Kabar
Finalis Duta GenRe Bali 2026 Dibekali Gagasan Ngempu Bali di Kantor BKKBN
Finalis Duta Generasi Berencana atau GenRe Provinsi Bali 2026 mengikuti kegiatan capacity building bertema “Ngempu Bali & Bangga Kencana” di Kantor BKKBN Provinsi Bali, Kota Denpasar, Minggu (21/6/2026).
Kegiatan yang dimulai pukul 10.00 Wita itu merupakan bagian dari Pra Karantina 1 ADUJAK GenRe Bali 2026. Pembekalan ini menghadirkan dua narasumber, yakni Founder Mahardhika Institute, I Putu Eka Mahardhika, S.IP, M.AP atau yang akrab disapa Jro Eka, serta Ketua Tim Kerja Pembangunan Keluarga Kemendukbangga/BKKBN Bali, Billy Udiang S.
Dalam paparannya, Jro Eka menekankan pentingnya generasi muda Bali memahami kembali posisi, tanggung jawab, dan perannya dalam menjaga Bali. Menurut dia, Ngempu Bali tidak boleh berhenti sebagai slogan, tetapi harus menjadi cara pandang dan kerja nyata.
“Bagi saya, Ngempu Bali bukan sekadar slogan. Ia adalah cara pandang, cara bekerja, sekaligus tanggung jawab moral terhadap pulau kecil yang hari ini kita sebut rumah,” kata Jro Eka di hadapan para finalis Duta GenRe Bali 2026.
Jro Eka menjelaskan, gagasan Ngempu Bali lahir dari kegelisahan terhadap berbagai persoalan yang dihadapi Bali, mulai dari tekanan pariwisata, alih fungsi lahan, sampah, kemacetan, kesenjangan ekonomi, hingga mulai terputusnya pengetahuan generasi muda terhadap akar budaya dan warisan leluhurnya.
Ia menyebut, anak muda Bali tidak cukup hanya bangga pada identitas, budaya, dan alam Bali. Kebanggaan itu harus disertai pengetahuan, kapasitas, keberanian, serta kesediaan untuk turun langsung mengerjakan persoalan di lapangan.
“Jangan sampai kita hanya numpang hidup di tanah sendiri,” ujarnya.
Menurut Jro Eka, orang Bali selama ini dikenal ramah dalam menyambut tamu. Namun, keramahan itu tidak boleh membuat masyarakat Bali kehilangan posisi sebagai tuan rumah di tanahnya sendiri.
Ia menggambarkan, masyarakat Bali kerap berdiri di depan pintu sambil menyambut wisatawan dengan senyum. Namun, setelah tamu masuk, masyarakat lokal kerap lupa kembali mengambil peran sebagai pemilik rumah yang memahami arah, aturan, dan masa depan rumahnya sendiri.
“Ini soal reposisi. Soal positioning orang Bali di tanahnya sendiri,” kata dia.
Jro Eka mengatakan, Ngempu Bali berdiri di atas tiga dasar utama, yakni ngempu alam, ngempu manusia, dan ngempu budaya Bali. Ngempu alam berarti merawat tanah, air, hutan, laut, sungai, dan seluruh ekosistem Bali. Ngempu manusia berarti memastikan masyarakat Bali tidak tertinggal dan tidak tersingkir. Sementara ngempu budaya berarti menjaga nilai, tradisi, pengetahuan, dan identitas Bali agar tetap hidup sebagai kekuatan masa depan.
Ia juga menyoroti pentingnya membaca ulang pengetahuan lokal Bali, seperti subak, lontar, telajakan, teba, pola ruang desa, hingga hubungan masyarakat Bali dengan air, tanah, rumah, dan pura. Menurut dia, konsep-konsep lokal tersebut bukan sekadar tradisi, melainkan mengandung pengetahuan tentang ekologi, tata ruang, keberlanjutan, dan kehidupan sosial.
“Lontar jangan hanya dipandang sebagai benda tua. Lontar adalah aset pengetahuan. Jika hari ini buku adalah sumber pengetahuan, maka di masa lalu lontar adalah perpustakaan peradaban,” ujar Jro Eka.
Ia menilai, banyak pengetahuan Bali yang sebenarnya dapat dibaca ulang, diteliti, dan dikembangkan untuk menjawab persoalan hari ini, termasuk dalam bidang pertanian, pengobatan tradisional, arsitektur lokal, tata air, hingga pengelolaan ruang hidup.
Dalam kesempatan itu, Jro Eka juga mengingatkan bahwa persoalan Bali tidak dapat diselesaikan hanya dengan pidato atau seremoni. Ia mencontohkan kegiatan penanaman pohon yang kerap berhenti pada seremoni, tanpa memastikan pohon tersebut dirawat dan tumbuh.
“Ngempu berarti memastikan sesuatu benar-benar tumbuh sampai ia kuat berdiri. Bukan hanya datang, menanam, berfoto, lalu selesai,” katanya.
Jro Eka menyebut Mahardhika Institute saat ini menjalankan sejumlah kerja pendampingan masyarakat, antara lain di Jembrana, Buleleng, Sumberklampok, Pejarakan, dan beberapa wilayah lain. Pendampingan tersebut berkaitan dengan konservasi, pertanian, advokasi tanah, penguatan masyarakat, serta pemulihan ruang hidup.
Ia juga menyampaikan adanya program konservasi mangrove seluas sekitar 14,2 hektare yang dirancang sebagai kerja jangka panjang bersama masyarakat. Menurut dia, pemulihan ekosistem tidak bisa dilakukan dengan pola proyek sesaat.
“Ekosistem tidak bisa dipulihkan dengan mental acara. Ia butuh konsistensi,” ujar dia.
Kepada para finalis Duta GenRe Bali 2026, Jro Eka berpesan agar generasi muda tidak hanya menjadi penonton perubahan. Ia meminta anak muda Bali mulai membangun kapasitas diri, memahami potensi wilayahnya, mengenali akar budayanya, dan mengambil peran konkret dalam merawat masa depan Bali.
Ia menegaskan, generasi berencana tidak hanya berbicara tentang masa depan yang ideal. Lebih dari itu, generasi berencana harus memiliki strategi, pengetahuan, dan keberanian untuk menentukan posisi.
“Ngempu Bali adalah cara untuk memastikan bahwa alam Bali tidak hanya diwarisi, tetapi dirawat. Manusia Bali tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi pelaku. Budaya Bali tidak hanya dipajang, tetapi dihidupkan. Dan masa depan Bali tidak hanya dibicarakan, tetapi dikerjakan bersama,” kata Jro Eka.
Menurut dia, tugas generasi muda hari ini tidak berhenti pada sikap mencintai Bali. Lebih jauh, generasi muda memiliki tanggung jawab untuk memastikan Bali tetap memiliki masa depan.
“Bukan sekadar mencintai Bali, tetapi memastikan Bali tetap memiliki masa depan,” ujarnya.
Kegiatan capacity building ini menjadi ruang pembekalan bagi finalis Duta GenRe Bali 2026 sebelum memasuki tahapan karantina. Melalui tema Ngempu Bali & Bangga Kencana, peserta diharapkan memiliki pemahaman lebih kuat tentang peran remaja dalam pembangunan keluarga, kependudukan, kebudayaan, dan keberlanjutan Bali. (gde)