Kolom

Konspirasi Tarik: Investigasi Ekspedisi Mongol ke Jawa 1293

Published

on

Oleh : Heri Mulyono

PROLOG: KETIKA NAGA DARI UTARA MENGARUNGI LAUT JAWA

Tahun 1293 Masehi. Sebuah armada raksasa dengan sekitar seribu kapal perang membelah Laut Jawa. Di atas geladak, puluhan ribu pasukan Mongol—prajurit tangguh yang telah menaklukkan hampir setengah dunia—bersiap menginjak tanah Jawa. Target mereka: Kerajaan Singhasari, khususnya Raja Kertanegara yang telah menghina utusan Sang Khagan, Kublai Khan.

Namun setibanya di Jawa, mereka menemukan situasi berbeda. Kertanegara telah tewas dalam pemberontakan. Yang berkuasa kini adalah seorang adipati pemberontak bernama Jayakatwang dari Kediri. Di tengah kekacauan ini, muncul sosok menantu Kertanegara—Raden Wijaya yang menikahi putri sang raja, Gayatri—yang akan memainkan salah satu manuver politik paling brilian dalam sejarah Nusantara.

Kisah ini tersebar dalam berbagai kronik: Yuan Shi (Sejarah Dinasti Yuan), Nagarakertagama, Pararaton, dan catatan-catatan Tiongkok kuno. Namun versi-versi ini sering bertentangan, menyimpan misteri yang hingga kini terus diperdebatkan sejarawan. Investigasi ini mencoba merangkai puzzle sejarah tersebut.

BAGIAN I: LATAR BELAKANG KONFLIK—TAMPARAN BAGI SANG KHAGAN

Penghinaan yang Mengundang Murka

Dokumen Yuan Shi mencatat dengan detail peristiwa yang memicu ekspedisi ke Jawa. Tahun 1289, Kublai Khan mengirim utusan bernama Meng Qi ke Singhasari dengan surat bertanda segel kekaisaran. Isinya: tuntutan agar Kertanegara, sang Raja Singhasari, mengakui kedaulatan Dinasti Yuan dan mengirim upeti.

Kertanegara, yang sedang berada di puncak kekuasaannya setelah Ekspedisi Pamalayu yang sukses, memilih respons yang fatal. Menurut Pararaton, teks Jawa Kuno abad ke-15, Kertanegara memerintahkan agar wajah utusan Mongol itu “ditoreh” atau “dirusak”—sebuah penghinaan paling berat dalam diplomasi Asia abad pertengahan.

Versi Yuan Shi menyebutkan lebih spesifik: telinga Meng Qi dipotong sebelum ia dikirim kembali ke Dadu (Beijing). Bagi Kublai Khan yang telah menaklukkan Sung di selatan, menghancurkan Baghdad, dan membuat Koryo (Korea) berlutut, ini adalah tantangan yang tak termaafkan.

Persiapan Armada Punitif

Profesor Geoff Wade dari Australian National University, dalam penelitiannya terhadap arsip Tiongkok, menemukan catatan persiapan armada ini dimulai tahun 1290. Kublai Khan menunjuk dua komandan utama: Shi-bi (Ike Mese) dan Kao-hsing (Gao Xing)—keduanya jenderal berpengalaman Mongol yang telah bertempur di berbagai kampanye kekaisaran.

Armada ini terdiri dari:

– 20.000-30.000 pasukan tempur (angka bervariasi dalam berbagai sumber)

– 1.000 kapal perang besar dan kapal transportasi

– 40.000 pekerja dan awak kapal

– Persediaan untuk perjalanan berminggu-minggu

Yang menarik, catatan Tiongkok juga menyebut nama Po-ta-ha-lu—seorang tokoh dari Jawa yang terlibat dalam ekspedisi ini. Para sejarawan masih memperdebatkan identitas sebenarnya: apakah ini nama dari “Bhra Wiraraja” (Arya Wiraraja), atau orang lain? Dan kapan tepatnya ia bergabung dengan ekspedisi Mongol?

Kemungkinan besar Po-ta-ha-lu/Arya Wiraraja tidak berada di istana Kublai Khan saat armada dibentuk, melainkan:

– Berkorespondensi dengan pihak Mongol melalui jalur perdagangan maritim, memberikan informasi tentang situasi politik Jawa

– Atau bergabung dengan armada setelah mereka tiba di perairan Nusantara, mungkin di Sumatera atau pantai utara Jawa

– Atau mengirim wakil/utusannya untuk menjadi pemandu armada Mongol

Yang jelas, ada kolaborasi antara kekuatan lokal (kemungkinan Arya Wiraraja dari Madura yang memiliki dendam pribadi terhadap Kertanegara) dengan armada Mongol—entah sebagai pemandu, penyedia intelijen, atau sekutu oportunistik.

Skala armada ini sebanding dengan invasi Mongol ke Jepang (1274 dan 1281), yang bahkan lebih besar. Jelas bahwa ini bukan sekadar misi diplomatik, melainkan kampanye penaklukan.

BAGIAN II: KETIKA MUSUH YANG DICARI TELAH MATI

Kematian Kertanegara: Konspirasi yang Mengubah Segalanya

Sebelum armada Mongol tiba, tahun 1292, sebuah peristiwa dramatis mengguncang Singhasari. Jayakatwang, Adipati Kediri dan keturunan Dinasti Kediri yang dulu dikalahkan Ken Arok, bangkit memberontak. Dalam serangan mendadak ke istana Singhasari, Kertanegara terbunuh. Pararaton menceritakan sang raja sedang dalam keadaan mabuk saat diserang—mungkin sedang menjalani ritual Tantra yang sering dilakukannya.

Jayakatwang kemudian mendirikan kembali Kerajaan Kediri dengan dirinya sebagai raja. Namun kekuasaannya rapuh. Banyak bangsawan Singhasari yang melarikan diri, termasuk Raden Wijaya—menantu Kertanegara yang telah menikahi putrinya, Gayatri.

Pernikahan Raden Wijaya dengan Gayatri bukan sekadar ikatan politik biasa. Gayatri adalah putri mahkota Singhasari, pewaris langsung takhta ayahnya. Ketika Kertanegara terbunuh dan Jayakatwang merebut kekuasaan, legitimasi Raden Wijaya sebagai “pewaris sah” Singhasari menjadi kartu politik yang sangat kuat—baik di mata para bangsawan Singhasari yang tersebar maupun, nantinya, di mata komandan Mongol.

Strategi Brilian Raden Wijaya

Ini adalah momen paling krusial. Ketika armada Mongol tiba di pantai utara Jawa pada awal 1293, Raden Wijaya mengambil langkah berani. Ia mendatangi komandan Mongol dengan proposal: ia akan membantu Mongol mengalahkan Jayakatwang—pembunuh Kertanegara yang juga dicari Mongol—sebagai balasan atas dukungan untuk merebut kembali takhta Singhasari.

Argumen Raden Wijaya sangat persuasif: ia adalah menantu raja yang sah, suami dari Putri Gayatri, dan karena itu pewaris yang legitimate. Jayakatwang adalah pembunuh dan perampas tahta. Dengan membantu Raden Wijaya, Mongol sebenarnya sedang “menegakkan keadilan” dan menghukum pembunuh raja yang telah menghina Kublai Khan.

Catatan Yuan Shi menyebut ada seseorang dari Jawa yang datang “menyerah” dan menawarkan diri sebagai pemandu. Nagarakertagama, epik Jawa dari 1365 yang ditulis pujangga Mpu Prapanca, mengkonfirmasi bahwa Raden Wijaya memang “bersekutu” dengan Mongol.

Pertanyaan besarnya: apakah komandan Mongol tahu bahwa mereka sedang dimanipulasi?

BAGIAN III: PERTEMPURAN—KEHANCURAN KEDIRI

Kampanye Militer Gabungan

Dengan Raden Wijaya sebagai pemandu, pasukan Mongol bergerak dari pesisir menuju pedalaman Jawa. Mereka mengikuti jalur sungai Brantas, urat nadi Kerajaan Kediri.

Menurut Pararaton, pertempuran berlangsung di beberapa lokasi:

Pertempuran di Daha (ibu kota Kediri): Pasukan Jayakatwang tidak mampu menahan serangan kombinasi teknologi perang Mongol—panah komposit dengan jangkauan lebih jauh, formasi tempur yang telah teruji di berbagai benua—ditambah pengetahuan lokal dari pasukan Raden Wijaya tentang medan dan taktik musuh.

Yuan Shi mencatat bahwa pertempuran berlangsung sengit, namun dalam hitungan minggu, Kediri runtuh. Jayakatwang tertangkap dan diserahkan kepada Raden Wijaya.

Angka Korban: Catatan yang Mengerikan

Dokumen Tiongkok mencatat bahwa pasukan Mongol “membunuh 5.000 orang” dalam kampanye ini. Namun angka ini kemungkinan hanya menghitung prajurit musuh yang tewas dalam pertempuran langsung, tidak termasuk korban sipil atau mereka yang mati karena kelaparan dan penyakit akibat perang.

Profesor Romeyn Taylor dari University of Minnesota, dalam analisisnya tentang ekspedisi Mongol ke Asia Tenggara, berpendapat bahwa pola perang Mongol di Jawa relatif “lebih terkendali” dibanding kampanye mereka di tempat lain—mungkin karena tujuan utama mereka adalah penaklukan politik, bukan penghancuran total.

BAGIAN IV: PENGKHIANATAN—DRAMA DI HUTAN TARIK

Manuver Terakhir Raden Wijaya

Setelah Jayakatwang dikalahkan, Raden Wijaya mengajukan permintaan kepada komandan Mongol: ia ingin kembali ke wilayah yang telah dijanjikan kepadanya—Hutan Tarik—untuk mempersiapkan penyerahan resmi kerajaan kepada Dinasti Yuan. Komandan Mongol, Shi-bi dan Kao-hsing, menyetujui.

Ini adalah kesalahan fatal mereka.

Di Tarik, Raden Wijaya telah mempersiapkan pasukan. Menurut Nagarakertagama, begitu pasukan Mongol terpecah—sebagian kembali ke kapal, sebagian masih di darat dalam formasi longgar setelah kemenangan—Raden Wijaya menyerang.

Pararaton menggambarkan ini sebagai “perang tiba-tiba di waktu senja,” ketika pasukan Mongol lengah. Yuan Shi mengkonfirmasi bahwa mereka “diserang oleh pasukan lokal yang sebelumnya bersekutu dengan mereka.”

Kerugian Mongol: Versi yang Berbeda

Inilah salah satu misteri terbesar dari kisah ini. Berbagai sumber memberikan angka yang sangat berbeda tentang korban Mongol:

Yuan Shi: Menyebut 3.000 pasukan tewas dalam pertempuran terakhir ini. Angka ini signifikan—sekitar 10-15% dari total kekuatan ekspedisi.

Pararaton: Mengklaim pasukan Mongol “dihancurkan” dan “melarikan diri ke kapal dengan tergesa-gesa,” mengimplikasikan kekalahan besar.

Nagarakertagama: Lebih diplomatis, menyebut bahwa “tatars” (sebutan untuk Mongol) “kembali ke negeri mereka” setelah Wijaya “membuktikan dirinya.”

Profesor Peter Jackson, sejarawan Mongol dari University of Keele, berpendapat bahwa meskipun Mongol mengalami kerugian signifikan, mereka tidak dihancurkan total. Mereka berhasil mundur ke kapal dengan formasi yang cukup teratur, membawa sebagian besar armada mereka kembali ke Tiongkok—meskipun tanpa hasil yang diharapkan.

BAGIAN V: KELAHIRAN MAJAPAHIT DAN REAKSI MONGOL

Berdirinya Kerajaan Baru

Pada tahun 1293, setelah armada Mongol pergi, Raden Wijaya secara resmi mendirikan kerajaan baru: Majapahit. Ia mengambil gelar Sri Kertarajasa Jayawardhana. Lokasi ibukota barunya dipilih di Tarik (Trowulan), jauh dari Singhasari yang telah jatuh.

Gayatri, istrinya yang merupakan putri Kertanegara, menjadi permaisuri pertama Majapahit. Dari pernikahan mereka, lahir beberapa anak termasuk Tribhuwana—yang kelak akan menjadi salah satu ratu paling berkuasa dalam sejarah Majapahit. Tribhuwana Wijayatunggadewi akan memerintah Majapahit (1328-1350) di masa kejayaannya, melanjutkan warisan kakek dan ayahnya.

Legitimasi dinasti Majapahit sangat bergantung pada garis keturunan ini: Raden Wijaya bisa mengklaim dirinya sebagai pewaris sah Singhasari melalui pernikahannya dengan Gayatri, putri Raja Kertanegara. Anak-anak mereka, termasuk Tribhuwana, membawa darah kerajaan Singhasari yang mulia.

Dalam Nagarakertagama, Mpu Prapanca merayakan ini sebagai kemenangan brilian—seorang raja muda yang mengalahkan dua musuh sekaligus: pemberontak Jayakatwang dan penjajah Mongol, dengan membuat keduanya saling berhadapan.

Respons Kublai Khan: Kemarahan yang Tertahan

Yang mengejutkan, Kublai Khan tidak mengirim ekspedisi balasan. Yuan Shi mencatat bahwa ketika laporan kegagalan tiba di Dadu pada 1294, Khagan sudah tua dan sakit. Ia meninggal pada Februari 1294, beberapa bulan setelah mendengar berita dari Jawa.

Penggantinya, Temür Khan (Chengzong), memiliki prioritas berbeda. Ia lebih fokus pada konsolidasi wilayah yang sudah dikuasai daripada ekspansi lebih jauh. Jawa pun luput dari balas dendam Mongol.

Namun, ada teori alternatif dari Dr. Sun Laichen (California State University): mungkin Mongol menyadari bahwa biaya invasi ulang ke Jawa—dengan jarak yang jauh, medan yang sulit, dan musuh yang kini waspada—tidak sebanding dengan manfaat potensialnya. Pengalaman pahit di Jepang (dimana armada Mongol hancur karena topan kamikaze pada 1281) mungkin juga membuat mereka lebih berhati-hati dengan kampanye maritim besar.

BAGIAN VI: KONTROVERSI DAN PERTANYAAN YANG TERSISA

Apakah Arya Wiraraja Benar-benar Agen Ganda?

Salah satu misteri terbesar adalah peran Arya Wiraraja, Adipati Madura. Menurut tradisi Jawa dalam Pararaton, dialah “dalang” di balik seluruh rencana:

– Ia yang menghasut Jayakatwang memberontak melawan Kertanegara

– Ia yang memberikan informasi kepada Mongol tentang situasi di Jawa

– Ia yang membisikkan strategi kepada Raden Wijaya untuk bersekutu sementara dengan Mongol

Catatan Tiongkok menyebut seorang pemandu bernama “Po-ta-ha-lu” yang ikut dalam ekspedisi. Banyak sejarawan mengidentifikasi ini sebagai nama “Bhra Wiraraja” atau Arya Wiraraja.

Jika ini benar, maka Wiraraja adalah pemain paling Machiavellian dalam drama ini—seorang yang memanipulasi tiga kekuatan besar (Singhasari, Kediri, dan Mongol) untuk kepentingan politiknya sendiri dan kerajaan Majapahit yang baru. Sebagai imbalan, Wiraraja mendapat posisi tinggi di Majapahit dan wilayah kekuasaan yang luas di Madura.

Namun, Profesor M.C. Ricklefs dari National University of Singapore mengingatkan bahwa Pararaton ditulis lebih dari seratus tahun setelah kejadian, dan mungkin mengandung mitologisasi. Arya Wiraraja mungkin tidak se-master-mind itu, dan kisahnya mungkin telah dibesar-besarkan oleh penulis kemudian untuk menambah drama.

Mengapa Komandan Mongol Terjebak?

Pertanyaan ini mengganggu: bagaimana mungkin jenderal-jenderal Mongol yang berpengalaman—yang telah berperang di Persia, Tiongkok, dan Asia Tengah—bisa tertipu oleh manuver Raden Wijaya?

Beberapa penjelasan yang diajukan sejarawan:

1. Keterbatasan Intelijen: Mongol tidak familiar dengan situasi politik lokal Jawa yang sangat kompleks. Mereka melihat konflik dalam kerangka sederhana: raja (Kertanegara) yang menghina mereka, dan pemberontak (Jayakatwang) yang membunuh raja itu. Raden Wijaya sebagai “menantu raja yang sah, suami Putri Gayatri” tampak seperti sekutu alami yang legitimate.

2. Preseden Historis: Mongol telah berhasil menggunakan taktik “divide and rule” di tempat lain. Di Tiongkok, mereka memanfaatkan perpecahan antara Sung Selatan dan Jin. Di Persia, mereka menggunakan sekutu lokal melawan Abbasiyah. Strategi Raden Wijaya tampak seperti pola yang sudah familiar.

3. Keserakahan: Setelah kemenangan atas Kediri, pasukan Mongol mungkin lengah dan lebih fokus pada jarahan perang daripada tetap waspada. Ini pola yang berulang dalam sejarah militer.

4. Logistik: Armada besar tidak bisa berlabuh selamanya. Komandan Mongol mungkin di bawah tekanan untuk menyelesaikan misi dan kembali sebelum musim topan. Ini membuat mereka terburu-buru dan kurang cermat.

Berapa Sebenarnya Korban?

Angka korban tetap menjadi perdebatan. Estimasi modern berkisar:

Korban militer Mongol: 3.000-5.000 orang

Korban militer Jawa (Kediri dan Singhasari): 5.000-10.000 orang

Korban sipil: Tidak tercatat, kemungkinan puluhan ribu

Profesor Geoff Wade menekankan bahwa dalam peperangan abad ke-13, korban sipil—akibat pembakaran ladang, kelaparan, penyakit—sering melebihi korban tempur. Kampanye militer di Jawa pada 1293 kemungkinan menyebabkan krisis kemanusiaan signifikan, meskipun sumber-sumber tidak mencatatnya dengan detail.

BAGIAN VII: WARISAN SEJARAH—MENGAPA KISAH INI PENTING

Kemenangan Diplomasi atas Kekuatan Militer

Kisah Raden Wijaya melawan Mongol menjadi salah satu contoh klasik bagaimana diplomasi dan kecerdikan strategis bisa mengalahkan kekuatan militer superior. Dalam narasi nasional Indonesia, ini menjadi simbol ketahanan dan kecerdikan nusantara menghadapi ancaman asing.

Majapahit yang lahir dari episode ini akan menjadi kerajaan terbesar di Nusantara, menguasai wilayah dari Sumatera hingga Papua selama hampir dua abad. Ini adalah warisan langsung dari “kemenangan” atas Mongol.

Gayatri dan Raden Wijaya menjadi pendiri dinasti yang akan memerintah selama beberapa generasi. Anak-anak mereka, termasuk Tribhuwana yang kelak menjadi ratu, melanjutkan ekspansi dan konsolidasi kekuasaan Majapahit hingga mencapai puncak kejayaannya di bawah Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada.

Dari Perspektif Mongol: Ekspedisi yang Gagal

Bagi Dinasti Yuan, ekspedisi Jawa adalah salah satu dari sedikit kampanye militer besar mereka yang gagal total mencapai tujuan. Selain dua kali invasi ke Jepang yang hancur karena topan, ekspedisi ke Jawa menjadi pengingat bahwa bahkan kekaisaran terbesar memiliki batas kekuasaannya.

Dalam Yuan Shi, episode ini dicatat dengan nada yang agak memalukan. Tidak ada parade kemenangan, tidak ada wilayah baru yang ditambahkan ke kekaisaran. Yang ada hanyalah laporan tentang “penduduk lokal yang tidak bisa dipercaya” dan “medan yang sulit.”

Hubungan Majapahit-Yuan Setelahnya

Yang menarik, setelah episode 1293, hubungan antara Majapahit dan Dinasti Yuan berangsur membaik. Catatan Tiongkok mencatat bahwa pada 1295 dan tahun-tahun berikutnya, ada misi diplomatik dari Jawa ke Dadu, meskipun status politiknya ambigu—bukan sebagai negara vasal, tapi juga bukan musuh terbuka.

Perdagangan antara Jawa dan Tiongkok terus berlanjut dan bahkan meningkat di era Majapahit. Keramik Tiongkok dari era Yuan ditemukan dalam jumlah besar di situs-situs Majapahit, menunjukkan bahwa hubungan ekonomi tidak terganggu oleh konflik politik sebelumnya.

EPILOG: PELAJARAN DARI 1293

Ketika kita merekonstruksi kisah tahun 1293 dari berbagai sumber—kronik istana Tiongkok yang kering dan faktual, epik Jawa yang penuh simbolisme, prasasti candi yang fragmentaris—kita mendapati sebuah drama yang luar biasa kompleks.

Ini bukan cerita hitam-putih tentang pahlawan melawan penjajah. Ini adalah kisah tentang:

– Ambisi pribadi (Kertanegara yang sombong, Jayakatwang yang dendam, Raden Wijaya yang oportunistik)

– Ikatan keluarga dan legitimasi kekuasaan (pernikahan Raden Wijaya dengan Gayatri, kelahiran Tribhuwana dan dinasti Majapahit)

– Kekuatan geopolitik (Mongol yang ekspansif, kerajaan-kerajaan Nusantara yang bersaing)

– Kebetulan sejarah (waktu kematian Kertanegara, lokasi pendaratan Mongol, usia lanjut Kublai Khan)

– Dan di atas segalanya, tentang betapa rapuhnya kekuasaan politik dan bagaimana momentum sejarah bisa berubah dalam sekejap

Jika Kertanegara tidak terbunuh sebelum Mongol tiba, mungkin Singhasari yang menjadi korban invasi dan tidak akan pernah ada Majapahit. Jika Raden Wijaya tidak menikahi Gayatri dan tidak memiliki legitimasi sebagai menantu raja, mungkin komandan Mongol tidak akan mempercayainya. Jika Kublai Khan masih muda dan sehat pada 1294, mungkin akan ada ekspedisi balasan yang menghancurkan kerajaan Wijaya yang baru. Jika komandan Mongol lebih waspada di Tarik, mungkin Jawa akan menjadi provinsi Yuan seperti Yunnan atau Burma.

Namun sejarah tidak mengenal “jika”. Yang terjadi adalah: seorang bangsawan pengungsi, melalui pernikahannya dengan putri raja, berhasil memanfaatkan konflik antara pemberontak lokal dan kekaisaran super power untuk membangun kerajaan baru yang akan bertahan berabad-abad. Keturunan mereka—termasuk Tribhuwana dan raja-raja Majapahit berikutnya—akan membawa Nusantara ke era kejayaan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Dan ekspedisi yang dikirim untuk menghukum penghinaan, malah secara tidak sengaja membantu melahirkan salah satu kerajaan terbesar dalam sejarah Nusantara.

Inilah ironi terbesar dari drama Mongol-Jawa tahun 1293.(*)

Catatan Sumber:

Investigasi ini disusun berdasarkan analisis berbagai sumber primer dan sekunder, termasuk: Yuan Shi (Sejarah Dinasti Yuan), Pararaton, Nagarakertagama, prasasti Kudadu dan prasasti-prasasti lain dari era Majapahit awal, serta penelitian modern dari sejarawan seperti Geoff Wade, M.C. Ricklefs, Peter Jackson, Sun Laichen, Romeyn Taylor, dan lainnya yang telah mengabdikan karir mereka untuk memahami periode krusial ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Exit mobile version