Kolom
Dewi Nusantara Vs Dewi Yunani Kuno
Gde Mahesa
Adanya Dewa atau Dewi merupakan mitologi universal. Setiap benua, bahkan wilayah terpencil tentu mempunyai kisah yang nyaris sama. Tentunya hal tersebut tak lepas dari kisah peradaban masa lalu.
Dewa – Dewi tentu sangat menarik dikulik, namun kebetulan penulis hanya ingin membahas para Dewi-nya saja, masak mbahas Dewa, ibarat jeruk minum jeruk.
Penelusuran kali ini kita mencoba perbandingan antara para Dewi Nusantara dan Yunani kuno. Bagaimana karakteristiknya? Adakah para Dewi tersebut mempunyai vibrasi atau energi bahkan bentuk fisik yang sama?
Dewi Sri vs Demeter
Mereka berdua nyaris bagai pinang dibelah dua. Kemiripannya sampai 95 persen. Nyaris kembar identik, mungkin perbedaannya di barcode saja.
Dewi Sri, adalah dewi padi, simbol kesuburan, bisa disebut juga ibu bumi.
Namun jika kecewa maka dapat membuat sawah gagal panen, hingga membuat paceklik. Konon ia mempersembahkan tubuhnya sebagai persembahan tumbal, sehingga Dewi Sri sangat dihormati petani Jawa-Sunda-Bali.
Demeter, sebagai Dewi gandum, yang menjaga pertanian hingga panen.
Jika sedang kecewa maka boleh dikata ia akan ngambek, dan membuat musim dingin, sehingga bumi jika ditanami tidak akan bisa tumbuh. Demeter sangat dihormati oleh petani Yunani kuno.
Keduanya mempunyai kesamaan makna filosofi mereka adalah “Ibu Perut”. Sedangkan
perbedaan tipis dari keduanya, adalah ketika kecewa atau baper.
Demeter lebih lebay sampe bikin musim dingin. Sedangkan Dewi Sri elegan, dengan menjaga harga beras naik, dan membuat masyarakat bersama-sama menjerit.
Kanjeng Ratu Kidul vs Amphiteite (Thetis)
Keduanya tergolong agak mirip 80persen, kalau boleh dibilang mereka pantas menjadi saodara sepupu. Dalam selera dan gengsi sebelas duabelas.
Ratu Kidul, adalah penguasa Laut Selatan, yang konon merupakan istri simbolis dari raja-raja Mataram. Kecantikannya mematikan, dan juga misterius, suka ngambil tumbal. Selain itu ia adalah sipengatur ombak, badai, yang tidak bisa dilawan. Sebagai tangan kanan atau kirinya adalah Dewi Lanjar, Nyi Blorong.
Amphitrite, istri Poseidon, ratu laut yang cantik, tapi pencemburu. Kesaktiaannya bisa mengubah saingannya jadi monster. Ia juga pengendali badai, dan menenangkan laut. Dikawal oleh 50 dayang-dayang yang semua tunduk pada kehendaknya.
Karakter keduanya plek sama “Beautiful but Lethal”. Pastinya cantik, berkuasa, wilayahnya tidak bisa buat main-main dan sembrono. Masuk sembarangan tanpa sopan santun berarti tamat. Keduanya mempunyai gaya masing-masing.
Ratu Kidul lebih boleh dibilang silent killer. Tidak banyak memberi tanda apapun, apalagi ngomong, tau-tau blas hilang. Sedangkan Amphitrite lebih mendrama, maklum apa pun ia istri dewa Yunani.
Keduanya merupakan simbol filosofi bahwa :
Laut tidak bisa dimiliki oleh siapa pun. Mau raja, dewa, laut tetap punya penguasanya sendiri. Manusia cuma numpang.
Dewi Ratih vs Selene (Artemis) keduanya boleh dibilang 90 persen kemiripannya. Juga bisa dibilang satu Divisi dalam urusan, cuma beda kantornya.
Dewi Ratih disebut juga Dewi Bulan, sang pengatur siklus, keindahan malam. Berkaitan dengan kesuburan dan kalender tanam. Cantik, kalem, adem, pengendali atau pengatur waktu.
Selene (Artemis) disebut juga Dewi bulan, perburuan, dan keperawanan. Ia bertanggung jawab menjaga hutan.
Karakter keduanya mengatur waktu, tidak bisa diganggu. Mereka mengatur pertanian dan gelombang pasang laut.
Bulan adalah jam penanda alam semesta. Tidak mengikuti aturan bulan dapat membuat hidup berantakan. Untuk itulah dewi bulan selalu digambarkan menjaga jarak, sebab terlalu suci buat disentuh.
Dewi Danu vs Nimfa (Najad)
Tingkat kemiripan mereka boleh dibilang 85 persen, dan mereka satu spesies.
Dewi Danu atau Dewi Danau Batur, merupakan sumber air Bali. Sedangkan Najad
di Yunani merupakan penguasa mata air, sungai, danau. Tiap sumber air ada Najad-nya. Karakter mereka sama, sebagai penjaga sumber kehidupan lokal.
Keduanya sosok yang cantik, lembut, tapi kalau sumber airnya dirusak, dia bisa marah bahkan mengutuk siperusak jadi gila.
Jadi para leluhur mitologi Nusantara dan Yunani boleh disebut masih satu frekuensi, yang berusaha agar manusia dapat hormat dan menjaga “alam” agar ekosistem tetap berputar dan lestari.
Bullllll….. bullll…. klepussss…..