Ajisaka Belum Diundang, Sabdo Palon Masih Menunggu
Oleh MJP Hutagaol ‘86
PROLOG: Negeri Ini Terlalu Diam Saat Raksasa Bangkit
Dulu, Ajisaka datang bukan membawa pasukan,
melainkan aksara: tatanan, akal, dan nurani.
Ia menundukkan Dewata Cengkar—
raja yang berubah menjadi raksasa karena keserakahan.
Hari ini, Dewata Cengkar bangkit kembali.
Ia tidak lagi hidup di hutan,
tapi tumbuh dalam sistem yang kehilangan nilai.
Ia bernama:
narkoba, judi online, korupsi, hukum yang lentur, dan kerusakan alam.
***
RAKSASA ITU HIDUP DI SEKITAR KITA
📌 Narkoba
Rp 99 triliun per tahun mengalir dari jaringan gelap ini.
Ia menghancurkan generasi muda,
melumpuhkan aparat, dan melumpuhkan keadilan dari dalam.
📌 Judi Online via Game & Media Sosial
Iklan disamarkan sebagai hiburan.
Masuk lewat game, influencer, dan algoritma digital.
Dikonsumsi secara tak sadar,
oleh anak-anak dan orang dewasa yang kehilangan batas.
📌 Korupsi Sistemik
Dari tambang, migas, hingga pengadaan publik,
kerugian negara mencapai ratusan triliun.
Namun yang besar kerap tak tersentuh —
karena sistem lebih sibuk melindungi nama, bukan membela rakyat.
📌 Hukum yang Bisa Diatur
Undang-undang direvisi sesuai selera kekuasaan.
Pasal-pasal dilenturkan,
syarat jabatan diubah,
dan keadilan seolah hanya berlaku untuk mereka yang tak bersuara.
📌 Kerusakan Alam
Gunung digerus, hutan ditebang, laut dicemari.
Semua atas nama investasi,
padahal yang ditanam adalah bencana.
🛑 Inilah wajah baru Dewata Cengkar — raksasa yang tumbuh dari keserakahan dan diamnya nurani.
***
Ha Na Ca Ra Ka — Seruan Jiwa Nusantara
Ha Na Ca Ra Ka – Dua utusan bertarung: antara kesetiaan dan pengkhianatan.
Da Ta Sa Wa La – Pertarungan tak berhenti, berganti bentuk dan medan.
Pa Dha Ja Ya Nya – Kekuatan keduanya besar: uang dan kuasa vs suara nurani.
Ma Ga Ba Tha Nga – Tapi hanya satu yang akan bertahan:
yang berpihak pada kejujuran dan keberanian.
Ajisaka belum datang karena huruf-huruf jujur belum ditulis kembali.
Sabdo Palon masih diam karena belum ada yang cukup bersih untuk ia datangi.
***
SOLUSI BANGSA INI BUKAN AMARAH, MELAINKAN KESADARAN
✅ 1. Kebangkitan Nurani Kolektif
Bangsa ini tidak bangkit lewat teriakan,
tetapi lewat keberanian diam-diam untuk hidup benar.
Petani, guru, seniman, pensiunan, hingga generasi muda —
bisa menjadi Ajisaka masa kini jika nurani mereka tetap menyala.
✅ 2. Pemurnian Kepemimpinan
Kita tidak butuh pemimpin sempurna,
tapi pemimpin yang berani berkata cukup,
dan hidup dalam keteladanan, bukan pencitraan.
✅ 3. Penulisan Ulang Nilai Bangsa
Nilai tidak cukup ditulis di spanduk dan buku pelajaran.
Ia harus hidup di meja makan, ruang kelas, dan hati rakyat.
Bangsa ini bisa diselamatkan jika jati dirinya ditanam ulang.
✅ 4. Penegakan Hukum yang Adil dan Tidak Berat Sebelah
Hukum seharusnya menjadi pelita bagi keadilan, bukan alat kekuasaan.
Tapi hari ini, terlalu sering kita menyaksikan hukum
tajam ke bawah, tumpul ke atas —
menghukum yang lemah, namun melembut pada mereka yang berkuasa.
Bangsa ini harus mengembalikan wajah hukum
sebagai penjaga keadilan yang tidak bisa dibeli,
tidak bisa disesuaikan,
dan tidak tunduk pada tekanan jabatan, uang, atau gengsi politik.
> Hukum harus menjadi mata air keadilan —
bukan cermin kepentingan.
***
CATATAN KAKI:
1. Narkoba: Data BNN (2024) menunjukkan perputaran uang ±Rp 99 triliun/tahun.
2. Judi Online: Populix (2024): 82% warga digital melihat iklan judi online; 63% menjumpainya rutin, termasuk di game dan media sosial.
3. Influencer & Sosial Media: Banyak iklan judi masuk lewat konten kreator dan selebritas; sejumlah tokoh telah diperiksa secara hukum.
4. Kominfo: Telah memblokir >846.000 situs judi online, namun algoritma iklan tetap berjalan di platform besar.
5. Korupsi: Kasus besar di Pertamina, Timah, dan pengadaan publik menimbulkan kerugian >Rp500 triliun.
6. Hukum Lentur: Revisi UU KPK, Minerba, Pemilu, dan pengaturan jabatan menunjukkan fleksibilitas hukum untuk kepentingan elite.
7. Lingkungan: WALHI mencatat >70% bencana ekologis bersumber dari eksploitasi alam pro-kapital tanpa perlindungan rakyat.
8. Ajisaka & Aksara Jawa: Aksara “Ha Na Ca Ra Ka” adalah simbol dua utusan yang saling setia dan saling menghabisi — cerminan dualitas, pengorbanan, dan tanggung jawab jiwa bangsa.
9. Dewata Cengkar: Tokoh raja Blambangan yang menjadi raksasa karena keserakahan, ditundukkan oleh Ajisaka. Kini hidup sebagai simbol kekuasaan yang melampaui nurani.
10. Relevansi Mitologis: Dewata Cengkar mewakili sistem rakus masa kini. Ajisaka adalah pemurni zaman. Sabdo Palon adalah suara semesta yang hanya akan bicara jika rakyat sudah benar-benar siap.
***
Sebarkan kepada mereka yang belum lupa suara hati, dan masih percaya bahwa bangsa ini bisa ditata ulang—dari nurani, bukan dari amarah.
MJP Hutagaol ‘86
Purnawirawan TNI AD
