASAN ORA TEDAS TAPAK PALUNING PANDE SISANING GURINDRA NANGING YEN SALAH BAKAL SELEH .MULA YO NGGER SIRO OJO ADIGANG, ADIGUNG ,ADIGUNA BECIK KETITIK OLO KETORO,ANDHAP ASHOR lan WANI NGALAH IKU LUHUR WEKASANE.

Lantas apakah kita juga perlu mempelajari ilmu spt itu? Pesen saya, JANGAN. Sebab jika makan geprek dengan sambel bledhek masih megab-megap atau kepedasan, berarti tidak jadi sakti. Lebih baik belajar sruputtt kopi pahit, bullll bullll klepussss….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Exit mobile version