Strategi Kampanye Trump; Bisakah Ditiru Disini?

 Strategi Kampanye Trump; Bisakah Ditiru Disini?

 

Satu hal sangat penting dari kampanye Trump adalah fakta dia berusaha keras tetap ada di halaman depan media massa dan viral di media sosial —- melalui pernyataan-pernyataan yang kelihatan bombastis tapi sebenarnya disusun secara hati-hati.

Strategi utama berupa memobilisasi basis pendukung (dari partai atau luar), kelompok independen, dan para pemilih yang kecewa dengan pemerintah.

Menjelang pemilu AS tahun 2016 lalu, Trump paling tinggi di jajak pendapat hanya memperoleh 44% suara. Sehingga banyak pengamat dan pakar politik menyatakan Hillary Clinton akan menang mudah.

Tapi kenyataan berkata lain, Donald Trump menang dan memegang jabatan Presiden AS. Bagaimana caranya? Tulisan dibawah mencoba melihat strategi kampanye Trump. Apakah bisa diterapkan oleh para kandidat dalam pemilu di Indonesia — mungkin ya dan mungkin juga tidak.

Pahami masalahnya

Strategi pemenangan Trump pertama-tama dimulai dengan pemahaman akan kekuatan diri sendiri. Trump tidak punya dukungan organisasi akar rumput. Dia juga menyadari basis pemilih Parta Republik juga tidak akan memenangkannya, juga kelompok-kelompok masyarakat yang merasa terpinggirkan.

Namun dia menyadari koalisi basis Partai Republik dan kelompok masyarakat, yang merasa terpinggirkan, akan memenangkan pemilihan. Dan Trump memang berhasil membangun koalisi ini.

Trump juga memahami masalah faktual Amerika saat itu. Perkembangan ekonomi dalam angka menjelaskan semuanya; menang 25% rakyat di kelas atas menikmati kesejahteraan besar. Tetapi pendapatan 75% rakyat dibawah sudah stagnan selama puluhan tahun. Misalnya, upah minimum terkunci di 9 dolar per jam. Gerakan 15 dolar perjam baru mulai naik baru-baru ini saja, Washington DC menjadi kota pertama yang menerapkannya.

Hal lain kendati tingkat pengagguran paling rendah dalam sejarah di 4,9% — turun dari 10% saat presiden Barack Obama menjabat. Tapi kebanyakan lapangan kerja berupah rendah. Bahkan Wall Street Journal memperkirakan ada 2,6 juta pengangguran AS yang ingin bekerja tapi sudah berhenti mencari kerja.

Dampaknya, rakyat tahu bahwa ekonomi sedang sakit, para ekonom juga setuju dengan ini. Perusahaan-perusahaan besar, yang harapan hidupnya turun dari 75 tahun jadi 10 tahun saja, sudah sukar mencari untung. Jika pihak swasta sudah berjuang dengan susah payah, maka keseluruhan ekonomi stagnan dan rakyat menderita.

Inilah fakta di isu ekonomi dan Trump memanfaatkannya.

Percaya diri

Para pemilih merasakan dan lebih memilih rasa percaya diri daripada kapasitas aktual. Misalnya, dalam tiga kali debat televisi Hillary Clinton jelas menang telak. Dia menguasai masalah dan Trump tidak mampu menandinginya.

Tapi ini tidak masalah, Trump tetap tampil meyakinkan dan sama sekali tidak terganggu oleh komentar negatif para pengamat politik. Dia tampil percaya diri.

Dia menyebut orang Meksiko sebagai ‘pemerkosa’, mempertanyakan stasus kepahlawanan Senator (alm) John McCain, mengejek penampilan lawan politiknya, dengan gegabah dan tentunya tidak benar dia mengklaim ribuan orang di New Jersey bersorak-sorai ketika World Trade Center runtuh (9/11), bahkan dia menyerukan larangan masuk bagi Muslim.

Melihat pernyataan-pernyataan ini — jauh dari kenyataan sebenarnya — banyak orang memperkirakan kampanye Trump akan hancur dengan sendirinya. Kenyataannya pernyataan ‘bombastis’ dan usulan-usulan kebijakan yang kontroversial telah membuatnya berada pada posisi terdepan pada pemilu 2016 lalu.

Kendati dia banyak sekali memberi pernyataan salah atau tidak benar, dia sangat jarang mengakuinya. Dia jauh lebih sering pindah isu dan mengabaikan para pengkritiknya, yang mempertanyaan pernyataannya. Percaya diri.

Pemahaman akan kompetisi

Setiap kandidat sebaiknya memahami tiap isu dan bagaimana mempertahankan posisi anda terhadap isu tersebut. Hal ini penting supaya anda mampu memperlihatkan diri bahwa anda lebih mampu menyelesaikan masalah.

Trump sangat memahami pemilihan umum adalah kompetisi. Tapi pada kompetisi ini tidak ada juara kedua, cuma ada menang atau kalah. Karena itu, dia berusaha menyingkirkan pesaingnya dengan cara mendiskriditkan mereka.

Trump biasa memberi julukan-julukan tertentu kepada pesaingnya di Partai Republik. ‘pencekik’, ‘payah;, dan ‘badut’ dialamatkan kepada mantan gubernur Florida, Jeb Bush dan Senator Marco Rubio. Dia juga mempertanyakan apakah Hillary Clinton punya kebugaran dan stamina untuk jadi presiden dan menyatakan dia hanya butuh empat jam tidur sehari.

Misalnya, Ben Carson, pesaing Trump, pernah naik dalam jajak pendapat. Trump langsung menyerang dengan ejekan dan dengan gigih mempromosikan keraguan akan akurasi autobiografinya. “Betapa bodohnya orang yang percaya pada kebohongan ini?” Tanya Trump. Beberapa saat kemudian, suara Carson dalam jajak pendapat turun dan Trump memastikan para pendukungnya mengetahui perkembangan ini.

Ketika suara Senator Rubio naik dalam jajak pendapat, diapun langsung jadi sasaran Trump. Dia, melalui belasan cuitan Twiter, menyerang dan mendiskripsikan sang senator sebagai ‘kelas ringan’ saja. Belakangan, suara Rubio juga turun.

Hillary Clinton pun mendapat ‘semprotan’ dari Trump. Dia menyebutkan pengalaman selama lebih dari 20 tahun Clinton sebagai pengalaman buruk. Trump juga mengejak Clinton, yang kurang pantas dituliskan disini.

Trump tahu persis ini kompetisi dan tidak ragu-ragu menyerang langsung. Saya pribadi berharap taktik ini tidak digunakan di Indonesia — mudah-mudahan.

Pemahaman akan pemilih

Trump memilih para pemilih yang tidak senang dengan cara pemerintah bekerja dan dia menggunakan ini. Anda perlu pikirkan bagaimana anda bisa memanfaatkan kondisi ini ketika anda berhadapan dengan petahana.

Trump dengan slogan ‘Make America Great Again’ sebenarnya diambil dari kampanye Ronald Reagan ‘Let’s Make America Great Again’, yang dibawa oleh penasehat kampanye Roger Stone (penasehat politik Reagan). Kalau ditilik benar-benar, slogan ini muncul karena persepsi Amerika mengalami kemunduran ekonomi dan terancam oleh kekuatan luar — hal inilah yang dikapitalisasi Trump dan dia sukses.

Trump menjadikan orang-orang yang selama ini tidak atau kurang puas dengan kinerja pemerintah dan juga orang-orang yang selama ini tidak atau jarang ke bilik suara untuk memilih. Selain itu, dia juga secara khusus menjadikan masyarakat pedesaan, yang biasanya hanya lulusan SMA, jadi sasaran kampanyenya.

Kesimpulannya, perlu membuat slogan yang menjawab persepsi masyarakat mengenai masalah besar mereka. Kendati persepsi itu belum tentu benar. Pada kasus kampanye Trump misalnya, banyak orang berpandangan slogan ‘Make America Great Again’ atau MAGA adalah konyol dan sama sekali tidak sesuai dengan kenyataan sebenarnya. Sederhananya, Amerika adalah negara besar hampir disegala bidang , apalagi yang perlu ditambah. Namun persepsi jadi sangat penting dalam politik dan jika tahu persepsi masyarakat maka bisa memanfaatkannya dengan lebih baik dari lawan.

Jadikan Diri Anda Selalu Diingat

Trump jelas ingin selalu diingat oleh siapapun. Dia membanjiri media sosial, terutama Twiter, sebelum dan sesudah jadi presiden. Dia selalu ada di halaman muka media massa di seluruh dunia.

Demikian juga sebagai kandidat pemimpin, pikirkan cara untuk selalu muncul. Apa lewat media sosial, media massa, atau email, atau Youtube, dan lainnya.

Dan ini butuh ‘logistik’ lumayan besar. Kalau kita lihat satu saja, iklan Trump di Facebook — karena Trump membelanjakan lebih dari 50% dana iklannya di media sosial ini. Pada periode Juni – November 2016 lalu, Hillary Clinton membelanjakan 28 juta dolar dengan 66.000 versi iklan berbeda. Sedangkan Trump menguyur dana 44 juta dolar dengan 5,9 juta versi iklan berbeda. Hal ini saja memperlihatkan strategi beriklan Trump ternyata lebih kompleks dan lebih memiliki kekuatan di Facebook sehingga mampu mengoptimalkan hasilnya.

Direktur kampanye digital Trump, Brad Parscale menyebutkan, mereka menguji kreatif iklan dan pesan lebih dari 100.000 versi setiap hari. Ini berarti ada perubahan bahasa, kata-kata, warna, misalnya ada orang yang suka tombol berwarna hijau dan yang lain suka warna biru.

Semua iklan dan kampanye di berbagai stadion atau kunjungan punya salah satu target penting adalah diingat oleh orang banyak.

Penggunaan Taktik Rasa Takut/Kuatir

Ada dua perasaan yang mampu menghancurkan manusia; pertama keserakahan dan kedua rasa takut. Dari dua ini, rasa takut adalah perasaan paling kuat dan akan langsung menggerakkan manusia berupaya menghindarinya.

Trump adalah presiden pertama Amerika yang tidak punya latar belakang politik atau militer. Dia mencapai ini, antara lain, dengan pesan utama/kunci ,”Kita perlu mengubah cara kerja kita, kalau tidak maka…….” Anda akan kehilangan pekerjaan, orang asing atau imigran akan menguasai Amerika, teroris akan menghancurkan negara dan lainnya. Karena itu, pilihlah Trump, dia mampu memimpin negara untuk menghadapi semua itu.

Dia menakut-nakuti pemilih dan akhirnya mendorong mereka masuk bilik pemilihan umum.

Tetap Sederhana (Keep it Simple)

Selama kampanye Trump berkonsentrasi pada bahasa sederhana, yang dipahami luas oleh warga Amerika yang hanya lulusan SMA, terutama dikawasan pedesaan. Dia membahasakan kampanyenya berfokus pada kesejahteran rakyat banyak. Karena itu; fokuslah pada terminologi rakyat biasa dan bukan kalangan elit.

Pada akhirnya

Ketika seseorang masuk bilik suara, maka emosi menentukan pilihannya. Rasio atau logika mengikuti hasil pilihan emosi. Jadi narasinya adalah ‘Saya suka si A karena si A…..’ Dimulai dari suka barulah diiukuti dengan alasan ‘rasional’.

Argumen saya adalah tidak ada pemilih rasional. Yang ada adalah pemilih emosional dan mendasarkan rasionya atas pilihannya tersebut.

 

 

Sumber informasi: AP,Forbes, theconversation.com,leadfuze.com, washintonpost.com.

 

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *