Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the zox-news domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/jayakartanews.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6260
Kemeriahan Karnaval 200 Tahun Kelenteng Eng Ang Kiong: Ribuan Tamu Internasional Memadati Malang - Jayakarta News

Kabar

Kemeriahan Karnaval 200 Tahun Kelenteng Eng Ang Kiong: Ribuan Tamu Internasional Memadati Malang

Published

on

Oleh : Heri Mulyono

Kota Malang telah menjadi saksi perayaan bersejarah yang memukau dunia. Sabtu, 28 September 2025, ribuan orang dari tujuh negara dan berbagai penjuru Nusantara memadati jalan-jalan utama kota untuk merayakan dua abad keberadaan Kelenteng Eng Ang Kiong. Perayaan yang berlangsung meriah ini bukan sekadar momen spiritual, melainkan festival budaya internasional yang menunjukkan kekayaan tradisi dan toleransi yang telah mengakar selama 200 tahun di Kota Apel.

Karnaval Spektakuler yang Memukau Dunia

Panitia memperkirakan tamu internasional yang hadir mencapai 1.300 hingga 1.500 orang, berasal dari Malaysia, Singapura, Myanmar, Brunei Darussalam, Makau, Hongkong, hingga Tiongkok. Sementara dari dalam negeri, jumlah tamu diperkirakan 2.000 hingga 2.500 orang, belum termasuk masyarakat umum yang turut menyemarakkan jalannya kirab. Angka fantastis ini menunjukkan betapa besar daya tarik perayaan 200 tahun Kelenteng Eng Ang Kiong bagi dunia internasional.

Kirab budaya diberangkatkan dengan rute melintasi Jalan Gatot Subroto – Jalan Trunojoyo – Jalan Kertanegara – Alun-Alun Tugu Malang – Jalan Mgr Sugiyopranoto – Jalan Kauman – Perempatan Kasin – Jalan Ade Irma Suryani – Jalan Pasar Besar, lalu kembali ke Kelenteng Eng An Kiong. Sepanjang rute ini, ribuan mata menyaksikan parade budaya yang menampilkan harmoni antara tradisi Tionghoa dan kearifan lokal Jawa.

Kirab menampilkan beragam atraksi budaya seperti barongsai, reog Malang, topeng Malangan, hingga prosesi syukuran dengan polo pendem. Selain itu, 12 busana adat Nusantara turut diperagakan sebagai bentuk penghormatan terhadap keberagaman budaya Indonesia. Perpaduan seni tradisional ini menjadi bukti nyata bagaimana keberagaman dapat bersatu dalam keindahan.

Suasana perayaan dua abad Kelenteng Eng Ang Kiong. (foto: heri mulyono)

World Tua Pek Kong Festival ke-14: Momentum Bersejarah

Perayaan ini juga menjadi bagian dari World Tua Pek Kong Festival ke-14, sebuah event budaya internasional yang semakin memperkuat posisi Malang di kancah dunia. Kevin Chistian Chandra, perwakilan panitia, menjelaskan bahwa Tua Pek Kong merupakan dewa utama yang diyakini sebagai simbol perlindungan, kesuburan, dan keberkahan bagi masyarakat. “Momentum dua abad Kelenteng Eng An Kiong ini istimewa. Tamu dari berbagai daerah bahkan mancanegara hadir untuk meramaikan perayaan bersejarah ini,” ujarnya.

Rangkaian peringatan diawali dengan doa pagi bersama di Kelenteng Eng An Kiong, Jalan Laksamana Martadinata, untuk memohon kelancaran acara dan keselamatan seluruh peserta. Atmosfer spiritual yang khidmat ini menjadi pembuka yang tepat untuk perayaan yang kemudian berlanjut dengan kemeriahan karnaval di jalan-jalan kota.

Pelakon Arjun dan Punokawan (Semar, Gareng, Petruk, Bagong) ikut memeriahkan acara. (foto: heri mulyono)

Jejak Sejarah yang Panjang

Kelenteng Eng Ang Kiong didirikan pada tahun 1825, ketika Malang masih berada di bawah pemerintahan kolonial Belanda. Nama “Eng Ang Kiong” sendiri memiliki makna mendalam dalam bahasa Hokkien, yang berarti “Istana Dewa Penjaga Ketenangan dan Kedamaian”. Penamaan ini mencerminkan harapan para pendiri agar kelenteng ini menjadi tempat yang membawa ketenangan bagi umat dan masyarakat sekitar.

Pendirian kelenteng ini tidak terlepas dari gelombang migrasi masyarakat Tionghoa ke Nusantara pada abad ke-19. Para pendatang dari berbagai daerah di Tiongkok, terutama dari provinsi Fujian dan Guangdong, membawa serta tradisi, budaya, dan kepercayaan mereka. Di tanah Malang, mereka tidak hanya membangun kehidupan ekonomi, tetapi juga mendirikan tempat ibadah sebagai pusat spiritual dan sosial komunitas.

Arsitektur kelenteng ini memadukan gaya tradisional Tiongkok dengan sentuhan lokal Jawa. Atap yang melengkung khas dengan ornamen naga dan phoenix, pilar-pilar yang diukir indah, serta warna merah dan emas yang mendominasi, menciptakan atmosfer sakral yang khas. Setiap sudut bangunan sarat dengan filosofi dan simbolisme yang mendalam, dari bentuk atap yang melambangkan langit hingga ornamen yang menceritakan kisah-kisah legendaris.

Tak ketinggalan atraksi barongsai. (foto: heri mulyono)

Dampak Ekonomi dan Pariwisata yang Signifikan

Perayaan 200 tahun Kelenteng Eng Ang Kiong telah membuktikan potensi luar biasa dari wisata budaya dan religius Kota Malang. Kedatangan ribuan wisatawan internasional dan domestik memberikan dampak ekonomi yang sangat positif bagi sektor pariwisata, perhotelan, kuliner, dan transportasi. Hotel-hotel di Malang dilaporkan penuh terisi, sementara pedagang dan penyedia jasa wisata merasakan lonjakan pendapatan yang signifikan.

Ketua Yayasan Klenteng Eng An Kiong, Rudi Phan, menegaskan bahwa perayaan dua abad ini bukan hanya perayaan keagamaan, tetapi juga momentum untuk memperkenalkan Malang sebagai destinasi wisata budaya. “Kelenteng Eng An Kiong telah menjadi bagian dari sejarah Kota Malang sejak dua abad lalu. Melalui perayaan ini, kami ingin menunjukkan bahwa Malang tidak hanya dikenal sebagai kota pendidikan, tetapi juga kota dengan kekayaan budaya yang mendunia,” ujarnya.

Pemerintah Kota Malang turut menyambut baik kegiatan ini. Selain mempererat kerukunan umat beragama, perayaan dua abad Kelenteng Eng An Kiong diharapkan dapat memperkuat citra Kota Malang sebagai destinasi wisata religi dan budaya di tingkat nasional maupun internasional.

Kemeriahan suasana. (foto: heri mulyono)

Menapak Jejak Masa Lalu: Tokoh dan Peristiwa Bersejarah

Sepanjang sejarahnya, Kelenteng Eng Ang Kiong telah menjadi tempat berkumpulnya berbagai tokoh penting, baik dari kalangan pengusaha, budayawan, maupun pemimpin komunitas. Beberapa tokoh terkemuka komunitas Tionghoa Malang pernah aktif dalam pengembangan dan pemeliharaan kelenteng ini, meninggalkan warisan yang dapat dirasakan hingga hari ini.

Pada masa penjajahan Jepang (1942-1945), kelenteng ini mengalami masa-masa sulit. Seperti banyak tempat ibadah lainnya, aktivitas keagamaan di kelenteng dibatasi oleh pemerintah pendudukan. Namun, komunitas setempat tetap berusaha mempertahankan tradisi dan ritual keagamaan mereka dengan cara-cara yang lebih diskrit.

Era kemerdekaan Indonesia membawa angin segar bagi Kelenteng Eng Ang Kiong. Meskipun menghadapi berbagai tantangan politik dan sosial, terutama pada masa Orde Baru ketika ekspresi budaya Tionghoa dibatasi, kelenteng ini tetap bertahan dan bahkan mengalami pemugaran bertahap. Dedikasi dan ketekunan para pengurus kelenteng dalam mempertahankan warisan budaya ini patut mendapat apresiasi tinggi.

Suasana di dalam kelenteng Eng Ang Kiong. (foto: heri mulyono)

Tradisi dan Ritual yang Terjaga

Selama 200 tahun, Kelenteng Eng Ang Kiong telah menjadi pusat berbagai tradisi dan ritual keagamaan yang kaya akan makna spiritual. Perayaan Tahun Baru Imlek merupakan momen paling meriah, di mana ribuan umat dan wisatawan memadati kelenteng untuk berdoa, menyaksikan pertunjukan barongsai, dan menikmati berbagai kuliner khas Tionghoa.

Cap Go Meh atau perayaan hari kelima belas Tahun Baru Imlek juga menjadi tradisi yang tidak terpisahkan dari kalender keagamaan kelenteng ini. Acara pawai budaya yang melibatkan berbagai elemen masyarakat Malang menunjukkan bagaimana tradisi Tionghoa telah menjadi bagian dari identitas kultural kota ini.

Selain perayaan besar, ritual harian dan bulanan juga tetap terjaga dengan baik. Persembahan dupa, buah-buahan, dan makanan kepada para dewa, pembacaan doa-doa dalam bahasa Mandarin dan Hokkien, serta praktik meditasi dan kontemplasi spiritual terus dilakukan oleh umat yang datang dari berbagai penjuru kota.

Hio loo atau tempat abu dupa di Kelenteng Eng Ang Kiong. (foto: heri mulyono)

Arsitektur dan Seni yang Memukau

Aspek arsitektur Kelenteng Eng Ang Kiong merupakan salah satu daya tarik utama yang membuat bangunan ini begitu istimewa. Setiap elemen arsitektur memiliki filosofi dan makna tersendiri, mulai dari bentuk atap yang melambangkan hubungan antara dunia manusia dan langit, hingga warna-warna yang dipilih berdasarkan konsep feng shui.

Ornamen-ornamen yang menghiasi kelenteng ini merupakan karya seni yang luar biasa. Ukiran naga yang meliuk-liuk di pilar-pilar utama melambangkan kekuatan dan kebijaksanaan, sementara burung phoenix yang terpampang di berbagai sudut melambangkan kelahiran kembali dan kebahagiaan. Lukisan-lukisan di dinding yang menceritakan kisah-kisah dari mitologi Tionghoa memberikan dimensi edukatif bagi pengunjung.

Altar utama yang megah dengan patung-patung dewa yang dilapisi emas menunjukkan tingkat keahlian dan dedikasi para pengrajin masa lalu. Setiap detail, dari ekspresi wajah patung hingga lipatan baju, dikerjakan dengan presisi tinggi yang mencerminkan penghormatan mendalam terhadap nilai-nilai spiritual.

Tambur, gong, dan simbal pengiring barongsai turut memeriahkan suasana. (foto: heri mulyono)

Tantangan dan Upaya Pelestarian

Memasuki abad ke-21, Kelenteng Eng Ang Kiong menghadapi berbagai tantangan dalam upaya pelestarian. Arus modernisasi yang pesat, perubahan demografi kota, dan tantangan ekonomi menjadi faktor-faktor yang harus dihadapi dengan bijaksana. Namun, semangat para pengurus dan dukungan masyarakat luas memberikan optimisme untuk masa depan kelenteng ini.

Upaya renovasi dan pemeliharaan telah dilakukan secara berkala dengan melibatkan ahli konservasi bangunan bersejarah. Prinsip yang dipegang adalah mempertahankan keaslian arsitektur dan ornamen sambil melakukan perbaikan struktural yang diperlukan untuk menjaga keamanan dan kenyamanan pengunjung.

Program edukasi dan sosialisasi juga gencar dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, terutama generasi muda, tentang nilai-nilai sejarah dan budaya yang terkandung dalam kelenteng ini. Kerjasama dengan sekolah-sekolah, universitas, dan lembaga budaya menjadi strategi penting dalam upaya pelestarian ini.

Kelenteng sebagai Destinasi Wisata Budaya

Dalam perkembangannya, Kelenteng Eng Ang Kiong tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi salah satu destinasi wisata budaya unggulan Kota Malang. Keunikan arsitektur, kekayaan sejarah, dan tradisi yang masih terjaga menarik perhatian wisatawan domestik maupun mancanegara.

Pemerintah Kota Malang telah memasukkan kelenteng ini dalam paket wisata heritage city, bersama dengan bangunan-bangunan bersejarah lainnya. Hal ini tidak hanya memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar, tetapi juga meningkatkan apresiasi publik terhadap keberagaman budaya yang dimiliki Indonesia.

Kegiatan festival budaya yang rutin diselenggarakan di kelenteng ini juga turut memperkaya khazanah wisata budaya Malang. Pertunjukan musik tradisional, pameran seni, dan workshop budaya menjadi daya tarik tambahan yang membuat pengunjung dapat merasakan pengalaman budaya yang lebih mendalam.

Visi ke Depan: Melestarikan untuk Generasi Mendatang

Memasuki usia ke-200 tahun, Kelenteng Eng Ang Kiong memiliki visi besar untuk terus menjadi pusat spiritualitas, budaya, dan harmoni sosial di Kota Malang. Rencana pengembangan jangka panjang meliputi peningkatan fasilitas untuk kegiatan keagamaan dan budaya, program pelestarian artefak bersejarah, serta inisiatif pendidikan budaya yang lebih sistematis.

Kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, akademisi, dan komunitas budaya, menjadi kunci dalam mewujudkan visi ini. Penggunaan teknologi digital untuk dokumentasi dan promosi juga menjadi strategi penting untuk menjangkau generasi muda yang lebih akrab dengan dunia digital.

Yang tidak kalah penting adalah upaya untuk mempertahankan esensi spiritual dan nilai-nilai luhur yang telah menjadi fondasi kelenteng ini selama dua abad. Di tengah arus perubahan zaman, Kelenteng Eng Ang Kiong tetap berkomitmen untuk menjadi tempat yang memberikan kedamaian, wisdom, dan inspirasi bagi siapa saja yang datang dengan hati terbuka.

Warisan yang Harus Dijaga

Perayaan 200 tahun Kelenteng Eng Ang Kiong yang telah berlangsung dengan sangat meriah pada 28 September 2025 menjadi momentum bersejarah yang tidak akan terlupakan. Kehadiran ribuan tamu dari tujuh negara dan partisipasi masif masyarakat Indonesia menunjukkan bahwa warisan budaya ini telah berhasil melampaui batas-batas geografis dan menjadi milik dunia.

Kemeriahan karnaval budaya dengan 3.000 peserta kirab, pertunjukan barongsai yang memukau, dan parade busana adat Nusantara telah membuktikan bahwa keberagaman bukan penghalang, melainkan kekayaan yang memperkuat jati diri bangsa. Perayaan ini juga menandai keberhasilan Kota Malang dalam memposisikan diri sebagai destinasi wisata budaya dan religius bertaraf internasional.

Kelenteng Eng Ang Kiong telah membuktikan bahwa tradisi yang dijaga dengan baik dapat bertahan dan bahkan berkembang di tengah dinamika zaman. Dua abad keberadaannya menjadi bukti bahwa nilai-nilai luhur seperti toleransi, harmoni, dan kebijaksanaan akan selalu relevan dalam perjalanan peradaban manusia.

Kini, setelah perayaan spektakuler ini berakhir, tanggung jawab untuk melanjutkan estafet pelestarian berada di tangan kita semua. Dengan penghargaan yang mendalam terhadap sejarah dan komitmen kuat untuk masa depan, Kelenteng Eng Ang Kiong akan terus berdiri sebagai mercusuar budaya yang menerangi perjalanan Kota Malang menuju masa depan yang lebih harmonis dan berkeadaban. Perayaan 200 tahun ini bukan akhir, melainkan awal dari babak baru yang lebih gemilang. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Exit mobile version