Site icon Jayakarta News

Enrique Maluku: Jejak Tersembunyi Pengeliling Dunia Pertama dari Nusantara

Penelusuran Sejarah Pemuda dari Maluku yang Mengubah Persepsi Dunia tentang Keliling Bumi

Oleh Heri Mulyono

Selama berabad-abad, nama Ferdinand Magellan dan Juan Sebastián Elcano telah diabadikan dalam buku-buku sejarah sebagai tokoh yang berhasil mengelilingi dunia untuk pertama kalinya. Namun, di balik narasi besar ekspedisi pelayaran paling legendaris abad ke-16 itu, tersembunyi sosok seorang pemuda dari Nusantara yang kemungkinan besar adalah manusia pertama yang benar-benar menuntaskan perjalanan keliling bumi—seorang pria berkulit gelap dari Maluku bernama Enrique.

Kisah Enrique Maluku adalah narasi yang kompleks, terkubur dalam arsip-arsip kuno, catatan pelayaran, dan wasiat yang tersimpan di berbagai perpustakaan Eropa dan Amerika. Penelusuran atas jejak hidupnya membawa kita pada pertanyaan fundamental: siapakah sebenarnya orang pertama yang mengelilingi bumi, dan mengapa sejarah begitu lama menyembunyikan nama pemuda dari Kepulauan Rempah ini?

Dari Maluku ke Malaka: Awal Perjalanan yang Mengubah Sejarah

Enrique Maluku—atau dalam berbagai sumber disebut sebagai Enrique de Malacca, Henrique el Negro, atau Enrique de Molucca—diperkirakan lahir sekitar tahun 1493 di Maluku, Indonesia. Menurut buku karya Helmy Yahya dan Reinhard R. Tawas yang berjudul “Pengeliling Bumi Pertama adalah Orang Indonesia: Enrique Maluku” (2014), pemuda ini memulai pelayaran pertamanya dari Ambon pada tahun 1503, ketika usianya baru menginjak sekitar 10 tahun.

Masa kanak-kanak Enrique dihabiskan di tengah hiruk-pikuk perdagangan rempah-rempah yang menjadikan Maluku sebagai “surga rempah” yang diidamkan oleh pedagang dari seluruh penjuru dunia. Pala dari Banda Neira dan cengkeh dari Ambon adalah komoditas yang nilainya melebihi emas pada abad ke-15 dan ke-16. Enrique kemungkinan bekerja di kapal-kapal dagang yang mengangkut rempah-rempah ini, merantau dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain di Nusantara, termasuk ke Palembang dan Malaka.

Namun, takdir membawa Enrique pada titik balik yang dramatis. Pada tahun 1511, Kesultanan Malaka—pusat perdagangan terpenting di Asia Tenggara—jatuh ke tangan Portugis di bawah komando Alfonso d’Albuquerque. Ferdinand Magellan, seorang bangsawan dan prajurit Portugis muda, turut serta dalam penaklukan brutal tersebut.

Antonio Pigafetta, kronikawan Italia yang ikut dalam ekspedisi Magellan dan menulis “Relazione del primo viaggio intorno al mondo” (Laporan Perjalanan Pertama Mengelilingi Dunia), mencatat bahwa dalam pertempuran Malaka, Portugis menangkap ribuan budak dari berbagai suku Nusantara. Di antara mereka adalah Enrique, yang pada saat itu berusia sekitar 18 tahun. Magellan mengambil Enrique sebagai budak pribadinya, tertarik pada kemampuan pemuda itu berbahasa Melayu—lingua franca perdagangan di Asia Tenggara.

Saksi Mata dari Dua Belahan Dunia

Sumber-sumber primer tentang Enrique sangat terbatas namun sangat berharga. Selain catatan Antonio Pigafetta yang diterbitkan di Paris pada 1525, ada juga laporan Maximilianus Transylvanus berjudul “De Moluccis Insulis” (1523). Transylvanus, yang merupakan sekretaris Kaisar Charles V, mewawancarai 18 awak kapal Victoria yang selamat dan kembali ke Spanyol. Kedua sumber ini kini tersimpan di Perpustakaan Universitas Yale, Amerika Serikat, dan menjadi bukti otentik perjalanan Enrique.

Wasiat terakhir Magellan, yang ditulis sebelum ia meninggal, juga menyebut Enrique sebagai “orang asli Malaka” dan mencatat bahwa ia telah dibaptis dengan nama Kristen Enrique (dalam bahasa Spanyol) atau Henrique (dalam bahasa Portugis) pada hari penangkapannya, yang kebetulan jatuh pada perayaan Santo Henry.

Namun, ada perdebatan di kalangan sejarawan mengenai asal-usul Enrique. Pigafetta menyebutkan bahwa Enrique berasal dari Sumatra, sementara saksi mata lain seperti Ginés de Mafra menyatakan ia dari Maluku. Sejarawan Filipina Carlos Quirino bahkan berargumen bahwa Enrique adalah orang Visayan dari Cebu, berdasarkan asumsi bahwa ia dapat berkomunikasi dengan penduduk Cebu dalam bahasa lokal mereka—meskipun sumber-sumber primer justru menegaskan bahwa ia berbicara dalam bahasa Melayu, yang pada masa itu memang digunakan sebagai bahasa perdagangan di seluruh wilayah tersebut.

Perjalanan Keliling Dunia: Tiga Titik Keberangkatan

Untuk memahami mengapa Enrique diyakini sebagai pengeliling dunia pertama, kita perlu menelusuri tiga tokoh utama dalam ekspedisi Armada de Molucca: Ferdinand Magellan, Juan Sebastián Elcano, dan Enrique Maluku sendiri—yang masing-masing memulai perjalanan keliling dunianya dari titik yang berbeda.

Ferdinand Magellan memulai perjalanan kelilingnya sejak tahun 1505 ketika ia berlayar dari Lisboa ke India dalam dinas untuk Raja Portugis. Pada 1511, ia ikut dalam penaklukan Malaka dan berlayar hingga ke Maluku. Magellan kemudian kembali ke Eropa melalui rute Samudra Hindia dan Tanjung Harapan di Afrika. Dengan demikian, sebelum ekspedisi 1519 dimulai, Magellan telah menempuh setengah perjalanan keliling dunia ke arah timur.

Juan Sebastián Elcano, navigator Spanyol yang akan menggantikan Magellan setelah kematiannya, baru memulai perjalanan keliling dunianya pada 20 September 1519 ketika armada berangkat dari Sanlúcar de Barrameda, Spanyol. Ia menyelesaikan perjalanan keliling dunia pada 6 September 1522 ketika kapal Victoria—satu-satunya kapal yang tersisa dari lima kapal awal—kembali ke Spanyol dengan hanya 18 awak yang selamat dari 260 pelaut awal.

Enrique Maluku, bagaimanapun, memiliki hitungan yang berbeda dan jauh lebih menarik. Ia memulai perjalanannya dari Ambon pada 1503, berlayar ke Palembang, kemudian ke Malaka. Setelah ditangkap pada 1511, ia dibawa oleh Magellan ke barat—ke Lisboa (1512-1513), kemudian ke Spanyol. Pada 1519, ia bergabung dalam ekspedisi yang berlayar ke arah barat lagi, melintasi Atlantik, melewati selat di ujung Amerika Selatan (yang kini bernama Selat Magellan), menyeberangi Samudra Pasifik, dan akhirnya tiba di Filipina.

Ilustrasi Enrique Maluku dalam ekspedisi Magellan yang bertugas sebagai jembatan budaya dan penerjemah. Enrique bisa berkomunikasi dengan masyarakat lokal di Asia Tenggara dengan Bahasa Melayu

Momen Bersejarah di Limasawa: 28 Maret 1521

Momen paling krusial dalam klaim Enrique sebagai pengeliling dunia pertama terjadi pada 28 Maret 1521, ketika ekspedisi tiba di pulau Limasawa (dalam catatan Pigafetta disebut Mazaua) di Filipina. Di sinilah, untuk pertama kalinya sejak perjalanan dimulai, Enrique dapat berkomunikasi dengan penduduk lokal dalam bahasa yang ia kuasai—bahasa Melayu.

Pigafetta mencatat momen dramatis ini: ketika kapal mendekati pulau, penduduk setempat menghampiri dalam perahu mereka, dan Enrique, sebagai penerjemah Magellan, dapat berbicara dengan mereka. Rajah Kolambu dari Limasawa dan Rajah Siaui dari Mindanao, yang sedang berburu di pulau tersebut, ternyata fasih berbahasa Melayu—bukti kuat bahwa bahasa Melayu memang lingua franca perdagangan di kawasan tersebut.

Historian Laurence Bergreen dalam bukunya “Over the Edge of the World: Magellan’s Terrifying Circumnavigation of the Globe” (2003) menyatakan bahwa Enrique diyakini berasal dari Kepulauan Rempah (Spice Islands) dan bahwa kemampuannya berbahasa Melayu menjadi alasan utama Magellan membawanya dalam ekspedisi. Ginés de Mafra secara eksplisit menyatakan dalam catatan saksi matanya: “Magellan mengatakan kepada anak buahnya bahwa mereka kini berada di tanah yang ia inginkan, dan mengutus seorang pria bernama Herédia, juru tulis kapal, ke darat bersama seorang pribumi yang mereka bawa, karena ia dikenal dapat berbicara bahasa Melayu, bahasa yang digunakan di Kepulauan Asia Tenggara.”

Pada titik ini, Enrique telah menyelesaikan apa yang disebut oleh sejarawan John Sailors sebagai “circumnavigation linguistik”—ia telah berlayar sejauh itu ke satu arah hingga tiba di tempat di mana bahasanya digunakan. Ia telah menempuh jarak sekitar 80.340 kilometer menurut catatan Pigafetta, hanya berjarak sekitar 2.600 kilometer dari Malaka, titik awal ia ditangkap Magellan pada 1511.

Apabila kita menghitung dari pelayaran awalnya dari Ambon pada 1503, Enrique sebenarnya telah pulang—atau setidaknya berada dalam jarak dekat dengan tanah kelahirannya. Dengan kata lain, ia telah menyelesaikan lingkaran penuh keliling bumi jauh sebelum kapal Victoria kembali ke Spanyol 17 bulan kemudian.

Ilustrasi Pertempuran Mactan tahun 1521, saat Ferdinand Magellan tewas dalam bentrokan dengan pasukan Lapu-Lapu di pesisir Filipina.

Tragedi Mactan dan Pembantaian Cebu

Ekspedisi yang dimulai dengan harapan besar berubah menjadi tragedi. Pada 27 April 1521, Magellan tewas dalam Pertempuran Mactan melawan pasukan datu Lapulapu, pemimpin lokal yang menolak konversi dan penaklukan Spanyol. Magellan, yang telah mengubah ekspedisi penemuan menjadi kampanye kristenisasi paksa, terbunuh dalam air dangkal pantai Mactan—hanya beberapa meter dari tepi pantai, namun cukup jauh dari kapal untuk diselamatkan.

Pigafetta, yang terluka dalam pertempuran itu namun selamat, menulis ratapan yang puitis: “Mereka membunuh cermin kami, cahaya kami, kenyamanan kami, dan penunjuk jalan sejati kami.”

Nasib Enrique setelah kematian Magellan menjadi misteri sejarah yang menarik. Dalam wasiatnya, Magellan dengan jelas menyatakan bahwa Enrique harus dibebaskan dari status budaknya setelah kematiannya. Namun, para petinggi Spanyol yang mengambil alih komando—Duarte Barbosa dan João Serrão—menolak memenuhi wasiat tersebut. Mereka justru memperlakukan Enrique dengan kasar dan mengancamnya.

Enrique, yang kecewa dan marah, kemudian mengambil tindakan yang akan mengubah jalannya ekspedisi. Pada 1 Mei 1521, ia menghadiri jamuan yang diadakan oleh Rajah Humabon di Cebu. Menurut catatan Giovanni Battista Ramusio, Enrique diduga memberi peringatan kepada rajah bahwa orang-orang Spanyol berencana menangkap dan menaklukkan para pemimpin lokal—sebuah strategi yang memang sering digunakan Spanyol dalam penaklukan mereka.

Apa yang terjadi kemudian adalah pembantaian. Dari 29 orang Spanyol yang menghadiri jamuan, hampir semuanya dibantai, termasuk Duarte Barbosa dan João Serrão. Pigafetta mencatat bahwa Serrão, yang tertinggal di pantai dan memohon pertolongan kepada awak kapal dari kejauhan, bersaksi bahwa semua peserta jamuan dibunuh—kecuali Enrique.

Setelah peristiwa berdarah itu, Enrique menghilang dari catatan sejarah. Tidak ada satu pun dokumen yang mencatat apa yang terjadi padanya setelah 1 Mei 1521. Ia diduga mendapat perlindungan dari Rajah Humabon dan kemungkinan besar kembali ke tanah asalnya di Maluku atau Malaka.

Debat Akademis: Siapa Pengeliling Dunia Pertama?

Pertanyaan “Siapa pengeliling dunia pertama?” ternyata lebih rumit daripada yang terlihat. Dalam situs resmi History.com, dijelaskan bahwa Magellan sering dikreditkan sebagai orang pertama yang mengelilingi dunia, namun kenyataannya ia tidak pernah menyelesaikan perjalanan tersebut—ia terbunuh di tengah jalan. Kandidat yang paling jelas adalah Elcano, yang memimpin kapal Victoria kembali ke Spanyol dan menyelesaikan circumnavigasi sebagai bagian dari satu perjalanan tunggal.

Namun, banyak sejarawan memberikan penghargaan kepada Enrique. “Pendapat berbeda-beda, tetapi banyak sejarawan memberikan kehormatan tersebut kepada budak Melayu Magellan, Enrique,” tulis History.com. “Magellan telah menangkap Enrique dari Malaka selama pelayaran sebelumnya pada 1511 ke Hindia Timur, dan orang Melayu itu kemudian melayani sebagai penerjemah ekspedisi keliling dunia di kepulauan Pasifik.”

Keunggulan klaim Enrique terletak pada fakta bahwa ia telah melakukan perjalanan sebelumnya dari Asia ke Eropa bersama Magellan, kemudian ikut dalam pelayaran melintasi Atlantik dan Pasifik. Pada saat ekspedisi mencapai Asia Tenggara, ia telah berada hanya beberapa ratus mil dari titik asalnya di Malaka. “Jika ia pernah kembali ke tanah airnya, maka Enrique mungkin layak mendapat kredit sejati sebagai orang pertama yang mengelilingi dunia,” simpul artikel tersebut.

Profesor Romain Bertrand dari Sciences Po, Paris, dalam bukunya “Qui a fait le tour de quoi?: L’affaire Magellan” (Siapa yang mengelilingi apa?: Kasus Magellan), menjelaskan bahwa Enrique adalah karakter penting yang bertindak sebagai penerjemah dan perantara budaya antara masyarakat Filipina yang berbahasa Melayu dengan Magellan dan awaknya. “Jika ia benar-benar naik kapal-kapal perdagangan lokal, perjalanan dari Cebu ke Malaka tidak akan memakan waktu lebih dari tiga hingga enam bulan,” kata Bertrand. “Jika ia berhasil kembali ke Malaka, tempat kelahirannya, dalam waktu kurang dari enam bulan, maka hipotesis logisnya adalah ia bisa menjadi orang pertama yang mengelilingi dunia—karena butuh hampir 18 bulan bagi orang Spanyol setelah kematian Magellan untuk kembali ke Spanyol.”

Yang menarik, hipotesis ini sebenarnya sudah diajukan sejak abad ke-19 oleh sejarawan seperti Toribio Medina dan Navarrete yang mulai menyelidiki arsip dan menerbitkan materi terkait ekspedisi. Mereka sudah mengemukakan bahwa secara logis, Enrique bisa menjadi orang pertama yang mengelilingi dunia.

Enrique dalam Narasi Nasional: Malaysia, Filipina, dan Indonesia

Sejak 1950-an, figur Enrique telah menjadi subjek klaim nasionalisme di Asia Tenggara. Di Malaysia, penulis Harun Aminurrashid menulis novel “Panglima Awang” (1957-1958) yang menjadi karya perintis nasionalisme budaya Melayu, menjadikan Enrique sebagai pahlawan nasional. Novel ini diterbitkan oleh Pustaka Melayu dan telah menjadi bagian dari narasi sejarah Malaysia.

Di Filipina, sejarawan Carlos Quirino menulis artikel berjudul “The First Man Around the World Was a Filipino” pada 1991, mengklaim bahwa Enrique adalah orang Visayan dari Cebu. Pada 2002, penulis Filipina Carla Pacis menulis novel berjudul “Enrique el Negro” berdasarkan argumentasi Quirino, dan sempat direncanakan untuk diadaptasi menjadi film. Klaim ini tetap menjadi perdebatan karena bertentangan dengan sumber-sumber primer yang secara konsisten menyebutkan bahwa Enrique berbicara dalam bahasa Melayu, bukan bahasa Visayan.

Di Indonesia, buku “Pengeliling Bumi Pertama adalah Orang Indonesia: Enrique Maluku” karya Helmy Yahya dan Reinhard R. Tawas (2014) menjadi tonggak penting dalam mengembalikan narasi Enrique ke Indonesia. Gubernur Maluku saat itu, Ir. Said Assaggaf, memberikan kata pengantar dan mengumumkan: “Pengeliling dunia pertama adalah Enrique Maluku, orang Indonesia yang berasal dari Maluku.” Ia menegaskan akan menyiarkan fakta ini ke setiap sekolah di Maluku.

Pada 2021, penulis Singapura Danny Jalil menerbitkan novel sejarah “Enrique the Black” lewat Penguin Random House SEA, yang menggambarkan Enrique sebagai remaja Melayu yang diambil oleh Magellan dan dipaksa menjadi budak, namun kemudian memainkan peran penting sebagai penerjemah dalam perjalanan ke Kepulauan Maluku. Di tahun 2022, Helmy Yahya melanjutkan dengan novel “Clavis Mundi” bersama Utama Prastha dan Donna Widjajanto.

Bahkan di Singapura, seniman Ahmad Fuad Osman menciptakan “The Enrique de Malacca Memorial Project” dengan patung Enrique yang kini tersimpan di Singapore Art Museum—pengakuan simbolis atas kontribusinya dalam sejarah maritim Asia Tenggara.

Warisan Rempah dan Nasib yang Terlupakan

Profesor Bertrand menekankan bahwa sejak 1960-an, di Malaysia, Singapura, dan Filipina, Enrique telah dirayakan sebagai pahlawan karena dua alasan: pertama, ia mungkin orang pertama yang mengelilingi dunia; kedua, nasibnya sebagai budak yang dipaksa berpartisipasi dalam ekspedisi kolonial Eropa menggemakan perjuangan melawan imperialisme.

“Di Asia Tenggara sejak 1950-an, Enrique adalah pahlawan sejati dari cerita ini,” kata Bertrand. “Bagi Eropa, pahlawannya adalah Magellan dan Elcano, tetapi di Asia Tenggara, pahlawannya adalah Enrique.”

Ironi dari kisah Enrique adalah bahwa ia dikeluarkan dari tanah kelahirannya karena rempah-rempah—komoditas yang membuat Maluku begitu berharga di mata Eropa—dan rempah pula yang membawanya dalam perjalanan untuk kembali. Pala dan cengkeh, dua rempah endemik Maluku, adalah alasan orang-orang Eropa menyeberang samudra yang berbahaya, mempertaruhkan nyawa mereka.

Seperti ditulis dalam portal DaengGassing.com, “Rempah yang membuat Enrique keluar dari Maluku dan rempah juga yang akhirnya membawa dia ingin kembali ke Maluku.” Pada abad ke-15, sekarung pala dengan segala khasiatnya berharga sangat mahal. Pala dan cengkeh adalah awal dari kolonialisme yang akan mendominasi Nusantara berabad-abad kemudian.

Namun kini, menurut data FAO (Food and Agriculture Organization), ekspor rempah Indonesia bahkan tidak masuk dalam 10 besar dunia—sebuah kemunduran yang menyedihkan bagi negara yang pernah menjadi “surga rempah” yang menarik penjelajah dari seluruh dunia.

Penutup: Mengembalikan Enrique ke Tempat yang Seharusnya

Pada 2019-2022, Spanyol dan Portugal merayakan 500 tahun pelayaran Armada de Molucca dengan berbagai acara yang dipusatkan di Sevilla—kota tempat Magellan mempersiapkan perjalanan bersejarahnya. Dalam perayaan tersebut, nama Enrique mulai mendapat pengakuan yang lebih luas, meskipun masih belum sepenuhnya setara dengan Magellan atau Elcano dalam narasi mainstream.

Yang pasti adalah ini: pada 28 Maret 1521, seorang pemuda dari Maluku menjadi orang pertama dalam sejarah yang berlayar begitu jauh ke satu arah hingga kembali ke wilayah di mana bahasa dan budayanya dipahami. Ia adalah bukti hidup bahwa bumi itu bulat dan dapat dikelilingi. Baik ia kembali ke Malaka atau tidak—dan kita mungkin tidak akan pernah tahu pasti—Enrique Maluku telah mengukir namanya dalam sejarah maritim dunia.

Kisahnya mengingatkan kita bahwa sejarah besar sering kali dibentuk oleh orang-orang biasa dari latar belakang yang terpinggirkan—budak yang menjadi penerjemah, navigator yang menjadi pemberontak, pemuda dari pulau kecil yang tanpa disadari menjadi saksi dan pelaku perubahan dunia.

Seperti yang ditegaskan oleh Gubernur Maluku dan didokumentasikan dalam arsip-arsip yang tersimpan di Yale, Boston, dan berbagai perpustakaan di Eropa, sudah saatnya nama Enrique Maluku dikembalikan ke tempat yang seharusnya dalam sejarah dunia—bukan sebagai catatan kaki, tetapi sebagai protagonis sejati dalam kisah pelayaran keliling dunia pertama.

Indonesia, sebagai pewaris Kepulauan Rempah yang telah mengubah jalannya sejarah dunia, memiliki tanggung jawab untuk menceritakan kisah putra terbaiknya ini—agar nasib Enrique tidak sesenyap nasib rempah Nusantara yang kini terlupakan di pentas dunia. (*)

***

Sumber Utama:

Sumber Primer:

Antonio Pigafetta, “Relazione del primo viaggio intorno al mondo” (1525)
– Maximilianus Transylvanus, “De Moluccis Insulis” (1523)
– Wasiat Ferdinand Magellan (1521)
– Ginés de Mafra, catatan saksi mata ekspedisi

Sumber Internasional:

Laurence Bergreen, “Over the Edge of the World: Magellan’s Terrifying Circumnavigation of the Globe” (2003)
– History.com, “Was Magellan the First Person to Circumnavigate the Globe?”
– Romain Bertrand, “Qui a fait le tour de quoi?: L’affaire Magellan” (Sciences Po, Paris)
– John Sailors, artikel di Medium dan EnriqueOfMalacca.com
– Wikipedia (Inggris dan Indonesia), “Enrique of Malacca”

Sumber Indonesia:

Helmy Yahya dan Reinhard R. Tawas, “Pengeliling Bumi Pertama adalah Orang Indonesia: Enrique Maluku” (2014)
– Helmy Yahya, Utama Prastha, dan Donna Widjajanto, “Clavis Mundi” (2022)
– Indonesia.go.id, “Pengeliling Bumi Pertama adalah Orang Indonesia”
– BeritaBeta, “Enrique Maluku, Orang Pertama yang Keliling Dunia?”
– DaengGassing.com, “Enrique Maluku dan Rempah Nusantara”
– Detik.com, “Enrique Maluku, Orang Pertama yang Mengelilingi Bumi Asal Indonesia”
– Kumparan.com, “Enrique de Malacca, Pria Maluku yang Pertama Kali Mengelilingi Dunia”

Arsip:

Perpustakaan Universitas Yale, Amerika Serikat
– Boston Public Library (Terjemahan James Alexander Robertson, 1906)
– Arsip Casa de Contratación de las Indias

Exit mobile version