Site icon Jayakarta News

Jejak Rokok Klobot hingga Jenderal Sudirman

– Gde Mahesa

Klobot menurut Ensiklopedia adalah jenis rokok dari campuran tembakau, cengkeh, dan saus yang dibungkus dengan kulit jagung, dan modelnya mengerucut keatas. Mitos rokok klobot berkaitan erat dengan tradisi Jawa kuno, dianggap sebagai rokok tertua Indonesia.

Aslinya klobot atau daun jagung ini lebih sering dimanfaatkan sebagai bahan pangan ternak atau hewan, karena memiliki kandungan protein, lemak, dan serat yang cukup. Namun oleh beberapa orang kerap memanfaatkan klobot ini sebagai bahan penggulung tembakau saat merokok.

Siapa sebenarnya yang mengawali rokok klobot? Tidak ada jejak atau catatan sejarah pasti mengenai siapa individu pertama yang membuat rokok klobot (rokok yang dibungkus dengan kulit jagung kering).

Namun rokok klobot adalah warisan leluhur dan bentuk rokok tradisional yang sudah melegenda sejak zaman Belanda, dimana ditengarai masyarakat Indonesia baru mulai mengonsumsi tembakau pada awal abad ke-16.

Namun ada hal yang perlu diingat, bahwa konon dalam sebuah legenda, diceritakan Rara Mendut menjadi perempuan pembuat dan penjaja kretek ternama di masa itu. Dengan ciri khas model rokok yang dilinting sendiri, direkatkan dengan jilatan lidahnya, dan dihisap sedikit.

Nah rokok bekas hisapan Rara Mendut inilah yang konon laku keras dengan harga mahal dan dipercaya memiliki cita rasa magis karena daya tarik erotis dari bibir sang penjual. Rokok buatan Roro Mendut memiliki kekhasan tersendiri dikenal dengan nama Klobot.

Akhirnya pada zamannya aktifitas merokok menjadi status simbol elite yang hanya dipunyai kalangan atas dari lapisan masyarakat.  Raja Mataram Sultan Agung tercatat dalam sejarah sebagai salah seorang perokok berat, beliau kerap digambarkan membawa pipa cangklong perak dalam berbagai kegiatannya, serta tak lupa rokok klobot yg selalu tersedia.

Rokok klobot memang termasuk rokok tertua yang diciptakan oleh masyarakat Indonesia, yang asal-usulnya sebenarnya berasal dari kesulitan memperoleh kertas guna melinting rokok. Sehingga ada anggapan ditengah masyarakat tentang para penikmat Klobot, yang mana hanya dinikmati oleh golongan umur tua dan para petani atau nelayan. Boleh dikatakan jarang dijumpai anak muda yang menikmati kretek ini.

Namun berbeda dengan masyarakat Suku Tengger, rokok klobot dianggap sebagai produk khas buatan tangan Suku Tengger, yang mana rokok ini juga sangat kental dengan simbol serta makna kehidupan. Dalam budaya Suku Tengger, memiliki rokok biasanya menjadi salah satu benda yang wajib ada dalam sesajen.

Salah satu ritual sesajen di sana adalah Gedang Ayu. Ritual tersebut berlangsung dengan tujuan memberikan penghormatan kepada arwah leluhur dalam bentuk pemberian atau penyediaan berbagai bahan sesaji yang digunakan oleh mendiang selama hidupnya.

Makna rokok klobot dalam sesajen :

– Penghormatan dan Sajen untuk Leluhur: Rokok klobot sering disajikan sebagai simbol penghormatan kepada arwah leluhur atau danyang (penjaga wilayah) yang diyakini menyukai aroma tembakau tradisional.

– Filosofi Kehidupan: Dalam masyarakat Tengger, rokok klobot memiliki makna filosofis “roso kang klobot”, yang berarti perasaan yang tertutup atau terbungkus. Ini melambangkan manusia harus bisa mengendalikan hawa nafsu dan menutup diri dari perbuatan buruk.

– – Wujud Warisan Budaya dan Tradisi: Penggunaan klobot, bukan rokok modern, menandakan penghormatan terhadap warisan nenek moyang (warisan leluhur) dan menjaga otentisitas ritual.

– Sarana Komunikasi Spiritual: Dalam klenik atau ritual Jawa, klobot dianggap sebagai media “penyambung” atau sarana spiritual yang wangi (melalui asapnya) untuk mengirim doa kepada yang sudah meninggal agar mendapatkan pengampunan atau tempat yang baik.

– Simbol Gotong Royong: Secara sosial, rokok klobot juga merepresentasikan semangat gotong royong dan kebersamaan, sering digunakan dalam kegiatan adat yang melibatkan banyak orang. 

Secara keseluruhan, rokok klobot dalam sesajen adalah simbol pengikat antara manusia, alam, dan leluhur, serta pengingat akan tata laku kehidupan yang luhur.

Bagi perokok berat, atau pencinta rokok, sebatang rokok ibarat sudah seperti penyambung nafas mereka setiap saat.

(Dicuplik dari Inibaru.id) – Salah satu pahlawan kemerdekaan Indonesia, Panglima Besar Jenderal Sudirman juga tidak bisa terlepas dari rokok klobot. Beliau adalah seorang perokok berat, mulai merokok sejak remaja. Merek rokoknya? Tingwe alias nglinthing dewe, artinya meramu sendiri, dengan model rokok klobot. Rokok yang pembungkusnya menggunakan kulit jagung.

Peristiwa pertumpahan darah sesama bangsa Indonesia, membuatnya terpukul, hingga menyebabkan batin dan raganya kelelahan. Meski badan merasa sakit, kegemarannya merokok tingwe tidak bisa dijauhkan. Sembari terbaring, sesekali Jenderal Sudirman tetap mengisap rokok klobot.

Agresi Militer II bikin Sudirman kembali turun berperang, meski kelompok kecilnya harus menandu selama bergerilya tujuh bulan lamanya, dan tentu beliau tidak pernah lupa membawa bekal paket rokok klobot di tangan.

Kecintaan Sudirman pada rokok klobot nggak berhenti setelah paru-parunya hanya satu. Sungguh luar biasa, secinta itu pahlawan kemerdekaan kita Jenderal Soedirman yang terus berjuang dan berperang dengan satu paru-paru, tanpa meninggalkan kecintaannya akan rokok klobot.

Bullll…. Bullll…. klepussss…..

Exit mobile version