Kolom

Makna Jagad Cinta Sangkuriang

Published

on

Gde Mahesa

Tangkuban Prau atau Tangkuban Perahu, sepintas orang hanya mengenal tentang legenda kemarahan seorang anak manusia yang mencintai dan ingin mengawini ibunya sendiri. Sebuah tragedi yang bermuatan makna dalam.

Di tengah rimba raya tepatnya di Kabuyutan tlatah Pasundan, tersebutlah sosok Dayang Sumbi, wanita cantik penuh pesona alami. Wajahnya abadi tampak selalu muda, tetapi jiwanya serasa menua dalam himpitan sepi. Ia bukan perawan, bukan pula janda, dalam kehidupan kesehariannya selalu bersama Si Tumang yang merupakan seekor anjing dan konon sebagai suami Dayang Sumbi.

Alkisah, Si Tumang sebenarnya bukanlah binatang sesungguhnya. Dia merupakan salah satu “dewa” yang dikutuk, dan terpenjara dalam kulit berbulu dari seekor binatang.  
Dari perkawinan ganjil inilah lahir Sangkuriang, seorang anak manusia berdarah dewa, matanya tajam dan liar bagai kehidupan makhluk hutan yang penuh waspada, di dadanya masih kosong tanpa isi, dan hidup seperti hanya menuruti naluri.

Sangkuriang tak mengenal bapaknya, yang ia tahu hanya tahu ibunya yang cantik, dan Si Tumang anjing di rumah dan terlalu manusia untuk seekor binatang.  

Makna filosofis dari pengantar tersebut merupakan paradoks asal-usul. Di mana manusia lahir dari dua dunia. Dunia atas yang dianggap suci dan dunia bawah yang naluriah. Sangkuriang adalah kita semua para manusia. Anak dari langit dan tanah, yang selamanya akan selalu bertanya, sebenarnya mau pulang ke mana.

Suatu hari Dayang Sumbi sangat ingin hati kijang. Namun sebenarnya bukan untuk dimakan, tapi guna menguji putranya. Maka segeralah Sangkuriang berangkat membawa perlengkapan berburu di temani Si Tumang.

Namun belantara hutan seperti mengujinya, tak nampak dalam perjalanan seekor binatang pun, selain seekor anjing yang setia menemaninya. Hutan tak memberinya kijang, daripada gagal memberikan apa yang diinginkan ibunya, maka dibunuhlah Si Tumang dan diambil hatinya. Darah sang Bapak membasahi tanah dan tangannya, ia akan mengatakan bahwa yang dibawanya adalah hati seekor kijang, sedangkan Si Tumang mengalami kecelakaan terjun ke jurang karena mengejar buruannya. Hal inilah tanpa diketahui dan disadari, merupakan dosa pertama Sangkuriang: membunuh asal-usulnya sendiri demi membuktikan bakti kepada ibunya Dayang Sumbi.

Sesampai di rumah Sangkuriang bercerita kepada ibunya. Dayang Sumbi mendengar dengan seksama dan menerima hati yang masih meneteskan darah, namun tak terlihat Si Tumang, ia merasa seketika dunia runtuh. Ia merasakan firasat bahwa Sangkuriang telah membunuh Si Tumang.

Secara reflek centong kayu yang biasa mengaduk nasi, seketika dipukulkan pada dahi Sangkuriang hingga robek terluka. Hari itu dengan centang telah menentukan perjalanan misteri kehidupan berikutnya. Luka itu bukan luka fisik. Namun merupakan pertanda, bahwa dia telah menumpahkan darah suci.  

Ironi batin Dayang Sumbi yang telah memukul anaknya sendiri. Seketika tangannya gemetar, bukan karena marah, tapi karena tahu : “Aku baru saja melepas anakku ke dunia, tanpa peta, tanpa restu. Dia akan membenciku, dan kebencian itu akan membawanya kembali padaku dalam wujud yang paling menakutkan.”  

Sedangkan yang terjadi pada Sangkuriang, ia lari menjauh. Bukan karena sakit, tapi karena untuk pertama kalinya dia melihat wajah ibunya, bukan wajah yang cantik. Tapi wajah hancur sangat menyeramkan dan berkata, “Kau sudah tak punya siapa pun, walaupun ibumu masih hidup. Kau bukan siapa-siapa.”  

Saat itu juga Sangkuriang meninggalkan rumah dan ibunya, hingga bertahun-tahun melanglang buana, berguru menempa ilmu, hingga singkat cerita Sangkuriang telah menjadi seorang pemuda sakti mandraguna. Gunung, lembah telah ditaklukkan, tapi tidak bisa menaklukkan lubang di dadanya. Lubang berbentuk wajah perempuan yang memukulnya waktu kecil.  

Sementara sepeninggal Sangkuriang, Dayang Sumbi selalu sembahyang memohon pada Sanghyang “Bekukan waktu di kulitku. Biar saat dia pulang dan tidak mengenaliku sebagai ibunya. Biar dia membenciku sebagai perempuan asing, daripada mencintaiku sebagai ibu.”
Dan doa yang selalu ia gumamkan terkabul. Dia tak sadar bahwa hal tersebut yang akan menyebabkan bencana di kemudian hari. Keabadian kecantikannya setiap hari adalah neraka karena dia harus siap dibunuh kerinduan anaknya sendiri.  

Di sinilah makna tentang “Eternal Feminine”. Ibu Pertiwi tidak pernah menua. Alam selalu tampak muda, selalu menggoda. Dan manusia, Sangkuriang, selalu pulang dengan nafsu untuk memiliki, bukan untuk merawat. Kita para manusia jatuh cinta pada ibu kita sendiri, ibu Pertiwi tanpa sadar.  

Saat mereka bertemu. Sangkuriang sudah tidak mengenal sang Ibu yang mempunyai rahim dan melahirkannya. Sangkuriang hanya mengenal hasrat. “Aku akan menikahimu,” katanya.

Di sinilah sejuta rasa, sakit, duka, penyesalan, kekhawatiran dan hal-hal yang melanggar norma terpikirkan, dititik ini, Dayang Sumbi hanya mempunyai dua pilihan:  

  1. Jujur dan menyampaikan bahwa  “Aku adalah ibumu.” Namun dengan risiko: Sangkuriang bisa gila, bunuh diri, atau membunuhnya karena merasa dipermainkan takdir.  
  2. Membohongi, untuk dinikahi, makanakan berdampak kualat, tatanan semesta runtuh. Incest kosmis.
      
    Akhirnya Dayang Sumbi membuat keputusan ketiga, jalan seorang ibu. Memberikan syarat yang mustahil untuk bisa dipenuhi. “Buatkan aku danau dan perahu. Semalam. Sebelum ayam berkokok.”  
  3. Alasan ini bukan penolakan, tetapi menyelamatkan.
    Maka diberikanlah Sangkuriang sebuah gunung untuk didaki. Kalau berhasil, artinya anaknya memang dewa, dan dia pasrah. Kalau gagal, artinya anaknya masih manusia, dan masih bisa diselamatkan dari dosa.

Gejolak batin Sangkuriang terasa tertantang, ia akan menunjukkan bahwa dengan kesaktiaannya mampu memenuhi syarat. Kemudian dibelahlah tanah sambil berteriak dalam hati: “Lihat ! Aku tidak akan gagal lagi! Aku bisa memberimu ‘hati dunia’ sekarang!”
Tanpa disadari sebenarnya yang ia gali adalah kuburannya sendiri.  
 
Dayang Sumbi mengibaskan Boeh Rangrangan. Kain tenunan air mata. Dia memanggil fajar lebih cepat. Dia memaksa waktu. Kenapa? Karena hanya dengan melanggar hukum waktu, dia bisa menegakkan hukum yang lebih tinggi. Hukum darah. 

Ayam pun berkokok. Perahu kurang sejengkal selesai. Danau kurang setetes air.

Sangkuriang kalah. Bukan kalah oleh alam. Tapi kalah oleh cinta seorang ibu yang tega menipunya demi kebaikannya.  

Dengan luapan kemarahan maka ditendanglah perahu yang hampir selesai sambil teriak “Kenapa aku tidak boleh memiliki apa yang paling aku inginkan ?!”  

Jawabannya hening, terciptalah Gunung Tangkuban Parahu. Perahu yang terbalik. Simbol bahwa nafsu manusia untuk mengawini asalnya sendiri hanya akan menghasilkan monumen kegagalan.

Sangkuriang menghilang. Konon ia menjadi buaya putih. Namun ada juga cerita ia jadi gila di hutan. Sangkuriang dihukum untuk hidup, membawa luka karena tidak bisa mati dan tidak bisa memiliki.
  
Dayang Sumbi terus menenun, tetapi tidak menenun kain lagi. Ia menenun penyesalan. Setiap benang adalah pertanyaan: “Kalau saja hari itu aku tidak minta hati kijang. Kalau saja aku peluk dia, bukan aku pukul.”  

Akhirnya dari peristiwa Dayang Sumbi dan Sangkuriang tersiratlah:

  1. Sangkuriang adalah arketipe manusia Prometheus. Ingin melampaui batas. Ingin mengawini “Ibu” yaitu Alam, Kekuasaan, Asal-Usul. Tapi tatanan semesta punya pagar. Melewatinya berarti bencana.  
  2. Centong Dayang Sumbi adalah luka pertama yang harus diterima setiap manusia. Luka yang bilang: “Kau tidak bisa memiliki segalanya ” Dan kita seumur hidup membalas luka itu dengan amarah, padahal itu bentuk cinta paling murni.  
  3. Ayam berkokok adalah pengingat bahwa semesta tidak bisa disogok. Ada proses yang tidak bisa dipercepat. Mempercepatnya hanya akan menghasilkan “perahu terbalik”.  
    Tangkuban Parahu berdiri sampai hari ini. Bukan untuk mengutuk Sangkuriang. Tapi untuk mengingatkan manusia :  
    Di hadapan Ibumu, di hadapan Alam, di hadapan Asal-Usulmu,
    Tunduklah. Jangan mencoba menguasainya tetapi rawatlah.  

Bullllll….. bullllll…. klepussss…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Exit mobile version