Kabar

Doa dan Rakyat di Bintaro Design District 2026

Published

on

Karya Budi Pradono, berjudul Doa, 2026

Sejak awal digagas dan dihelat, Bintaro Design Disrtict (BDD) pada 2018 telah memikat penulis. Sebuah komunitas organik yang menginisiasi bertemunya desainer, arsitek, pelaku industri serta orang-orang kreatif membawa rancang ide desain serta produknya bertemu langsung dengan masyarakat biasa.

Mereka membincangkan kemungkinan-kemungkinan abstraksi menyoal konsep desain menjadi lebih ramah, terjangkau dan mudah didekati pun dimengerti. Termasuk membuka wawasan-wawasan anyar apa sejatinya peran desain dalam hidup keseharian.

Yang kali ini, tema Lintas Batas dalam topik festival BDD 2026 ini dihelat sangat kontekstual. Saat produk-produk di tangan para desainer memberi imajinasi dan solusi sekaligus. Materi-materi rancang desain lebih fleksibel, serta misalnya: memandu masyarakat bisa menyaksikan karya-karya bermateri sederhana dari ide materi daur ulang yang inspiratif.

Realitas resesi ekonomi mendekat, ketidakpastian pelaku industry menengah sampai bawah mendapatkan akses finansial dari dunia perbankan yang sulit dijangkau. Sementara, aturan-aturan pengelolaan industri kreatif tumpang tindih saat sama materi-materi sebagai bahan baku para desainer tertentu muskil bisa terpenuhi dengan mudah.

Karya Budi Pradono, berjudul Doa, 2026

Maka, Lintas Batas sebagai topik yang ditawarkan pada para arsitek dan desainer Indonesia pun sejumlah desainer manca negara cukup layak dipahami. Konsep empat Kurator ini, yakni Andra Martin, Budi Pradono, Hermawan Tanzil serta Danny Wicaksono lamat-lamat menjadi semacam oase di kota Jakarta dengan sayap distrik kota mandiri Bintaro pada festival BDD ini di wilayah Tangerang Selatan.

Penulis meyakini, Lintas Batas bisa ditafsir tentang desain tidak hanya bertumbuh dari fungsi materi, bentuk-bentuk estetis, kegunaan yang dicanangkan sebagai prinsip-prinsip desain yang kaku, namun menyimak yang tak terlihat. Para Kurator nampaknya membaca fenomena yang terhubung dengan ingatan komunal masyarakat.

Resesi ekonomi menghampiri, dengan indikator melemahnya Rupiah dan tata-kelola aturan bongkar-pasang penentu kebijakan publik, memberi kemampuan ide-ide para desainer menjelajahi gagasan-gagasan anyar tentang imajinasi untuk bertahan hidup dengan cara kreatif.

Penulis terbius pada dua desainer dari sejumlah arsitek muda serta senior yang terpilih untuk disimak dan ditafsir ulang pada helatan BDD semenjak Juni sampai periode ke II, yakni November 2026 nanti.

Karya Budi Pradono, berjudul Doa, 2026

Doa Budi Pradono dan Rakyat ala Dennis Pluemer

Kolaborasi pemilik restaurant ramen Yamaoka Takuto dengan arsitek dan desainer Budi Pradono cukup memantik kesadaran, bahwa kita hari ini sedang dalam mode survival serta sekaligus berserah diri pada Sang Pemilik semesta.

Budi mengawali kolaborasi dengan warga Jepang ini sejak 2024 dengan dasar ide bahwa tiap-tiap rumah di Nusantara memiliki tempat khusus untuk bersembahyang. Kemudian karya desain produk ‘Doa’ hadir mengalir dengan inspirasi bahwa meja pendek dan bantalan tempat lutut yang empuk, dengan sketsa-sketsa rancang desain yang artistik, serta sejumlah instrumen lain berupa sekat-sekat kecil bisa menjadi lokasi meletakkan kitab suci dll mengemuka.

Dalam imajinasi penulis, Budi membayangkan sebuah relasi personal, objek-objek, dengan altar spiritual sekaligus menerbangkan benak pada kondisi keprihatinan pada negeri. Permukaan meja mungil, serta objek-objek itu menyentuh relung rohaniah kita secara privat menggedor proses perenungan batiniah; yang bersinggungan dengan nuansa kehidupan berbangsa yang sedang koyak.

Tak dipungkiri, saat etika kepemimpinan publik yang sering ditampilkan di media sosial, TV pun terselip gencar di gadget sering ditanggalkan, mengetuk perlahan nalar dan rasa kita sebagai manusia.

Jiwa-jiwa kolektif religius bangsa seakan diungkap bahwa Budi mendesain sebuah ruang intim untuk menebarkan hakekat keimananan, yang salah satunya adalah memicu ruang-ruang untuk ikut berefleksi dalam kesalehan sosial selain yang individual tentang Ketuhanan bertemu.

Publik kembali diajak untuk menekuri bahwa sejatinya tiap manusia layak berserah untuk tiap batin bersandar dari “lelah dunia” menuju “rumah spiritual”; yakni ruang yang disiapkan untuk mempercakapkan dan membasuh diri sendiri untuk tetap berharap.

Karya desainer warga Jerman, Dennis Pluemer berjudul Rakyat, 2026

Sementara, karya desainer warga Jerman Dennis Pluemer yang berdekatan intim dengan desainer khas kayu lokal Singgih Susilo Kartono menghentak dengan versi desain berjuluk Rakyat dari Santai furniture.

Sebagai orang Jerman, yang puluhan tahun tinggal di Jogja juga enterpreuner sosial ia sangat detil dan cakap mengamati yang bagi orang lokal tak memperhatikan dengan jarak. Seorang Dennis mampu melihat yang tak terlihat meski sebenarnya mudah dan akrab disekeliling kita. Furnitur jalanan yang digambarkan dalam empat fundamen seturut pengamatan Dennis yakni: material daur ulang, material yang praktis dan efisien, kecakapan tangan untuk mengikat konstruksi desain dan estetika bentuk yang intuitif.

Produk Rakyat ala Dennis ini adalah sebentuk desain mebel yang bisa lahir dari embrio

pernyataan “saking biasa-biasa saja” hingga “tak terlihat”, menjadi produk luar biasa; saat benar-benar dilahirkan dengan sunggguh-sungguh hingga mencipta desain yang elegan dan modern.

Sebagai yang diucap selalu oleh seorang desainer, Dennis memercayai tak hanya soal estetika bentuk tetapi seberapa jauh sebuah produk menyentak emosi dan menimbulkan kenyamanan pada publik.

Karya desainer warga Jerman, Dennis Pluemer berjudul Rakyat, 2026

Pengalaman Dennis mirip dengan kegundahan Singgih S Kartono dengan menyimak kursi-kursi Jawa yang dianggap kadaluwarsa, namun memiliki kualitas desain sangat baik. Dihantam oleh terlalu dekatnya desain kursi dan meja yang familiar, kemudian menimbulkan kebosanan dan rasa inferioritas publik pada desain yang old fashioned.

Entah sudah sejumlah pertemuan Singgih dan Dennis di masa lalu, yang memberi inspirasi juga bahwa craftmanship atau keahlian ketukangan yang mumpuni memberi nilai tambah pada objek-objek yang dianggap berlevel rendah dan Dennis membuktikan lagi kali ini.

Penulis menjadi tersentak dengan mengilhami cara Dennis bekerja dengan mengingat bahwa pada ajang seni kontemporer kalau tak salah pada Artjog 2019, yakni karya kursi Sedan Es Campur sebagai persembahan karya gotong royong desainer Singgih S Kartono, furniture berlabel Santai milik Dennis serta kelompok seniman Indie Guerillas.

Karya Rakyat di mata penulis adalah kemampuan bertahan hidup, seakan survivalitas bisa dicontohkan oleh para desainer. Siasat organik BDD, membangun dari semboyan yang rasanya meski klise ‘dari, oleh dan untuk Rakyat’, tetap menjadi tauladan yang riil. Dari kreatifitas desainer pun para pelaku industri di BDD menyambut realitas resesi ekonomi patut dihaturkan respek sedalam-dalamnya. (*)

Bambang Asrini, pemerhati isu seni, sosial dan budaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Exit mobile version