Entertainment

Madani Film Festival 2024 : Berfokus Konflik di Sudan dan Palestina

Published

on

Panitia MIFF 2024 (foto shendy)

JAYAKARTA NEWS— Melalui film dan buku kita bisa memperkenalkan kehidupan masyarakat muslim di Indonesia yang cinta damai dan menjunjung tinggi kerukunan.
Direktur Madani International Film Festival (MIFF), Putut Widjanarko mengemukakan hal tersebut dalam perbincangan dengan jurnalis di Studio Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, baru-baru ini.

Mengusung tema Marwah (dignity), MIFF 2024 yang akan dihelat 3 s d 6 Oktober 2024 di Jakarta menayangkan 57 film dari 20 negara.

“Untuk pengertian film Madani, kita memang membatasi pada film-film yang merepresentasikan dunia Islam sehari-hari,” kata Putut Widjanarko yang memproduseri film ‘Laskar Pelangi’, ‘Garuda Didadaku’ dan ‘Rumah Masa Depan’.

“Film Madani adalah film-film yang bercerita tentang umat Islam dan permasalahan khasnya. Ini adalah ‘living Islam’,” urai Putut yang menulis disertasi berjudul ‘Homeland, Identity and Media a Study of Indonesian Transnational Muslims in New York City’ untuk gelar Doktor ilmu komunikasi massa di Scripps College of Community di Amerika tahun 2007.
Senada pendapat Hikmat Darmawan selaku Board Festival.

“Kami berangkat dari semacam kepercayaan pada gagasan bahwa ada peluang membicarakan dunia Islam yang hidup, bukan semata Islam sebagai doktrin. Sebagai sebuah kontribusi pada percakapan global tentang isu-isu terkini dan masalah bersama yang dihadapi umat manusia,” urai Hikmat Darmawan yang dikenal sebagai kritikus, kurator dan peneliti di bidang budaya populer.

Setali tiga uang komentar dan pernyataan DR Kajian Film, Ekky Imanjaya bahwa MIFF jelas memegang posisi unik dalam dunia festival film.”Sebagai satu-satunya platform yang didedikasikan untuk isu penting moderasi agama, MIFF tidak hanya di Indonesia, tetapi mungkin di seluruh Asia dan bahkan dunia,” papar Ekky Imanjaya.

MIFF tahun ini berfokus pada konflik Sudan dan perang di Palestina yang belum berakhir.
“Akibat perang di Sudan mengakibatkan eksodus, warga mengungsi, krisis ekonomi dan krisis kesejahteraan masyarakat,” ungkap Ekky Imanjaya.

Dalam pembukaan MIFF di Cinepolis, Senayan Park diputar film ‘Goodbye Julia’ dan penutupannya di Metropole ditayangkan dua film tentang Palestina : ‘The Teacher’ dan ‘Walled Off’.

Walhasil, tema Marwah tahun ini mencoba menggugat dan mempertanyakan kepemimpinan dunia yang gagal menghentikan genosida Israel di Palestina dan kepemimpinan di negeri kita sendiri yang seolah abai terhadap berbagai kesalahan dan penyimpangan. (pik)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Exit mobile version