Feature

Kahoowa Kopi Karo, Kopi Kampung Kualitas Dunia

Published

on

Kristianus Ginting, sukses Kahoowa Kopi Karo setelah melalui perjalanan panjang. Foto: Resinalsal Ginting

RASANYA asing jika kita mendengar kopi dari daerah Karo, Sumatera Utara. Lazimnya, kita hanya mendengar kopi Bali, Sidikalang, Lampung, Aceh atau Toraja. Mengapa kita tidak pernah mendengar tentang kopi Karo ini?

Sejatinya, tanah Karo sangat menjanjikan untuk tumbuhnya pohon kopi berkualitas. Sebagai perbandingan, kopi Brazil yang terkenal itu tumbuh di dataran tinggi, 1.600 m di atas permukaan laut (DPL), sedangkan kopi Karo di lokasi 1550 m DPL. Kopi dataran tinggi, biasa disebut kopi Arabica. Pertanyaannya, mengapa kopi Karo tidak mendunia? Bahkan, mengapa kopi Karo tidak bisa bersaing dengan kopi daerah lain di Indonesia?

Bagi Kristianus Ginting, seorang pebisnis Kopi, jawabannya hanya satu. Selama ini kopi Karo tidak mengikuti perkembangan zaman dan selera pasar. Hampir semua proses dilakukan secara tradisional, digoseng atau disangrai secara manual. Begitu juga proses pasca panen, dilakukan dengan cara tanpa aturan atau dengan sembarangan sehingga kualitas kopi menurun. “Semestinya Pemkab Karo membuka komunikasi dengan orang-orang yang bergerak di bidang kopi yang sudah mendunia. Pelaku bisnis kopi juga harus terus berinovasi serta memperluas pasar,” jelasnya.

Awal menekuni bisnis kopi, ayah dua anak ini mengaku sempat frustrasi. Ketika awal tahun 2016, tim Kahoowa Kopi Karo pertama kalinya mengikuti Cupping di Denpasar, Bali. Saat mencicipi Kahoowa Kopi Karo, pakar kopi  dari Australia, William Edison, memuntahkannya. Katanya, rasa Kahoowa Kopi Karo menjijikkan. “Usai acara William memberi masukan agar tim Kahoowa Kopi Karo belajar menangani kopi dengan baik. William juga mengatakan kalau kopi Karo dicuci dengan pestisida (rinso) usai dipetik dan proses ini membuat kopi mengeluarkan bau tak sedap. Sayangnya, proses membersihkan kopi dengan rinso ini masih berlangsung,” tuturnya.

Satu tahun Kristianus Ginting belajar bagaimana menangani kopi dengan baik. Sejumlah kota dalam negeri seperti Toraja, NTT, Bali dan Gayo pun dijelajahinya. Pria asal Berastagi ini juga berangkat ke Turki serta Brisbane, Australia. Yang dipelajari khusus Post Harvest atau penanganan pasca panen. Dan biayanya, tentu saja relatif mahal. “Untuk belajar di luar dan dalam negeri hampir menghabiskan dana Rp 1 miliar,” tuturnya.

Pengorbanan waktu dan uang ini, menurut Kristianus membuahkan hasil. Sepanjang tahun 2016, Kahoowa Kopi Karo mendapat sejumlah penghargaan. Di antaranya, mendapat Juara II Rembug Kopi Nasional Smesco, dan lolos tes masuk dengan kategori terbaik sebagai minuman resmi Air Asia.

Hingga saat ini, bisnis kopi yang diawali dengan ketidakpastian itu sudah berkembang pesat. Sekitar 30 ton lebih kopi dalam bentuk cherry merah per bulan sudah mampu ditampung. Kahoowa Kopi Karo sudah beredar di cafe-cafe di kota Jakarta, Medan, dan Denpasar serta sudah adanya pengeriman ke luar negeri seperti Jepang, Inggris, Malaysia, dan Singapura.

“Kopi Karo pasti bisa maju. Pasar terbuka lebar. Pemda Kabupaten Karo harus terbuka dan saya siap membagi apa yang saya ketahui kepada teman-teman pebisnis kopi di Tanah Karo,” ujarnya. ***

1 Comment

  1. berita medan

    March 15, 2018 at 11:07 am

    wah.. kalo mau coba atau pesan gimana tu gan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Exit mobile version