Kabar

Kapitayan Akar Spiritual Masyarakat Jawa

Published

on

Gde Mahesa

Kapitayan, dianggap agama yang terselubung kabut waktu, menyimpan dalam dirinya kearifan dan keyakinan akan adanya satu Tuhan yang Maha Esa merupakan warisan spiritual yang telah mengakar dalam jiwa masyarakat Jawa sejak zaman purba. Jauh sebelum pengaruh agama  menyentuh tanah Jawa, Kapitayan telah mengajarkan konsep monotheisme kepada masyarakatnya.

Keyakinan Sang Hyang Tunggal, atau Tuhan Yang Maha Esa, disebut juga Sang Hyang Taya, adalah sumber dari segala ciptaan, dzat yang Maha Kuasa, Maha Pengasih, dan Maha Penyayang.

Manusia adalah makhluk yang memiliki potensi kesempurnaan spiritual melalui pengabdian dan penyerahan diri. Nilai-nilai kemuliaan yang menjadi landasan kehidupan masyarakat Jawa, menghormati para leluhur, menghargai alam, dan menjaga keseimbangan antara manusia dengan lingkungannya adalah prinsip-prinsip yang dijunjung tinggi.

Di sini leluhur dianggap sebagai penghubung antara dunia manusia dengan dunia spiritual.
Upacara-upacara adat yang dilakukan untuk menghormati leluhur menjadi sarana mempererat ikatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Semesta ini harus dijaga dan dilestarikan. Sebab merupakan tanggung jawab untuk kseelarasan dengan alam, dan menjaga keseimbangan ekosistem.

Keyakinan ini, kaya akan simbolisme dan ritual. Salah satu simbol adalah Gunung Semeru, yang dianggap sebagai tempat bersemayamnya para dewa. Adapun ritual-ritual berupa persembahan, doa, dan tarian yang khidmat.

Kapitayan mengalami pasang surut sepanjang sejarah, namun nilai-nilai dan kearifannya tetap relevan hingga saat ini, dan menawarkan alternatif bagi masyarakat untuk kembali kepada akar budayanya dengan menemukan kedamaian spiritual yang mengajarkan menghargai keberagaman, hidup selaras dengan alam, serta menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Dalam Kapitayan, konsep doa tidak merujuk pada ritual formal dengan rangkaian kata tertentu seperti dalam agama lain. Kapitayan, sebagai agama leluhur Jawa yang monoteistik, menekankan pada hubungan pribadi dengan Sang Hyang Taya, yang bersifat abstrak dan tidak dapat digambarkan.

Doa dalam Kapitayan tidak terikat teks, atau tata cara tertentu. Setiap individu bebas mengungkapkan rasa syukur, permohonan, atau refleksi diri dengan kata-kata yang muncul dari hati. 

Doa yg ditekankan adalah tentang membangun hubungan yang kuat dengan Sang Hyang Taya melalui kesadaran diri, introspeksi, dan rasa syukur atas segala karunia yang diberikan. 

Doa, puja puji ibarat sastra indah yang merajuk kepadaNYA sesimple, semampu sebisanya digumam, diucap dibatin serta dirangkai dalam pikiran.

Syair ini, saat manembah atau meditasi secara umum ditengah malam bisa digumamkan :
“Ingsun nyawiji marang Sang Hyang Taya, cahya sejati, pangurip sukma. Mugi kawula kasinungan pepadhang, pangapura, lan pangayoman. Roh rahayu, urip rahayu, sedulur rahayu. Sabdo dadi, karsa dumadi. Dumadining kersaning Gusti.”

Kapitayan telah melalui dekade peradaban silih berganti, tentunya mengalami distorsi dan mempunyai interpretasi dalam perjalanan sejarah, dan dipastikan akan terdapat perbedaan pandangan, hal itu wajar serta perlu, agar bisa lebih banyak pustaka yg bisa dipelajari.
ruputtt kopi pahitnya bullll bullll klepussss……

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Exit mobile version