Feature
Lorena Ramírez: Saat Sandal Bekas Mengalahkan Teknologi Sepatu Miliaran Rupiah
Oleh Heri Mulyono
Dengan sandal ban bekas dan rok panjang, Lorena Ramírez menjuarai lari ultra 50 kilometer. Saat Nike datang membawa kontrak, ia menjawab dengan satu penolakan tegas: ia tetap memilih menjadi dirinya sendiri.
Lahir dari Lembah, Dibentuk oleh Lari
Lorena Ramírez bukanlah atlet yang lahir di lintasan aspal atau pusat pelatihan modern. Ia tumbuh di pedalaman Barrancas del Cobre, Meksiko, sebuah jurang raksasa yang bahkan lebih dalam dari Grand Canyon.
Setiap hari, ia menggembalakan kambing keluarganya sambil berlari 10 hingga 15 kilometer di medan berbatu yang terjal. Tidak ada pelatih profesional, tidak ada program latihan periodisasi, apalagi alat pemantau detak jantung di pergelangan tangannya. Bekal yang ia bawa hanyalah pinole—tepung jagung tradisional—dan beberapa lembar tortilla. Hidupnya adalah latihan, dan latihan adalah kelangsungan hidupnya.
2017: Saat Sandal Karet Mengguncang Dunia
Nama Lorena mulai menggema di dunia lari internasional pada tahun 2017. Dalam rentang waktu yang sangat singkat, ia berhasil meraih dua medali emas sekaligus. Pertama, ia menjuarai UltraTrail Cerro Rojo di Puebla, mencatat waktu 7 jam 20 menit untuk jarak 50 kilometer di medan gunung yang ekstrem.
Tak lama berselang, ia kembali naik ke podium tertinggi di Ultramaratón de los Cañones, sebuah lomba brutal sejauh 100 kilometer yang digelar di kampung halamannya sendiri, Guachochi, Chihuahua. Ia menyelesaikannya dalam 12 jam 44 menit 25 detik.
Di sinilah ironi terasa: di antara para peserta yang mengenakan sepatu teknologi tinggi dan pakaian berteknologi canggih, Lorena melesat dengan rok panjang dan sandal huarache yang terbuat dari potongan ban bekas serta tali kulit sederhana. Kemenangannya bukan sekadar catatan waktu, tetapi sebuah pernyataan bahwa alam dan kebiasaan lebih berkuasa daripada laboratorium dan riset material.
Dari Guachochi ke Layar Dunia
Pada 2018 dan 2019, Lorena terus mengukir prestasi. Ia menjadi perempuan Rarámuri pertama yang berlaga di ultra-maraton Eropa, membawa nama sukunya ke panggung yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya. Kisah hidupnya kemudian diangkat ke layar kaca oleh Netflix, memperkenalkan sosok penggembala kambing ini ke jutaan pasang mata di seluruh dunia. Bahkan pada 2023, ia kembali membuktikan konsistensinya dengan menjadi juara di Ultratrail Sierra del Laurel, Aguascalientes, menaklukkan jarak 42 kilometer dalam waktu 5 jam 58 menit 17 detik.
Namun, publik tidak hanya terpesona oleh medali-medali itu. Mereka justru terpukau oleh sesuatu yang jauh lebih langka di era hiperkomersial ini: sikap Lorena terhadap tawaran besar yang datang menghampirinya.
Tawaran Raksasa, Satu Jawaban Tegas
Raksasa perlengkapan olahraga dunia, Nike, datang membawa tawaran menggiurkan. Mereka menawarkan sepatu lari berteknologi tinggi dengan bantalan empuk, desain aerodinamis, dan segala inovasi material yang biasa dikenakan para pelari elite global. Bagi kebanyakan atlet dari latar belakang sederhana, tawaran semacam itu adalah tiket instan menuju kehidupan yang mapan dan pengakuan industri yang tak terbatas.
Lorena memilih jalan berbeda. Dengan enteng namun penuh makna, ia menjawab, “Orang-orang yang memakai sepatu seperti itu selalu saja tertinggal di belakang saya.”
Baginya, kepekaan telapak kaki terhadap kontur tanah yang ia dapatkan dari sandal ban bekas jauh lebih berharga daripada bantalan busa setebal apa pun. Ia tidak butuh teknologi untuk membantunya berlari lebih cepat; yang ia butuhkan hanyalah hubungan langsung antara dirinya dan bumi yang ia pijak.
Ia tidak menolak dunia luar secara membabi buta—ia tetap bepergian ke berbagai negara dan sesekali memakai sepatu biasa di aspal kota—tetapi ia menolak secara spesifik logika sponsorship yang berusaha mengubah identitasnya menjadi komoditas pemasaran semata.
Lari Bukan Bisnis, Tapi Jiwa
Penolakan Lorena bukanlah sikap yang tiba-tiba atau kebetulan. Di kalangan suku Rarámuri—yang oleh dunia luar kerap disebut Tarahumara—sikap seperti ini sudah menjadi pola sejak lama. Sejak pertama kali mereka menggemparkan dunia di Leadville Trail 100, Colorado, pada tahun 1993, para pelari dari suku ini jarang mau terikat kontrak formal atau mengikuti pelatihan ala Barat. Lari bagi mereka bukanlah ajang komersial atau panggung popularitas. Ia adalah bagian dari spiritualitas dan keberlangsungan hidup komunal.
Dalam tradisi rarájipari, perlombaan lari sambil menendang bola kayu sarat akan makna ritual yang diwariskan turun-temurun. Lorena memegang teguh prinsip itu. Ia adalah wajah dari kearifan lokal yang tidak gentar menghadapi derasnya arus modernisasi. Ketika ia memakai rok panjang dan sandal ban bekas di setiap perlombaan, ia tengah menyatakan bahwa keberhasilannya adalah keberhasilan komunitasnya—bukan produk dari investasi sponsor mana pun.
Renungan di Balik Sandal Bekas
Lebih dari sekadar kisah olahraga, perjalanan Lorena menjadi cermin bagi banyak orang tentang apa artinya menjaga keaslian diri di tengah godaan besar dunia modern. Ketika sebuah merek global menawarkan kemapanan instan, banyak dari kita akan tergoda untuk menukar identitas demi pengakuan yang lebih luas. Lorena memilih sebaliknya: ia menetapkan batas yang jelas antara dirinya sebagai individu dengan tubuh dan keterampilan yang ia bangun sendiri, dengan citra yang ingin dilekatkan industri kepadanya.
Ia mengukur keberhasilannya bukan dari nilai kontrak atau eksposur media, tetapi dari kenyamanan menjalani hidup sebagaimana adanya: menggembalakan kambing, berlari di tanah leluhurnya, dan sesekali membuktikan bahwa cara hidup turun-temurun itu tetap relevan, bahkan unggul, di tengah gempuran modernisasi. Bagi para pelari muda di Indonesia maupun di berbagai belahan dunia lain yang kini begitu bergantung pada teknologi sepatu mahal, kisah Lorena adalah pengingat yang membumi: kemenangan sejati tidak pernah ditentukan oleh label mahal yang menempel di kaki, melainkan oleh kedisiplinan hidup sehari-hari dan tekad yang ditempa bertahun-tahun.
Masih di Kampung, Tetap di Jalurnya Sendiri
Hingga kini, Lorena masih tinggal di kampung halamannya yang terpencil di pedalaman Chihuahua, jauh dari hiruk-pikuk dunia olahraga profesional yang sempat ia sentuh. Ketika wartawan bertanya tentang arti berlari baginya, jawabannya selalu kembali pada hal yang sederhana: berlari adalah bagian dari hidup, bukan profesi yang harus dijual kepada siapa pun.
“Saya tidak butuh sepatu modern untuk berlari lebih cepat,” begitu inti pesan yang berkali-kali ia sampaikan. Sebuah kalimat pendek, namun cukup untuk mengguncang industri olahraga global yang bernilai miliaran dolar itu. Lorena Ramírez mengajarkan kita bahwa di balik gemerlap logo dan kontrak, masih ada ruang bagi seseorang untuk berkata tidak—dan tetap menjadi juara dengan caranya sendiri. (*)