Umbul Kidung Puja Mantra #3

PAMOR WRUH JALMA UTAMA KAWULA JAYA
Candi Kedulan, Sleman – Senin Wage, 10 Agustus 2026

Hening selalu hadir untuk menyuarakan nurani. Puja, mantra, dan septa adalah lukat dan ruwat — laku untuk menata batin agar tetap berpijak, tetap terhubung antar manusia, antar entitas hidup, dengan alam raya dan Hyang Murba Amisesa Jagat.

Pada Senin Wage, 10 Agustus 2026 jam 19.00 wib, panggilan itu kembali menggema.

Umbul Kidung Puja Mantra yang ketiga akan digelar di pelataran Candi Kedulan.

“SUARA DARI BATU”
Rahayu… Rahayu… Rahayu Sagung Dumadi.
Beratus pasang mata. Beratus napas. Berada di satu tempat.
Selamat datang di rumah Leluhur.

Lihatlah ke bawah. Tanah yang kita pijak ini, 1200 tahun lalu pernah dipijak oleh doa.
Lihatlah ke atas. Langit yang sama menyaksikan batu ini disusun, satu demi satu, dengan kesabaran yang telah punah di zaman sekarang.

Candi Kedulan tidak bicara. Tapi ia berteriak.
Teriaknya adalah diam. Dan di dalam diam itu, tersimpan seluruh isi kitab sejarah kita.
Hari ini kita berkumpul untuk Umbul Kidung yang ketiga. Tiga kali kita dipanggil. Tiga kali kita menjawab. Ini bukan kebetulan.

Karena yang datang ke sini tidak pernah tersesat. Entah sengaja atau “tidak sengaja” berada di tempat ini, percayalah Candi yang telah memanggil kita semua.

Yang hadir di sini adalah orang-orang terpilih. Terpilih untuk menjadi saksi. Terpilih untuk menjadi jembatan.

Kita hidup di zaman yang lupa.
Lupa siapa kita. Lupa dari mana kita berasal. Kita sibuk membangun masa depan, namun mengubur masa lalu.
Padahal, sejarah bukanlah museum berdebu. Sejarah adalah amunisi.
Amunisi untuk kita berdiri tegak hari ini. Amunisi untuk menatap masa depan tanpa malu.

Dengarkanlah suara batu candi yang berbicara:
Bahwa bangsa yang besar bukan bangsa yang memiliki gedung tertinggi.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang tahu siapa bapak ibunya.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang mengenal jati dirinya.
Dan jati diri itu tidak ada di Jakarta. Tidak ada di layar gawai.

Jati diri itu ada di sini. Di ukiran yang mulai aus. Di batu yang mulai berlumut. Di napas kita yang masih berbahasa Jawa.
Maka malam ini, saat Kidung Puja Mantra naik ke langit, jangan hanya mendengar dengan telinga. Dengarlah dengan tulang kita. Karena tulang itu dibentuk oleh leluhur yang sama, yang membangun candi ini.

Uri-uri bukan sekadar kata. Uri-uri adalah perlawanan.
Perlawanan terhadap lupa. Perlawanan terhadap punah.
Biarlah dunia tahu…
Selama masih ada satu orang yang mau duduk di pelataran candi dan berdoa…
Maka Majapahit belum mati. Mataram belum mati. Indonesia belum mati.

Kita justru sedang menuju altar peradaban yang lebih baru.

Rahayu untuk Candi Kedulan.
Rahayu untuk para Kawula.
Rahayu untuk Indonesia Raya.

PAMOR WRUH JALMA UTAMA KAWULA JAYA
Umbul Kidung Puja Mantra adalah gerakan spiritual-kebudayaan untuk merawat situs candi sebagai ruang hidup doa dan ingatan kolektif. Edisi #3 diselenggarakan secara hening, khidmat, dan terbuka untuk kawula yang terpanggil.

Exit mobile version