Feature

Arsitektur Dari, Oleh Dan Untuk Warga di Kampung

Published

on

Sebenarnya mustahil di era yang serba berdimensi transaksioanl hari ini, apalagi krisis ekonomi menghampiri ada mengemuka sikap gotong-royong antar warga. Namun itu tak berlaku sejak 2018 atas komunitas kreatif yang diinisiasi sejumlah kurator berlatar arsitek dan desainer di Bintaro Design District (BDD).

Penulis menyapa kembali sejak dihelat 2018, awal Juni tahun ini dan berakhir dengan mengenang Minggu ke-III Juni 2026 pada acara penutupan. Hajatan kreatif yang menyembulkan banyak gagasan-hgagsan jenial, pameran serta peritiwa budaya, dengan menjumpai sejumlah arsitek senior, yang muda dan arsitek manca negara saat pameran BDD digelar di Sekolah Tanah Tingal.

Yakni kompleks sekolah seluas tiga hektar, semacam sebuah institusi pendidikan berwawasan lingkungan yang terletak di Tangerang Selatan. Kali ini sejumlah arsitek itu mengundang partisipan manca negara, yakni para fotografer arsitektur, arsitek dan desainer dari Busan Korea, dengan membangun sebuah instalasi unik dan bersama pavilion Jakarta-Busan tersebut penulis disuguhi diskusi cukup hangat, selain sejumlah presentasi arsitektural yang menarik intuisi kreatifitas pun nalar.

Penulis cukup terhenyak, saat arsitek senior sekaligus Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta Teguh Aryanto dengan sapaan akrabnya, Gigo yang bersemangat menyampaikan sebuah gagasan segar. Ia menyatakan bahwa sedang dalam proses rehabilitasi sejumlah rumah layak huni dengan perspektif kebersamaan di daerah kampung urban di Manggarai, Jakarta.

Proyek Arsitektur itu digagas di wilayah “slum”, yakni kriteria padat penduduk dan tentunya sanitasi dan kondisi akses ke kampung-kampung tengah kota Jakarta yang terbatas dan kecil dengan juluk proyek arsitektur “Kampung Gotong-Royong”, Menteng Tenggulun.

Empat foto di atas adalah pameran desain dan foto-foto di kompleks Sekolah Tingal, dari proyek arsitektural Kampung ‘Gotong-Royong’, karya 50 arsitek anggota IAI yg dikoordinasi oleh Ketua IAI Jakarta, Teguh Aryanto yang bisa dilihat hadil pembangunannya pada Juli ini di Kampung Menteng Tenggulun, Manggarai, Jakarta.

Gotong Royong Arsitektur Organik

Penulis mengingat sekitar 2012 sampai 2013 sempat bersama aktivis street art via seni rupa dan sekelompok penari dan mahasiswi dari IKJ (Institut Kesenian Jakarta) melakukan hal sama meski berbeda dimensi kreatifitasnya. Saat itu, dengan komunitas seni Jakarta Art Movement (JAM) dengan program Kampoong Art Attack mendirikan sekolah tak permanen (temporer di pusat pertemuan warga/ RW setempat).

JAM memilih untuk menghelat kerja kelas-kelas street art dan yang lain, aksi-aksi kelas tari kontemporer merespon kampung kumuh penuh kekerasan (tawuran) di Johar Baru, Senen yang didukung oleh lembaga LP3M dan Departemen Sosiologi Universitas Indonesia.

Balik pada kisah Gigo, sang ketua IAI Jakarta itu, ia menyampaikan penjelasan saat masih di kompleks pameran di Sekolah Tingal, bahwa dalam perspektif gotong-royong ia merespon tema utama BDD 2026 “Lintas Batas” yang melibatkan puluhan titik open studio para arsitek di kawasan Bintaro dan Tangerang dengan memilih presentasi dan pameran karya 50 orang arsitek bersama mewujudkan arsitektur menembus batas-batas.

Gigo menyebutnya sebagai arsitektur sebagai instrumen merawat jarak untuk semua orang dan merangkul batas-batas fungsional untuk sesiapa saja. Kali ini sasaran arsitektur adalah warga kampung padat yang cenderung kumuh. Dalam hal ini, ia memamerkan proyeknya tersebut yang didisplay berupa foto-foto dan desain rumah pada penulis serta audiens di kompleks Sekolah Tingal.

Arsitek yang berpartisipasi ada nama-nama cukup kita kenal dalam dunia desain dan arsitektur yakni, yang senior seperti Budi Pradono sekaligus Kurator BDD 2026, ada yang lebih muda seperti Chara Fitalika Berlianas, seorang fashion model sekaligus arsitek sampai Nurlina Ismail, serta Hegar mastio dll.

Gigo menyebut bahwa insiasi proyek ini memungkinkan kemudian didukung oleh Pemerintah, yang awalnya ia bangun dengan inisiatif mandiri bersama anggota IAI. Idealisme berkobar, yang ia menunjukkan bagaimana kawasan kampung di Manggarai tersebut, Menteng Tenggulun, dikepung oleh hunian elit para pejabat, selebritas dan korporasi raksasa mampu tetap hidup.

Gigo mengajak publik untuk bertemu langsung pada apresian dan masyarakat menyaksikan karya 50 arsitek tangguh anggota IAI ini pada bulan Juli ini secara langsung di Menteng Tenggulun, Manggarai.

Arsitek ini juga menekankan hasrat memulai proyek ini tersentuh dengan membayangkan kerasnya kehidupan masyarakat bawah yang bekerja secara informal, bekerja serabutan dengan menafkahi bahkan sebuah keluarga pada ukuran rumah hanya 3×4 meter di dua lantai. Yang bahkan, seturut Gigo untuk istirahat (tidur) bergantian antar anggota keluarga. Bagaimana warga bisa mendapatkan hunian yang layak?

Ia trenyuh menyaksikan sebuah komunitas kampung mampu survival, saat krisis ekonomi menghampiri; dan ia terpanggil untuk membenahi rumah mungil-rumah mungil tersebut agar layak huni dan berbagi dengan arsitek-arsitek yang lain.

Dari penjelasan Gigo, penulis meyakini bahwa arsitektur adalah sebuah kemampuan ilmu mengonstruksi hunian di tangan orang yang tepat dan mumpuni yang secara organik bisa menjelajah medan, situasi dan lokasi.

Arsitek memang tak hanya memenuhi impian bagi klien tertentu, namun bersama bertanggung-jawab secara sosial dan moral merengkuh dan mencari solusi pada masyarakat ibu kota paling membutuhkan.

Empat foto di atas adalah lokasi Ruangan Asa, tempat penginapan sederhana wisman dan lokal yang dibangun oleh arsitek muda Tegar Abieza di Kampung Utan, sebuah kampung Betawi tua dengan tradisi kental pertunjukan Lenong dan Tanjidornya di Tangerang.

Kampung Utan Kampung Wisata

Usai bertemu dan mendapatkan pencerahan-pencerahan dari Ketua IAI Jakarta tersebut, Kurator BDD, Budi Pradono mengajak penulis bertemu dan menyaksikan keramahan dan kemeriahan sebuah kampung di Tangerang, Distrik 9, Bintaro yang lagi-lagi dikepung oleh Kawasan Perumahan dan Perkantoran modern nan jumawa.

Penulis diperkenalkan dengan arsitek muda nan santun, Tegar Abieza, dan kampung Betawi kebanggaanya, Kampung Utan. Kampung ini satu permukiman tradisional Betawi tertua di Kelurahan Pondok Pucung dan Pondok Ranji, Tangerang Selatan.

Lokasinya yang strategis beradaptasi dengan modernitas dengan memadukan budaya lokal yakni tradisi Betawi-nya yang kental bertemu dengan pesatnya pembangunan perkotaan modern.

Seperti yang dituturkan dalam perjumpaan dengan Tegar, semenjak 2022 permukiman asli Betawi, kampung yang mempertahankan pola ruang organik dan tradisi sosialnya itu ia jadikan sebuah entitas pusat kolaborasi kreatif, pameran seni warga, dan ruang rekreasi alternatif bernuansa alam.

Tegar menyebut bahwa, meskipun ia meninggalkan studio konsultan arsiteknya di Semarang dan Gunung Kidul di Jawa tengah, ia semenjak menikah dengan warga setempat tahu bahwa ilmu arsitektur dengan kemampuan aksesibilitas menghubungkan berbagai area strategis. Kampung Utan layak dengan lokasi yang dicari untuk properti, tempat usaha, dan penginapan yang sangat berguna dengan revitalisasinya menjadi Kampung Wisata.

Ia membangun secara sederhana tempat untuk beristirahat, ruang-ruang mungil artistik, baik bagi wisatawan lokal pun mancanegara selama llima tahun terakhir dan ia membangun optimisme bersama warga selalu membuat semacam pesta budaya selang berapa minggu sekali untuk atraksi wisatawan.

Kebersamaan sejumlah jurnalis, aktivis, arsitek serta penyelenggara BDD 2026 di pameran dan diskusi di Sekolah Tingal.

Manifestasi aseli dari slogan yang dianggap klise bahwa arsitektur dari, oleh dan untuk warga tak mustahil diwujudkan. Tegar yang diganjar penghargaan Juara I dari BDD tahun 2022 sampai 2026 ini, membantah keras bahwa masyarakat kampung tak bisa dilibatkan dalam proses modernitas. Dengan merujuk pada fakta-fakta bahwa tradisi Lenong Betawi lengkap dengan panggung pertunjukan Pencak Silat dan musik Tanjidor adalah modal sosial dan kultural yang telah ada.

Penulis disambut sepuluhan kilo dari kompleks Sekolah Tingal dengan Pasar Malam yang eksotis di lokasi arsitek muda itu yang merayakannnya dengan ciri khas tontonan lokal, kuliner khas, serta atraksi Tanjidor, yang ia menjulukinya di kompleks studio dan rumahnya yang menjadi “pusat karang-taruna” penggerak Kampung sebagai Ruangan Asa.

Ruangan Asa milik Tegar di Kampung Utan dan inisitif Gigo dan arsitek anggota IAI-nya di Menteng Tenggulun, seperti semacam harapan menemukan “sumber air” gotong-royong diantara tandusnya “gurun individualisme” di kota raksasa semacam Jakarta ini.

Bambang Asrini, penulis dan kerani Seni

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Exit mobile version