JAYAKARTA NEWS— Isra Mikraj adalah peristiwa agung dalam Islam yang melibatkan perjalanan malam Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsa di Palestina dan kemudian naik ke langit hingga Sidratul Muntaha. Kejadian ini tidak hanya memiliki implikasi teologis tetapi juga filosofis dan spiritual yang mendalam. Berikut adalah kajian dari para ahli tafsir dan ulama besar mengenai aspek-aspek tersebut:
- Konsep Isra dan Mikraj dalam Al-Qur’an dan Hadis:
Qur’an:
- Isra (perjalanan malam) dijelaskan dalam Surah Al-Isra (17:1) yang menyatakan, “Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
- Mikraj (naik ke langit) dirujuk dalam Surah An-Najm (53:1-18), di mana dijelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW telah melihat tanda-tanda kebesaran Allah di langit.
Hadis: - Hadis-hadis sahih dari Bukhari dan Muslim menjelaskan secara rinci peristiwa Isra Mikraj, termasuk pertemuan Nabi Muhammad SAW dengan para nabi lain di langit dan pemberian perintah salat lima waktu.
- Kajian Filosofis:
a. Konsep Realitas dan Keajaiban:
- Ibnu Arabi (1165-1240): Menurutnya, Isra Mikraj adalah peristiwa yang menunjukkan bahwa realitas lebih luas dari yang bisa difahami oleh manusia melalui logika saja. Bagi Ibnu Arabi, perjalanan ini adalah simbol dari perjalanan spiritual dan intelektual menuju ma’rifatullah (pengetahuan tentang Allah). Isra Mikraj menunjukkan bahwa ada dimensi dunia yang tidak terjangkau oleh indra manusia, namun bisa diakses melalui pengalaman spiritual.
- Al-Ghazali (1058-1111): Dalam “Ihya Ulum al-Din,” Al-Ghazali menyebutkan bahwa Isra Mikraj adalah bukti kuasa Allah yang melampaui batas-batas fisika. Peristiwa ini mengajarkan bahwa kehendak Allah tidak terbatas oleh hukum-hukum alam yang kita kenal, mendorong manusia untuk melihat lebih dalam ke dalam hakikat eksistensi dan kemustahilan.
b. Simbolisme dan Makna:
- Mulla Sadra (1571-1640): Filosof Transendental ini menganggap Isra Mikraj sebagai perjalanan dari dunia jasmani ke dunia spiritual. Peristiwa ini adalah metafora dari perjalanan jiwa manusia menuju kedekatan dengan Allah, melalui berbagai tahapan kesucian.
- Kajian Spiritual:
a. Perjalanan Jiwa:
- Syekh Abdul Qadir Al-Jilani (1077-1166): Dia menjelaskan bahwa Isra Mikraj adalah perjalanan yang setiap muslim harus lakukan secara spiritual. Isra adalah perjalanan dari kehidupan duniawi ke kehidupan spiritual, dan Mikraj adalah kenaikan kesadaran dari keduniaan ke keimanan yang mendalam.
- Rumi (1207-1273): Dalam karya-karyanya, Rumi menggunakan Isra Mikraj untuk menggambarkan perjalanan batin yang harus dilakukan oleh setiap murid sufi. Menurutnya, setiap orang harus “mikraj” dari diri sendiri untuk menemukan Allah di dalam dirinya.
b. Ibadah dan Ketaqwaan: - Ibnu Taimiyah (1263-1328): Dia menekankan bahwa peristiwa Isra Mikraj adalah mukjizat yang menegaskan keutamaan salat. Salah satu hikmah terbesar dari perjalanan ini adalah penentuan salat lima waktu sebagai ibadah utama dalam Islam, yang mencerminkan kehendak Allah untuk menjaga kaum muslimin tetap dekat dengan-Nya.
c. Kesucian dan Kesempurnaan: - Ibn Kathir (1300-1373): Dalam tafsirnya, Ibn Kathir menjelaskan bahwa Isra Mikraj adalah bukti kesucian dan kesempurnaan Nabi Muhammad SAW. Perjalanan ini menunjukkan bahwa Nabi adalah puncak dari kenabian, di mana Allah memperlihatkan kepadanya tanda-tanda kebesaran-Nya secara langsung.
- Relevansi Kontemporer:
Pengajaran dalam Kehidupan Modern: - Hamka (1908-1981): Dalam tafsirnya, Hamka menyatakan bahwa Isra Mikraj adalah pelajaran bagi umat Islam modern untuk tidak terpaku pada materialisme dan untuk mencari kebahagiaan spiritual. Peristiwa ini mengajarkan bahwa ada sesuatu yang lebih besar dari kehidupan material, yaitu kehidupan spiritual yang lebih bermakna.
Pengaruh dalam Dakwah dan Pendidikan: - Yusuf Qaradawi: Dia mengajarkan bahwa Isra Mikraj adalah contoh nyata dari bagaimana Allah berkomunikasi dengan manusia melalui keajaiban, mendorong dakwah yang tidak hanya berbasis nalar tetapi juga iman dan spiritualitas.
- Tafsir dan Pandangan Kontroversial:
- Kontroversi tentang Nature Perjalanan:
- Beberapa ulama berbeda pendapat apakah Isra Mikraj terjadi secara fisik atau hanya spiritual. Imam Al-Tabari, misalnya, memilih pandangan bahwa perjalanan ini terjadi dengan jasad dan roh Nabi Muhammad SAW, sementara ada yang menafsirkan bahwa ini hanya perjalanan roh.
- Makna dan Interpretasi:
- Tafsir-tafsir ini menunjukkan bahwa meskipun ada kesepakatan bahwa Isra Mikraj adalah mukjizat, interpretasi terhadap detail peristiwa ini bisa sangat bervariasi, mencerminkan kompleksitas dalam memahami teks-teks agama.
- Isra Mikraj bukan hanya sebuah peristiwa sejarah dalam Islam tetapi juga merupakan simbol dari perjalanan spiritual dan intelektual yang harus dijalani oleh setiap muslim. Para ahli tafsir dan ulama besar telah menyoroti berbagai aspek filosofis dan spiritual dari peristiwa ini, menegaskan pentingnya salat, kesucian, dan pencarian ma’rifatullah. Peristiwa ini mengajarkan bahwa realitas Allah melampaui batas-batas manusia, mendorong pencarian yang lebih mendalam dalam iman dan spiritualitas, dan memberikan pelajaran etika dan moral yang relevan hingga ke zaman modern.
- Dengan demikian, Isra Mikraj tidak hanya sebuah cerita yang diimani tetapi juga sebuah ajaran yang hidup, mengundang setiap individu untuk melakukan perjalanan batiniah mereka sendiri menuju kesempurnaan spiritual. (Heri)
