Kabar

Keterbatasan Lahan tak Halangi Keikutsertaan Sekolah-sekolah di Jatim dalam Program SIKAP

Published

on

Kadindik Aries Agung(kiri) dan Gubernur Khofifah saat hadir dalam kesempatan tersebut(foto: istimewa)

KEDIRI, JAYAKARTA NEWS—Ada yang menarik saat kegiatan penanaman ragam tanaman produktif, penaburan benih ikan, dan panen serentak yang dihadiri Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa bersama rubuan 110.481 guru dan murid se-Jawa Timur, yang dipusatkan di SMKN 1 Plosoklaten, Kabupaten Kediri, Minggu (25/1).

Saat itu Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Aries Agung Paewai menyampaikan bahwa hingga saat ini sebanyak 754 sekolah negeri dan swasta, baik SMA, SMK, maupun SLB, telah mengikuti Program SIKAP dari total sekitar 4.300 sekolah di Jawa Timur.

Menurutnya, partisipasi tersebut sangat luar biasa, mengingat sebagian sekolah memiliki keterbatasan lahan.

Namun, keterbatasan tersebut disiasati dengan optimalisasi lahan. Sekolah yang tidak memiliki lahan luas namun tetap punya semangat mengikuti program SIKAP(Sekolah Inovasi Ketahanan Pangan).

Caranya, menggunakan lahan minimalis melalui sistem hidroponik karena sekolah senang bersama muridnya bisa implementasi langsung di luar ruang kelas.

Jenis tanaman yang dikembangkan pun disesuaikan dengan kondisi dan karakteristik wilayah masing-masing.

“Di SMK, kegiatan ini selaras dengan aspek marketing dan produksi, sementara di sekolah umum, hasil tanaman dapat dibeli oleh guru maupun siswa sendiri sehingga tercipta ekosistem saling mendukung antar sekolah,” katanya.

Gubernur Khofifah juga menjelaskan, bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari penguatan Program SIKAP yang dikembangkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur sebagai model pendidikan kontekstual dan berkelanjutan.

Melalui Program SIKAP, sekolah tidak hanya berfungsi sebagai ruang transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang praktik, pembentukan karakter, serta laboratorium sosial yang melatih kemandirian dan kepedulian peserta didik terhadap isu ketahanan pangan.

“Sekolah harus menjadi ruang belajar yang hidup. Anak-anak belajar teori sekaligus praktik menanam, merawat, memanen, dan mengelola hasilnya,” ujarnya.***poedji

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Exit mobile version