Kolom

Leluhur Bukan Kenangan

Published

on

Terkadang bagi sebagian orang leluhur dianggap masa lalu, yang akan terkikis dan segera terlupakan oleh waktu. Sesekali terlintas dalam lembar silsilah yang kadang dibanggakan tanpa dapat menjiwai dan menjaga nilai jiwa suci dari pendahulu. Sesungguhnya, leluhur merupakan cikal bakal keberadaan seseorang di masa kini.

Seandainya mau hening dan berenung sejenak, serta merasakan bahwa darah yang mengalir di tubuh ini, serta nilai-nilai atau norma-norma yang kita pegang dan jalani, bahkan cara berpikir semua adalah warisan leluhur. Melintas perjalanan panjang dari generasi ke generasi. Proses evolutif yang tak bisa disangkal. Itu artinya, melupakan leluhur sama artinya melupakan dirinya sendiri.

Menghormati leluhur tidak cukup hanya dengan ziarah, doa, nyekar serta melaksanakan tradisi yang terkesan ritual, bahkan seremonial. Menjaga nilai atau norma adat budidaya yang telah diwariskan dengan bijak, adalah sebaik-baiknya penghormatan terhadap leluhur. Menyadari bahwa kita adalah “lanjutan” mereka.

Secara emosional kematian sering sulit diterima, sebab kebanyakan manusia masih melihat kematian sebagai akhir segalanya. Padahal dalam pemahaman Jawa yang lebih dalam,
yang mati hanyalah raga. Sedangkan jiwa tetap hidup. Jasad memang terkubur, namun masih ada sesuatu yang menghidupinya, tidak turut melebur ke dalam tanah, dan ikut hilang. Ia bisa kembali, menyatu, dan melanjutkan dalam bentuk tak kasat mata.

Menghormati leluhur bukan karena takut, tapi karena sadar akan kesinambungan hidup. Ada anggapan bahwa seseorang sudah tiada, maka hubungan pun selesai. Padahal, dalam kesadaran yang lebih dalam, hubungan itu tidak pernah benar-benar putus, namun hanya berubah bentuk. Dari yang terlihat… menjadi yang dirasakan.

Jika mau mencoba, terkadang tanpa disadari, kita membawa kebiasaan, sikap, bahkan cara berpikir dari orang tua atau leluhur kita. Itu bukan kebetulan. Itu jejak, yang masih hidup dalam diri kita.

Kadangkala terjadi salah paham, bahwa menghormati leluhur dianggap sebagai langkah mundur, kembali menjadi primitif. Padahal yang terjadi justru sebaliknya, bagi siapa pun orang yang tahu asal usulnya niscaya ia akan lebih kuat menghadapi masa depan. Sebab tak akan kehilangan arah, tahu asal usul dan kemana harus melangkah.

Ibarat pohon, dengan akar yang dalam maka pohon tersebut dapat tumbuh semakin tinggi.
Artinya yang terjadi adalah saling menguatkan.

Bagaimana dengan sekelompok masyarakat yang justru malah mengagungkan bangsa lain? Tentunya hal tersebut boleh dikatakan mereka tidak paham dan tidak mau mengerti tentang akarnya leluhurnya sendiri. Hal tersebut tidaklah salah, namun jadi masalah karena telah melupakan jati diri.

Jangan sampai cahaya pelita di rumah kita yang dinyalakan para pendahulu padam, hanya disebabkan sibuk mencari cahaya di tempat lain.

Bullllll….. bullllll… klepussss…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Exit mobile version