Kabar

Badai Erros yang Belum Berlalu

Published

on

Sebuah Review Buku 1, Autobiografi Erros Djarot 2025

Sebuah buku diluncurkan seorang budayawan dan aktivis politik, Erros Djarot, tak tanggung-tanggung dipersembahkan buat Republik yang ‘sedang dipaksa mawas diri ini’, utamanya dalam dua dekade belakang.

Tepatnya, sejumlah dua buah buku dipresentasikan, medio akhir 2025 ini, dari autobiografi 600  halaman dan buku tebal lain dari persembahan berupa komentar sahabat-sahabatnya di usianya yang tak lagi muda,75 tahun.

Penulis memilih memiliki, membaca dan memberikan tinjauan buku Autobiografinya, dari ‘tuturan tangan pertama buku’, paras manusiawi sekaligus kompleksitas hidup sang budayawan itu.

Sutradara filem dan jurnalis senior ini yang memulai karir sebagai ‘musikus dadakan’ sampai  pergaulan elite-nya di lingkar kekuasaan sejak akhir rezim Orde-Lama, mengantarnya ke sekolah manca-negara tentang perfileman dukungan dari beasiswa British Council di London International Film School di era rezim Orde Baru.

Satu tokoh langka nan unik yang ‘mengawinkan kepiawaian’ sebagai arranger music score film, musisi, sutradara, penulis lirik lagu, kehebatannya memasuki pergaulan lintas-generasi serta tokoh-tokoh ‘politik dari kekuasaan lama’ sampai bahkan ‘kedekatannya’ dengan salah satu anak ‘Dinasti Cendana’ Soeharto; yang justru ia tentang secara ideologis, dalam urusan musik tetap membeda. Erros memang seorang aktivis serta marhaenis sejati yang luwes memainkan peran.

Ingatan tentang lawan politik namun tetap persahabatan terjaga sampai akhir hayat, mungkin semacam hubungan ‘welas asih sahabat dan perlawanan ideologis’, yakni misalnya relasi tokoh seperti Buya Hamka-Soekarno jarang ditemui lagi saat ini.

Erros menambal parasnya disana, memberi tauladan pada generasi penerus, tegak dalam sikap, luwes untuk bersahabat sampai kapanpun dengan siapapun, sebagai yang ia dapat amanah dari Guntur—disebut dalam bukunya, Mas Tok, ‘mentor politiknya awal’, sulung keluarga Soekarno bahwa relativitas relasi kawan atau lawan adalah: to your friend you have to be very close, but to your enemy you have to be closer.

Badai kreatifitas tak pernah usai, energinya seakan meluap tak habis dan bisa jadi spiritnya tak akan pernah berlalu. Semangat Erros nampaknya, menguak kembali talenta yang melekat di tubuhnya, cara ia sebagai jurnalis menulis buku Autobiografi itu mengalir-menggebu, ‘aliran airnya yang menderas’ sesekali bergolak.

Riak-riak airnya—tentu dengan data-data dan memorinya yang bahkan bisa dikatakan mengagumkan, silih berganti tercatat nama-nama tokoh dan sahabat-sahabat—tentu saja, meskipun dibantu oleh Editor yang bagus, sahabatnya M, Anis, hari dan tahun yang sahih tercantum, yang membentuk fundamen karir panjang politik praktisnya pun sekaligus persona karya-karya seninya—juga tentang ingatan-ingatan revolusioner dalam hatinya dengan kedekatan lingkar keluarga proklamor RI, Sukarno.

Yang utama, bagi Erros, isteri atau acapkali ia sebut ‘first lady Soekarno’ dan anak-anaknya, pengaruhnya sangat mendalam dan membekas dalam batin, tentang ‘Bapak Bangsa itu’ di hidupnya, juga ‘mentor-seni’ sekaligus teatrawan handal dan juga kakak-kandungnya yang penyabar, Samet Rahardjo dan sahabat-sahabatnya di manca negara atau yang di dalam negeri seperti musisi jenial Yockie Suryoprayogo dan pelantun lagu2 puitik Chrisye yang terpatri di hatinya, dan selalu hadir sebagai semacam kesaksian di buku tersebut.

Keterlibatannya sangat intens semenjak lama dengan melahirkan salah satu partai politik besar Tanah Air bergambar Banteng anyar yang berkelir Merah-Putih, yang bahkan ia ikut mengantarkan dan mengalami ‘drama-drama intens gerakan-gerakan polititik’, yang ia mengaku, menjadi sosok salah satu ’tink-tank’ mendampingi calon Presiden Presiden RI Perempuan pertama itu. Ia menabalkan hakikat peran seniman dan sumbangsihnya bagi masyarakat.

Erros dari parasnya yang lain, tak lelah membuahkan karya seni, bahkan sejak usia 20-an dengan ganjaran penghargaan dari Festival Film Indonesia tahun 1970-an, pewarta kompeten sebagai pemimpin redaksi di era 80-an untuk perlawanan total dengan rezim Orde Baru, sampai usainya masa transisi kekuasaan ‘Orde Reformasi yang limbung’ dengan kritik-kritik tajamnya menyapa gen-Zi via—podcast-podcast kebudayaan dan politik dengan para cendekia, seniman, professional dll di youtube dan juga tiktok serta IG sejak 2023-an sampai saat ini terus digeber, seakan ‘Badai’ dalam dirinya tak pernah benar-benar berlalu.

Dialektika Rezim Seni, Seniman dan Masyarakat

Jaques Ranciere, salah seorang filsuf Perancis di bidang politik, peneliti seni dan relasinya yang dikatakan substansi estetiknya dan perannya dalam kekuasaan dalam diri manusia menyebut: “sejatinya ada tiga kriteria level karakter yang menubuh dalam konsep kekuasaan dan seni yang tak berelasi secara sosiologis, namun tak langsung menghubungkan secara mental bagi seni dan seniman ‘menyetubuh’ dalam masyarakatnya”.

Pengamatan Ranciere yang tajam tentang kekuasaan pada diri persona seorang seniman atau apresian seni sebagai sebuah respon psikologis dan proses mental tertentu—sebagai energi kreatif selayaknya ada dalam diri subyektif orang-perorang dengan karakternya:

Yang pertama adalah Rezim Representasi, yakni semacam energi yang ingin oleh seniman diciptakan dalam dirinya sebuah driving force untuk menciptakan karya-karya dan digubah dari upaya mewakilkan esensi riil dunia dan fenomena realitas dalam masyarakat yang tak hanya konsep politis saja, namun lebih pada keterwakilan atau upaya membangun narasi representasional tentang dunia keseluruhan sebagai totalitas.

Sementara level berikutnya, adalah Rezim Estetik, yakni kemampuan secara alamiah merespon energi personal sebagai adanya ‘sensibibilitas’, yakni kepekaan mental secara subyektif yang dimiliki oleh seniman dan apresian seni untuk menafsirkan karya seni yang dianggap estetis.

Seniman mencipta karya dengan itikad tertentu menggambarkan sebuah peristiwa atau tuturan /narasi yang sangat subyektif yang mungkin beririsan dengan ingatan kolektif, demikian pula para apresiannya menjawabnya juga sangat membeda dan plural sesuai pengalaman-pengalaman inderawinya memaknai yang yang ‘sensible’ dalam gambaran yang disebut makna estetik personal dan kolektif sekaligus.

Sementara, pada level berikutnya, Ranciere membawa konsep yang sebagian ilmuwan mengkritik tajam tentang Rezim Moral, yakni semata-mata karya seni itu diciptakan untuk membela yang tertindas, yakni pihak-pihak yang dianggap mengusung kebenaran universal tentang nilai-nilai kemanusiaan hakiki.

Sementara, kebenaran adalah sesuatu yang dianggap ‘nalar utopian’ yang tentu saja tak selalu absolut, di tiap ideologi yang diyakini selalu ada titik-titik lemah, mana yang baik secara moral dan cacat secara etis, terutama dalam manifestasinya di dunia realitas pada kekuasaan tertentu secara sirkel kolektif elit politik (rezim politik yang sedang berkuasa).

Pergulatan nilai-nilai tentang ‘yang absolut baik’ dan ‘absolut tidak baik’ tentunya memberi nilai-nilai relativitas tentang menjadikan ‘makna sangat subyektif’ sebagai relasi antara seni, seniman dan masyarakat.

Apa yang dilakukan lebih dari 50 tahun berkarya Erros adalah pertemuan dan dialektika tak pernah berlalu, selalu terjadi gejolak yang mungkin, seperti disebut dalam bukunya, utamanya tatkala ia bertemu tokoh-tokoh ‘anti-Soeharto’, para Eksil di Jerman-Belanda dan Inggeris demikian pula keyakinannya yang kukuh tentang spirit Marhaenis yang mengakar, yang Erros mendaku ‘darah-politisnya menggelegak, saat belajar di manca negara’.

Menjadi pewarta mahasiswa dan mengaktifkan PPI, Perhimpunan Pelajar Indonesia menjadi solusi dan ‘kawah-candradimuka’ menuliskan ‘realitas masyarakat tertindas di era Orde baru’ dan menjadi pewarta awal di London, Inggeris.

Erros mendadak seperti gambaran tesis yang dilontarkan Ranciere, bersandar pada ekspresi-ekspresi sebagai seniman pada tataran Rezim Moral yang ia yakini, mencipta karya-karya kritik sosial—dalam konteks ‘jurnalisme-seni’; namun di lain momentum; segera berpindah saat ia mencipta musik latar filem yang bernuansa ke arah tuturan asmara eksistensial seorang manusia, kesia-siaan hidup dan harapan juga semangat untuk melepas kepergian kekasihnya –yang kemudian ‘sosok dalam lagu itu’ menjadi isterinya kelak, dari lagu masyhur ini: ‘Selamat Jalan Kekasih’.

Satu saat lain, ia diganjar dengan sangat mumpuni oleh penghargaan FFI dari kerasnya ‘didikan” sutradara gaek Teguh Karya yang mengamati versi Badai Pasti Berlalu dengan kritik tajam, yang pengakuan Erros adalah ikhtiar pencarian idiom-idom ekspresi Barat-Timur, yang sangat ia kuasai dengan pendekatan orkestrasi dan choir sebagai ‘Barat dengan ciri tertentu’.

Dan juga pendekatan ‘intimasi lokal’, yang lebih membumi sebagai musik latar dan aransemen yang lebih “Jawa”, dengan narasi relasi asmara ala lokal, sebagai pengakuannya sendiri dengan berbagai kosa kata Inggeris-Indonesia-Jawa yang seringkali disengaja tumpang tindih, bertaburan menampak dalam buku Autobiografinya itu.

‘Badai Pasti Berlalu’ yang menjadi legenda filem dan musik Tanah Air itu, adalah sebuah pertemuan semua level, dalam koteks kompleksitas falsafi amatan Ranciere, apa yang disebut Rezim Moral dalam seni—pencarian hakikat kebenaran tak terelakkan tentang dialetika global antara idiom-idom Timur-Barat era 1970-1980an.

Perpaduan tentang Rezim Representasi dan Rezim Estetik dengan cita-rasa ‘sensible’ yakni mewakilkan sebuah fenomena psikologis relasi perempuan dan laki-laki dan metafora-metafora pun bahasa perlambangan tertentu, juga sekaligus subyektifitas, semata-mata karya seni itu diciptakan dengan kekuasaan mutlak juga merasai dan menikmati sebagai Erros sebagai pencipta dan apresian dalam pengalaman-pengalaman sensibilitasnya sendiri secara personal yang filsuf Ranciere sebut itu.

Bagaimanapun, Erros telah mengarungi usia berkarya sangat matang, tak pernah usai penciptaan-penciptaan karya seninya diapresiasi lintas generasi, ‘seniman cum maesenas’ yang memiliki perspektif kompleks tentang memotret manusia-manusia di era dulu dan kini, manusia-manusia yang dijejak dalam ‘keragu-raguan zaman’, memahami mau kemana dan akan kemana Tanah Air akan bersandar di masa depan; dan cita-cita Republik ini kelak akan dilabuhkan?

Sebagai sepenggalan tidak utuh, lirik lagu Badai Pasti Berlalu ini, mungkin membawa pengakuan tulus seorang Erros Djarot di mata penulis sebagai penafsiran bebas dan mengulang dalam konteks meniadakan waktu dan era dengan mencermati ‘ziarah estetiknya’ lewat buku Autobiografi-nya dengan karya-karya lebih dari 50 tahun:

Awan hitam
Di hati yang sedang gelisah
Daun daun berguguran
Satu satu jatuh kepangkuan
Kutenggelam sudah
Ke dalam dekapan
Semusim yang lalu
Sebelum ku mencapai
Langkahku yang jauh

Bambang Asrini Widjanarko, kerani seni dan pengamat sosial-budaya

Bambang Asrini Widjanarko dan Erros Djarot.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Exit mobile version