Kolom
Jamu di Relief Liyangan dan Borobudur
Gde Mahesa
Husada atau Usada berasal dari bahasa Sanskerta ausadhi yang berarti “tumbuhan penyembuh”. Dalam bahasa Jawa Kuno dikenal sebagai jampi atau usada, yaitu sistem penyembuhan yang menggunakan ramuan disertai doa dan ajian.
Jamu merupakan turunan dari jampi dan merupakan salah satu cabang dari sistem usada yang lebih luas. Sudut pandang ini menegaskan bahwa jamu bukan sekadar obat herbal, melainkan sebuah sistem bio-psiko-spiritual. Tubuh, pikiran, dan energi disembuhkan secara bersamaan.
Jejak Arkeologi sekitar 1300 Tahun Yang Lalu
1. Relief Candi Borobudur, 825 M
Terdapat relief yang menggambarkan orang sedang mengulek jamu, berjualan jamu, tukang pijat, dan tabib. Hal ini menunjukkan bahwa jamu sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat umum, tidak hanya di lingkungan keraton.
2. Situs Liyangan, Lereng Gunung Sundoro, abad 8-10 M
Ditemukan lumpang batu berbentuk silindris yang bentuknya mirip dengan alat giling jamu gendong saat ini. Ini membuktikan bahwa tradisi meracik jamu sudah mapan sejak era Mataram Kuno.
3. Prasasti Madhawapura, Masa Majapahit
Menyebutkan profesi Acaraki, yaitu peracik jamu. Ini berarti pada masa itu meracik jamu sudah menjadi profesi resmi yang diakui oleh kerajaan.
Jejak Naskah :
1. Serat Centhini, 1814 Mencatat 45 jenis tumbuhan untuk 85 resep jamu dan 30 jenis penyakit, serta dilengkapi dengan doa untuk aspek non-fisik. Serat ini menjadi ensiklopedia lengkap tentang pengobatan lahir dan batin.
2. Serat Primbon Jampi Jawi.
Memuat 25 bab dengan 233 resep pengobatan. Bab 26 sampai 42 secara khusus membahas khasiat berbagai jenis rempah.
3. Usada Bali / Lontar Usada
Contohnya Usada Taru Premana yang memuat 214 spesies tumbuhan, 180 formula, dan 84 jenis penyakit. Terdapat pula Usada Rare khusus untuk anak-anak dan Usada Tuju untuk penyakit rematik. Sistem klasifikasinya sudah sangat rinci.
Merode Takaran.
Permasalahan utama dalam kajian akademik mengenai jamu hingga saat ini adalah soal standarisasi ukuran.
Dalam proses pembuatan jamu, takaran masih menggunakan istilah subjektif seperti “setekem, sejungkut, sedimpit, seujung kuku”.
Hal ini sulit diukur secara ilmiah dan menjadi kendala ketika jamu ingin diteliti dengan metode kedokteran modern.
Namun justru di sinilah letak kekhasan ilmu jamu.
Jamu tidak hanya bertumpu pada gram dan mililiter, tetapi juga pada tiga hal:
1. Rasa
Pahit, manis, sepet, dan langu memiliki fungsi tersendiri bagi organ tubuh. Misalnya rasa pahit untuk hati, dan rasa sepet untuk ginjal.
2. Waktu
Waktu minum ditentukan, seperti pagi hari sebelum matahari terbit, tengah malam, atau pada hari weton tertentu. Ini berkaitan dengan ritme tubuh dan alam.
3. Niat dan Jampi
Proses pembuatan tidak hanya mengulek. Ramuan diiringi doa, dibacakan mantra, dan ditiup. Tujuannya agar “air” dalam ramuan menyimpan niat penyembuhan.
Oleh karena itu, ketika ditanya “berapa dosisnya?”, jawabannya adalah “secukupnya sesuai kebutuhan tubuh”.
Inilah yang membuat jamu sulit dimasukkan ke dalam kerangka penelitian Barat, karena variabelnya tidak hanya bahan, tetapi juga pembuat dan peminumnya.
Bullllll…. bullll… klepussss…..