Kabar

Dari Kebun Sekolah ke Iklim Bumi: Cara TK Siti Maryam Mendidik Penjaga Masa Depan

Published

on

Oleh Heri Mulyono

Puluhan anak kecil berbaris di kebun sekolah, tangan mereka menggali tanah, menuangkan air, dan mengelus bulu kambing — di TK Siti Maryam, Depok, cinta lingkungan bukan pelajaran di papan tulis.

Jumat pagi, 5 Juni 2026. Langit Depok cerah berawan ketika lebih dari tiga puluh anak berhamburan ke halaman TK Siti Maryam. Sebagian menenteng polybag berisi bibit bayam, beberapa menggenggam pot kecil dengan tanaman lidah buaya. Ada pula yang membawa bibit kemangi, jahe, atau mint — pilihan mereka sendiri dari rumah. Hari itu bukan hari biasa. Itu adalah Hari Lingkungan Hidup Sedunia (HLHS) 2026, dan sekolah ini merayakannya dengan cara yang jauh dari seremoni.

Di bawah tema global “Inspired by Nature. For Climate. For Our Future” dan seruan nasional “Saatnya Bekerja untuk Iklim”, TK Siti Maryam memilih bahasa yang paling dimengerti anak usia dini: tangan yang kotor tanah, tawa yang lepas, dan tubuh yang bergerak.

Sesi pertama dimulai di kebun edukasi. Satu per satu, anak-anak membuat lubang kecil, meletakkan bibit pilihan mereka, lalu menutupnya kembali dengan tanah sambil dibantu guru pendamping. Tidak ada ceramah panjang tentang perubahan iklim. Tidak ada slide presentasi tentang pencemaran laut. Yang ada hanyalah tanah di ujung jari dan benih yang menunggu tumbuh.

Yang membuat momen ini berbeda dari sekadar kegiatan seremonial adalah komitmen setelahnya. Bibit yang mereka tanam hari itu menjadi “sahabat” baru — tanggung jawab yang nyata. Setiap hari, para siswa akan menyiram, mengamati, mencatat pertumbuhan. Ketika tanaman itu akhirnya berbuah atau berdaun rimbun, anak-anak itu tahu: mereka yang mengupayakannya.

Petualangan di Kolam dan Kandang

Seusai bergelut dengan tanah kebun, petualangan berlanjut. Anak-anak digiring menuju area kolam dan peternakan terpadu yang menjadi salah satu keunggulan sekolah ini. Di tepi kolam, ratusan ikan lele dan koi bergerak lincah. Satu per satu siswa antre, mengambil pelet, lalu menaburkannya ke permukaan air. Suara percikan dan gelak tawa bercampur jadi satu.

Tidak jauh dari sana, kawanan burung merpati hinggap dan terbang bebas di area terbuka. Anak-anak mengulurkan tangan, dan merpati-merpati itu tak segan mendekati. Momen inilah yang kerap menjadi foto favorit para orang tua yang hadir hari itu — anak kecil berdiri tenang di tengah kepak sayap burung.

Puncak acara adalah sesi memandikan kambing. Ini bukan penampilan hiburan. Ini adalah latihan psikomotorik sekaligus pendidikan karakter. Dengan ember berisi air dan sabun, anak-anak secara bergantian menyikat badan kambing yang sabar berdiri di tempat. Ada yang tertawa geli saat kambing menggeliat. Ada yang tampak serius menyikat kaki-kaki berbulu itu. Guru mendampingi, menjelaskan pelan-pelan: hewan juga makhluk hidup yang butuh dirawat, bukan sekadar dipandangi.

Aktivitas fisik seperti ini, kata para ahli pendidikan anak usia dini, jauh lebih efektif membentuk empati ketimbang instruksi verbal. Anak yang pernah merasakan berat badan kambing di tangannya, yang pernah merasakan bulu basahnya, akan menyimpan memori sensorik yang jauh lebih bertahan lama daripada sekadar membaca buku teks tentang “menyayangi binatang”.

Kurikulum Hijau yang Bukan Sekadar Tren

Bagi TK Siti Maryam, peringatan Hari Lingkungan Hidup bukan sebuah momen tahunan yang berdiri sendiri. Ia adalah puncak yang terlihat dari gunung besar bernama kurikulum harian berbasis alam yang telah lama berakar di sekolah ini.

Sejak hari pertama masuk, siswa sudah diajarkan memilah sampah. Bukan teori, melainkan praktik: tempat sampah organik dan non-organik tersedia di setiap sudut, dan anak-anak terbiasa berpikir sebelum membuang. Lebih jauh, mereka juga terlibat dalam produksi ecobricks — botol plastik yang diisi penuh dengan sampah anorganik hingga menjadi material bangunan keras. Sebuah cara kreatif mengubah limbah menjadi sumber daya.

Namun mungkin program paling ambisius sekaligus paling edukatif di sekolah ini adalah sistem pertanian terpadu yang mereka bangun sendiri. Di jantung sistem itu ada budidaya maggot — larva Black Soldier Fly (BSF) yang bekerja tanpa henti mengurai sampah organik sekolah setiap hari. Tidak ada sampah makanan yang terbuang sia-sia. Semua masuk ke bak maggot, diurai, lalu menghasilkan dua produk: pupuk kompos organik berkualitas tinggi dan maggot kaya protein yang siap dipanen.

Pupuk itu menyuburkan kebun sayur sekolah. Maggot itu menjadi pakan alami bagi unggas dan ikan lele di kolam. Ikan lele yang tumbuh sehat dari pakan alami itu, pada saatnya, akan dipanen bersama-sama, lalu diolah di sesi cooking class. Sebuah lingkaran sempurna — zero waste cycle — yang dikelola dan disaksikan langsung oleh anak-anak berusia empat hingga enam tahun.

Tidak banyak sekolah dasar pun yang memiliki sistem seperti ini, apalagi sebuah taman kanak-kanak.

Deep Learning di Ladang Nyata

Kepala Sekolah TK Siti Maryam, H. Sigit Subiyanto, S.E., menjelaskan pendekatan yang mendasari seluruh program ini. Ia menyebutnya deep learning — bukan dalam pengertian teknologi kecerdasan buatan, melainkan pendekatan pedagogis yang mendorong anak menggunakan nalar logis dan berpikir kritis untuk memahami ekosistem di sekitar mereka.

“Tujuan utama kami memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 ini bukan sekadar merayakan hari besar di kalender,” ujarnya. “Kami ingin anak-anak mendapat pengalaman langsung yang berkesan.”

Bagi Sigit, yang baru setahun menjabat kepala sekolah namun sudah lama bergelut di dunia pendidikan anak usia dini, koneksi sensorik adalah kunci. “Siswa perlu sering diajak menyentuh tanah secara langsung, memberi makan hewan secara nyata, dan merasakan sendiri bagaimana ekosistem ini bekerja saling mendukung,” tegasnya.

Ada logika sederhana di balik keyakinan itu: anak yang pernah merawat tanaman dengan tangannya sendiri tidak akan dengan mudah mencabut tanaman di taman kota. Anak yang pernah memberi makan hewan dengan telapak tangannya tidak akan tumbuh menjadi orang yang memandang remeh kehidupan lain. Empati tidak diajarkan lewat ceramah — ia ditumbuhkan lewat pengalaman.

Maka ketika tema global tahun ini mengajak semua pihak “bekerja untuk iklim”, TK Siti Maryam menjawabnya dengan cara yang paling konkret yang mereka bisa: membawa anak-anak ke kebun, ke kolam, ke kandang.

Ketika Sekolah Masuk ke Rumah

Pendidikan berbasis alam yang konsisten menghasilkan efek yang tidak selalu terencana, tetapi paling berharga: ia menular ke rumah.

Luki Arifiani, ibu dari Nurma — siswi kelas TK B — menjadi salah satu saksinya. Ia hadir hari itu di acara peringatan HLHS bersama suami, menyaksikan putrinya dengan percaya diri menyiram bibit dan memberi makan ikan. Tapi cerita paling mengesankannya bukan terjadi di sekolah.

“Sejak bersekolah di TK Siti Maryam, Nurma menjadi suka memelihara dan menyiram tanaman di halaman rumah kami,” cerita Luki dengan senyum. “Dia yang inisiatif sendiri, tidak perlu disuruh.”

Yang lebih mengejutkan Luki dan suaminya adalah kesadaran Nurma tentang pemilahan sampah. Anak berusia lima tahun itu kerap mengingatkan kedua orang tuanya ketika mereka keliru membuang sampah. “Dia bilang, ‘Ma, Papa, ini masuk sampah organik. Kalau yang plastik ini non-organik, jadi harus dipisah ya’,” kenang Luki, menirukan suara putrinya.

Nurma, rupanya, tidak sekadar mengulang kata-kata guru. Ia sudah menginternalisasi pengetahuan itu, menggunakannya sebagai alat untuk mengevaluasi perilaku orang-orang di sekitarnya — termasuk orang tuanya sendiri. Inilah yang oleh para pendidik disebut transfer of learning: pengetahuan yang tidak berhenti di gerbang sekolah.

“Program edukasi lingkungan hidup yang diterapkan di sekolah berhasil melekat kuat dan mewujud nyata dalam pembentukan karakter anak,” pungkas Luki.

Trial Class sebagai Pintu Masuk

Hari itu juga bersamaan dengan agenda Trial Class bagi calon siswa baru. Bukan kebetulan. Sekolah sengaja memadukan dua agenda ini agar para calon siswa dan orang tua mereka tidak sekadar melihat foto-foto program di brosur, melainkan merasakannya langsung — tanah di tangan, suara ikan di kolam, aroma kebun yang segar.

Strategi ini mengandung keberanian tersendiri: alih-alih menampilkan wajah terbaik di ruang kelas yang rapi, TK Siti Maryam mempersilakan calon siswa masuk ke “dapur” sesungguhnya dari filosofi pendidikan mereka. Bagi orang tua yang mencari sekolah dengan pendekatan berbeda — yang percaya bahwa anak belajar bukan hanya dari buku tetapi dari alam dan kehidupan nyata — undangan ini adalah jawaban.

Agen Perubahan yang Belum Genap Enam Tahun

Krisis iklim kerap dibicarakan dalam skala yang besar dan mengintimidasi: kenaikan permukaan laut, hilangnya es Arktik, kepunahan spesies. Angka-angka itu benar, namun abstrak. Dan keabstrakannya sering kali melahirkan kelumpuhan — perasaan bahwa masalah terlalu besar untuk ditangani oleh satu orang, apalagi satu anak kecil.

TK Siti Maryam menawarkan antitesis dari kelumpuhan itu. Dengan membawa anak-anak ke kebun, mengajarkan siklus organik, melatih kebiasaan memilah sampah sejak dini, sekolah ini sedang menanamkan sesuatu yang lebih penting dari pengetahuan: keyakinan bahwa tindakan kecil punya makna.

Setiap bibit yang dirawat adalah satu tindakan nyata. Setiap plastik yang dipisahkan adalah satu keputusan sadar. Setiap kambing yang dimandikan adalah satu momen empati yang terpatri. Dikumpulkan dari jutaan anak yang tumbuh dengan kebiasaan seperti itu, tindakan-tindakan kecil itu bisa menjadi kekuatan yang mengubah arah.

Menjelang siang, acara HLHS 2026 di TK Siti Maryam memasuki babak penutup. Anak-anak yang tadi sibuk dengan tanah dan kambing kini duduk melingkar, minum air putih, napas sedikit tersengal dari kelelahan yang menyenangkan. Di kebun edukasi, deretan bibit baru berdiri tegak dalam barisan yang masih goyah.

Tapi bukan bibit itu yang paling berharga hari ini.

Yang paling berharga adalah ingatan yang tersimpan di kepala anak-anak itu — sensasi tanah lembab di telapak tangan, suara percikan air kolam, kelucuan kambing yang diguyur air sabun. Ingatan-ingatan itu akan tumbuh bersama mereka, membentuk cara mereka memandang dunia, dan pada suatu hari yang tidak bisa diprediksi, mungkin akan menentukan pilihan-pilihan besar yang mereka buat.

Itulah investasi sesungguhnya yang TK Siti Maryam tanamkan hari ini: bukan sekadar pohon di kebun, melainkan benih kepedulian di dalam diri anak-anak yang suatu hari akan mewarisi bumi ini. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Exit mobile version