Kolom
Kalabendu Terbuka: Membaca Ramalan Jayabaya untuk Zaman Kita
Penulis: MJP Hutagaol
“Zaman edan, yen ora edan ora keduman. Nanging begja-begjane wong lali, luwih begja wong kang eling lan waspada.”
— Prabu Jayabaya, Raja Kediri
I. Zaman yang Dinyanyikan dari Masa Silam
Berabad-abad sebelum dunia mengenal listrik, mesin, atau layar kaca, Prabu Jayabaya telah menulis tentang masa depan yang penuh kekacauan. Kini, setiap bait ramalannya seperti cermin besar — memantulkan wajah zaman modern kita yang kehilangan arah.
Dahulu, kata-katanya mungkin terdengar seperti dongeng: kereta tanpa kuda, besi terbang di angkasa, manusia mati mendadak, dan bumi penuh bencana.
Namun kini, semua itu bukan lagi misteri. Kereta api berderu di rel, pesawat menembus awan, badai dan gempa datang silih berganti, dan manusia mati bukan karena perang, melainkan oleh penyakit, stres, dan keserakahan sendiri.
Kita hidup di masa yang pernah dituturkan Jayabaya. Masa ketika dunia bergemuruh, nilai-nilai dibalik, dan cahaya kebenaran redup di antara kilau kepalsuan.
II. Kalabendu: Cermin dari Zaman Kita
“Yen wis ana kreta mlaku tanpa jaran, wong mati sak mendadak, iku wis tandane jaman bakal rusak.”
Itulah tanda Kalabendu — masa di mana peradaban berdiri di tepi jurang. Segala kemajuan yang dibanggakan manusia justru menjadi alat untuk mempercepat kehancuran batin. Teknologi memperpendek jarak antarnegara, tetapi memperlebar jarak antarhati. Informasi melimpah, namun kebijaksanaan menipis.
Di tengah gemerlap kota, orang-orang berjalan tergesa, membawa wajah letih yang tak lagi mengenal arah pulang. Hidup menjadi cepat, tapi hampa. Kaya data, miskin makna. Inilah Kalabendu yang hidup — bukan di buku, tapi di layar dan dalam dada kita.
III. Dunia Terbalik: Benar Jadi Salah, Salah Jadi Benar
Jayabaya menulis, “Akeh wong pinter ilang karepe, wong bodho akeh pangange.”
Banyak orang pintar kehilangan arah, orang bodoh banyak bicara.
Apakah itu tidak terjadi hari ini? Lihatlah dunia maya, tempat orang berdebat tanpa makna, saling menghina demi pengakuan. Di ruang politik, janji berubah jadi sandiwara. Yang berbuat benar disingkirkan, yang pandai bersandiwara diangkat tinggi.
Kebenaran kini tidak lagi dicari — hanya diatur. Kejujuran menjadi barang antik di pasar kepentingan. Dan setiap kali seseorang berkata jujur, ia tampak aneh di mata zaman yang lebih suka topeng.
IV. Bencana Alam dan Bencana Nurani
Jayabaya menulis: “Banyu mili ora karuan, gunung njeblug, bumi gemeter.”
(Air mengamuk, gunung meletus, bumi bergetar.)
Bukankah itu yang kita lihat? Banjir datang di musim kemarau. Gunung berapi menyemburkan amarah. Bumi retak, dan manusia sibuk merekamnya dengan ponsel tanpa sempat berdoa.
Namun sejatinya, bencana bukan hanya di alam. Yang lebih dahsyat adalah bencana di dalam dada manusia — saat nurani lumpuh, dan kepentingan menjadi agama baru. Ketika alam menangis, itu bukan murka Tuhan, tapi tangisan bumi yang dipaksa menanggung dosa keserakahan kita.
V. Satria Piningit: Sosok dan Kesadaran yang Menyala
Sejak dahulu, banyak yang menunggu datangnya Satria Piningit — sosok adil dan bijak yang muncul saat dunia terbalik. Sebagian meyakini ia adalah seorang tokoh nyata, yang akan menata kembali tatanan dan menuntun bangsa menuju terang. Sebagian lain memahami Satria Piningit sebagai kesadaran suci yang bangkit di dalam diri manusia-manusia pilihan, yang menolak tunduk pada arus zaman edan.
Kedua pandangan itu sejatinya tidak bertentangan. Sebab jika kesadaran kebenaran telah menyala di banyak jiwa, maka akan ada satu sosok yang memancarkannya lebih terang — bukan untuk disembah, melainkan untuk menuntun. Ia bisa lahir dari kalangan sederhana, tidak dikenal, tapi membawa kedamaian seperti air yang mengalir tenang di tanah gersang.
Maka jangan sibuk mencari di luar, sebab Satria itu bisa saja telah hadir di antara kita, atau bahkan telah berdiam dalam dirimu sendiri, menunggu saat untuk bangkit.
VI. Eling lan Waspada: Jalan Menuju Rahayu
Jayabaya memberi dua kunci: eling dan waspada.
Eling artinya ingat pada asal dan nilai-nilai luhur.
Waspada artinya sadar terhadap tipu daya zaman.
Dalam dunia modern, dua hal ini menjadi langka. Kita lebih sering mengingat akun daripada Tuhan, lebih waspada pada komentar daripada kesalahan sendiri. Padahal, rahayu tidak datang dari teknologi atau kekuasaan, melainkan dari hati yang kembali jernih.
Eling lan waspada bukan nasihat kuno — itu panduan moral untuk bertahan di masa goro-goro. Yang eling tidak akan hanyut, yang waspada tidak akan tertipu.
VII. Dari Kalabendu Menuju Rahayu
Jayabaya menulis bahwa setelah masa rusak akan datang jaman balik rahayu — zaman damai, ketika manusia sadar dan kembali ke asalnya.
Namun rahayu tidak datang otomatis. Ia lahir dari pertobatan kolektif manusia, dari keberanian untuk jujur, tulus, dan menyembuhkan alam serta sesama.
Bangsa yang menuju rahayu adalah bangsa yang pemimpinnya melayani, bukan dilayani. Rakyatnya saling menjaga, bukan saling menjatuhkan. Ilmunya digunakan untuk menolong, bukan menipu. Dan alamnya diperlakukan sebagai saudara, bukan tambang laba.
VIII. Penutup: Saatnya Bangkit dari Edan
“Wong sing eling lan waspada ora bakal ilang dalane.”
Yang ingat dan waspada tidak akan kehilangan jalannya.
Kita hidup di masa yang diramalkan Jayabaya — masa di mana kabut tebal menutupi cahaya. Namun kabut itu hanya bisa diusir bukan dengan senjata, melainkan dengan kesadaran.
Jangan tunggu satria turun dari gunung atau istana. Bangkitlah ia di setiap hati yang menolak ikut arus kebohongan. Karena sesungguhnya, Jayabaya tidak sedang bicara tentang masa depan. Ia sedang bicara tentang kita — manusia yang harus berani menyalakan terang dalam dirinya sendiri.