Feature

Jorge Wafat, Messi Kehilangan Kompas: “Aku tidak Tahu Apa yang akan Kulakukan Tanpamu”

Published

on

JAYAKARTA NEWS— Lima hari telah berlalu sejak kepergian ayah tercinta, Jorge Messi, Lionel masih terbenam dalam kesedihan mendalam. Seolah kehilangan Kompas, ia sangat kebingungan bahkan untuk menentukan arah kariernya sepeninggalan ayahnya.

Jorge Messi, sang ayah sekaligus orang yang menjadi bagian penting dari perjalanan kariernya, meninggal dunia pada 7 Agustus dalam usia 68 tahun. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi Messi—bahkan membuat kapten Argentina itu mulai mempertanyakan masa depannya sendiri di sepak bola.

“Ayah, aku masih tidak percaya Ayah sudah tiada. Rasanya belum meresap sepenuhnya, atau lebih tepatnya, aku tidak ingin menerimanya,” tulis Messi dalam surat yang ia unggah di Instagram.

Ia mengaku sulit membayangkan kehidupan tanpa sosok yang selama ini selalu ada di sisinya.

“Sangat sulit bagiku membayangkan tidak akan pernah melihat Ayah lagi, tidak akan pernah berbicara dengan Ayah lagi. Aku tahu Ayah menderita dan ini adalah jalan terbaik, tapi Ayah pergi terlalu cepat. Masih banyak hal yang ingin kita nikmati bersama.”

Lionel Messi dan ayahnya Jorge Messi/Foto: Instagram leomessi

Lalu, Messi menuliskan kalimat yang membuat masa depan kariernya di lapangan menjadi tanda tanya.

“Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan tanpamu, aku tidak tahu bagaimana harus melangkah. Hidupku hanya seputar sepak bola, dan kini aku sangat ragu apakah aku akan melanjutkannya lebih lama lagi.”

Bagi Messi, Jorge Bukan Sekadar Seorang Ayah

Jorge adalah orang yang menemaninya sejak langkah-langkah pertama di dunia sepak bola, menjadi agen dan manajer bisnis de facto, sekaligus sosok yang berada di belakang berbagai keputusan penting dalam karier putranya.

Karena itu, kepergian Jorge terasa seperti hilangnya bagian dari perjalanan panjang yang selama ini mereka jalani bersama.

“Ayah selalu mendampingiku sejak awal, padahal kita sudah begitu dekat dengan akhir perjalanan itu. Mengapa Ayah tidak bisa bertahan sedikit lebih lama lagi agar kita bisa menyelesaikannya bersama-sama?” tulis Messi.

Piala Dunia yang ingin dipersembahkan untuk sang ayah

Lionel Messi dan ayahnya Jorge Messi/Sumber Foto: tangkap layar Instagram fersvaluto

Jorge bahkan menjadi salah satu alasan utama Messi memutuskan tetap bermain di Piala Dunia musim panas ini.

Sang ayah terus meminta Messi untuk tampil di turnamen tersebut. Namun, beberapa hari sebelum turnamen dimulai, kondisi kesehatan Jorge memburuk.

Itu menjadi kali pertama Jorge tidak bisa hadir di sebuah turnamen yang diikuti putranya.

Meski demikian, ibu Messi terus meyakinkannya bahwa Jorge akan membaik dan cukup sehat untuk bepergian. Messi pun mengatakan kepada sang ayah bahwa Argentina akan melaju ke final agar Jorge bisa datang menyaksikannya.

Namun, harapan itu tidak pernah terwujud.

“Setiap kali pertandingan usai, saya selalu menunggu dan merindukan pesan dari Ayah. Saat itulah saya sadar situasinya benar-benar serius,” kenang Messi.

Ia tetap berusaha membawa Argentina melangkah sejauh mungkin. Salah satu alasannya sederhana: memberi Jorge waktu untuk pulih dan kesempatan menyaksikan pertandingan-pertandingan putranya.

Argentina akhirnya mencapai final di New York.

Tetapi Jorge tidak bisa hadir.

Messi ingin memenangkan trofi itu untuk ayahnya. Ia ingin membawanya pulang, memperlihatkannya secara langsung kepada Jorge, dan berbagi momen tersebut dengannya.

Namun, tubuh Messi tidak mampu memberikan apa yang ia inginkan.

“Saya tidak mampu; fisik saya sudah tidak sanggup lagi. Kali ini saya mencoba melawan keterbatasan fisik saya, tetapi gagal. Kondisi saya tidak pernah benar-benar fit,” katanya.

Argentina akhirnya kalah 1-0 dari Spanyol di final.

Yang lebih menyakitkan bagi Messi, Jorge bahkan tidak benar-benar bisa menikmati perjalanan tersebut.

“Saat saya tiba, Ayah mengira kami kalah di final lewat adu penalti. Kami tidak bisa membahas apa pun yang telah terjadi. Ayah tidak bisa menikmati momen itu sama sekali.”

Argentina memang tidak menjadi juara. Namun bagi Messi, perjalanan tersebut tetap memiliki arti yang sangat besar.

Jorge Messi, Lionel Messi (Foto: 2017)/Foto: Instagram Jorge.Sole

“Ayah tidak tahu betapa kami menikmati setiap pertandingannya. Sekali lagi, Ayah benar: saya memang harus berada di sana dan bermain.”

Messi mengatakan kisah tersebut adalah satu-satunya hal yang belum sempat mereka bicarakan.

“Saya menceritakan hal ini karena inilah satu-satunya topik yang tidak sempat kami bahas, sementara hal-hal lainnya sudah Ayah ketahui. Dulu kita biasa mengobrol setiap hari dan bertemu kapan pun memungkinkan, mengingat kesibukan saya.”

Kini, percakapan-percakapan itu berhenti.

Ronaldo ikut mengirim pelukan

Kabar meninggalnya Jorge memicu gelombang penghormatan dari dunia sepak bola.

Salah satu pesan yang paling menyentuh datang dari Cristiano Ronaldo, rival berat Messi sekaligus pemain yang memahami kehilangan seorang ayah dalam usia muda.

Ronaldo Merespon Unggahan Messi

Ronaldo menanggapi unggahan Messi dengan pesan singkat: “Pelukan hangat untukmu dan keluarga di masa-masa sulit ini, Leo. Semoga diberi kekuatan.”

Cristiano Ronaldo/Foto: Instagram cristiano

Ronaldo tentu memahami rasa kehilangan tersebut. Ia sendiri kehilangan ayahnya pada 2005 ketika baru berusia 20 tahun.

Selain Ronaldo, penghormatan juga datang dari klub pertama Messi, Newell’s Old Boys, Barcelona, serta tim nasional Argentina.

Messi sendiri melewatkan pertandingan ketika Inter Miami kalah dari Monterrey pada hari Minggu. Ia memilih pulang ke rumah setelah kematian sang ayah.

Melalui Instagram Stories, Messi kemudian menyampaikan terima kasih kepada mereka yang memberikan dukungan.

“Saya ingin mengucapkan terima kasih yang tulus kepada semua orang atas segala cinta, rasa hormat, dan perhatian luar biasa yang telah kalian tunjukkan kepada saya dan keluarga di masa yang sangat menyakitkan ini akibat kepergian Ayah.”

“Terima kasih telah mendampingi kami, atas setiap pesan, setiap gestur, dan yang terpenting, atas penghormatan kalian terhadap duka dan privasi kami.”

Ia juga mengunggah foto bersama sang ayah dengan keterangan sederhana dalam bahasa Spanyol:

“Aku mencintaimu, Pa.”

Air mata Messi di Piala Dunia

Kepergian Jorge sebenarnya didahului oleh tanda-tanda bahwa kondisi kesehatannya telah lama memburuk.

Dalam beberapa bulan terakhir, kepala keluarga Messi itu menghadapi masalah kesehatan yang tidak pernah dikonfirmasi secara resmi. Kondisinya bahkan sempat mengharuskannya dilarikan ke rumah sakit di Argentina.

Kabar mengenai penyakit Jorge pertama kali menjadi sorotan publik ketika Lionel Messi menangis di lapangan dalam Piala Dunia.

Bagi pemain yang selama bertahun-tahun dikenal mampu menjaga emosinya di hadapan publik, momen tersebut terasa berbeda.

Setelah mencetak hat-trick melawan Aljazair dalam pertandingan pembuka grup Argentina di Kansas City, Messi ditanya wartawan mengenai air matanya.

“Tidak, sejujurnya ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan olahraga. Ini adalah hari-hari yang sulit dan rumit,” kata Messi.

Beberapa jam kemudian, jurnalis Eduardo Feinmann mengungkapkan alasan di balik tangisan tersebut melalui Radio Mitre, salah satu stasiun radio yang paling banyak didengarkan di Argentina.

“Hal ini berkaitan dengan ayahnya. Kondisi kesehatan ayahnya sedang tidak baik,” kata Feinmann.

“Sudah cukup lama, beberapa bulan, sejak tahun lalu. Dan minggu ini ada situasi yang membuat kesehatannya sedikit memburuk, sehingga Messi sedang menghadapi pergulatan batin ini. Dengan kata lain, layaknya manusia pada umumnya.”

Belakangan dilaporkan bahwa Jorge mengalami masalah kesehatan serius di rumahnya pada Januari tahun ini hingga harus menjalani perawatan di rumah sakit.

Setelah kejadian tersebut, ia dikabarkan menjalani pemeriksaan kardiovaskular dan neurologis. Namun, keluarga tidak pernah memublikasikan diagnosis resminya karena ingin menjaga privasi kondisi kesehatan Jorge dari sorotan media.

Kesehatan Jorge kembali menjadi berita utama pada Juni, ketika seorang penyiar Argentina secara keliru mengabarkan bahwa ia telah meninggal dunia.

Penyiar tersebut kemudian menyampaikan permintaan maaf secara emosional dan mengundurkan diri dari pekerjaannya.

Sebulan lebih kemudian, kabar yang sebenarnya akhirnya datang.

Jorge benar-benar pergi.

Lionel Messi/Foto: Instagram leomessi

Jorge Berada di Balik Legenda Messi

Lionel adalah anak ketiga dari empat bersaudara pasangan Jorge dan Celia Cuccittini. Keduanya menikah pada 1978 dan tetap bersama hingga akhir hayat Jorge. Mereka membagi waktu tinggal antara Rosario dan Miami, tempat Lionel kini bermain bersama Inter Miami milik David Beckham di Major League Soccer (MLS).

Sebelum menjadi agen Lionel, Jorge bekerja di sebuah perusahaan manufaktur baja di Villa Constitucion. Ia bertemu Celia ketika masih muda di Rosario, kota yang kemudian menjadi tempat keluarga mereka menetap dan membesarkan anak-anak.

Messi memiliki dua kakak laki-laki, Rodrigo dan Matias, serta seorang adik perempuan, Maria Sol.

Di antara keempat anak tersebut, Lionel kemudian menjadi nama yang dikenal di seluruh dunia.

Namun, perjalanan menuju status sebagai salah satu pesepak bola terbesar sepanjang masa tidak pernah benar-benar ia jalani sendirian.

Jorge selalu berada di dekatnya.

Karier Messi bermula di Argentina bersama Newell’s Old Boys sebelum ia pindah ke Spanyol dan bergabung dengan akademi Barcelona, La Masia, pada 2000.

Selama 21 tahun yang luar biasa di Barcelona, Messi mengukuhkan dirinya sebagai salah satu pemain terbaik sepanjang masa.

Ketika dunia sepak bola dikejutkan oleh kepindahannya ke Paris Saint-Germain pada 2021, Jorge berada di balik proses tersebut.

Dua tahun kemudian, Messi meninggalkan ibu kota Prancis dan pindah ke Amerika Serikat untuk bergabung dengan Inter Miami.

Kini, di usia 39 tahun, ia masih bermain.

Namun, untuk pertama kalinya setelah perjalanan karier yang begitu panjang, Messi mengaku tidak yakin berapa lama lagi ia akan melanjutkannya.

Sebab, orang yang selama ini selalu ada di sampingnya sudah tidak ada.

Bersama Melewati Masa-masa Sulit

Hubungan Jorge dan Lionel tidak hanya diuji oleh keberhasilan.

Ketika Messi menghadapi kasus penipuan pajak pada 2016, sang ayah juga tetap berada di sisinya.

Keduanya duduk bersama di hadapan pengadilan. Jorge saat itu bertindak sebagai manajer bisnis putranya.

Jaksa menuduh Messi gagal membayar pajak secara semestinya atas pendapatan dari hak citra dirinya antara 2007 dan 2009.

Pada akhirnya, ayah dan anak tersebut dinyatakan bersalah atas tiga pelanggaran pajak.

Keduanya pada awalnya dijatuhi hukuman penjara 21 bulan dengan masa percobaan.

Hukuman Jorge kemudian dikurangi menjadi 15 bulan setelah peninjauan kembali oleh Mahkamah Agung Spanyol pada 2017. Keduanya juga dikenai denda dalam jumlah besar.

Sepanjang karier Messi—dari Rosario, Barcelona, Paris, hingga Miami—Jorge hampir selalu menjadi bagian dari cerita.

Ia melihat putranya tumbuh dari seorang anak yang mengejar bola menjadi salah satu pesepak bola terbesar dalam sejarah.

Ia mendampingi Messi ketika karier itu dimulai.

Ia mengurus berbagai urusan bisnisnya.

Ia berada di sisinya ketika menghadapi persoalan hukum.

Dan ketika tubuhnya mulai melemah, ia masih meminta putranya bermain di Piala Dunia.

Kini, setelah Jorge pergi, Messi berdiri di titik yang berbeda.

Ia telah memenangkan hampir segala sesuatu yang bisa dimenangkan seorang pesepak bola. Namun, ada satu hal yang tidak sempat ia berikan kepada ayahnya: kesempatan untuk mengangkat trofi Piala Dunia bersama-sama.

Dan di tengah duka itu, Messi hanya bisa mengajukan satu pertanyaan kepada dirinya sendiri: ‘Bagaimana melangkah ketika orang yang selama ini selalu berjalan bersamanya sudah tidak ada?’ (Sumber: Daily Mail)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Exit mobile version