JAYAKARTA NEWS— Status Gunung Anak Krakatau saat ini di Level III (Siaga). Warga belum perlu mengungsi selama mematuhi rekomendasi jarak aman minimum 3 kilometer dari pusat kawah. Badan Geologi ESDM menyatakan, aktivitas anak gunung Krakatau masih terus dipantau.
“Aktivitas Gunung Anak Krakatau terus dipantau secara visual dan instrumental oleh PVMBG. Peningkatan aktivitas tidak ditentukan hanya dari satu erupsi atau video, tetapi dari berbagai parameter pemantauan,” kata Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, dilansir InfoPublik.
Terkait penyebaran abu vulkanik, Badan Geologi mengatakan, material abu vulkanik dari erupsi Gunung Api Anak Krakatau dapat tersebar luas hingga wilayah Lampung, Banten, Jawa Barat, dan Jakarta karena karakteristik partikelnya yang sangat halus serta terbawa arah angin di atmosfer.
“Material abu bisa tersebar sangat luas dan jauh karena karakteristiknya yang sangat halus, sehingga dapat terangkat ke atmosfer bersama kolom erupsi kemudian terbawa mengikuti arah dan kecepatan angin. Karena itu, wilayah yang cukup jauh dari gunung dapat mengalami hujan abu,” tulis Badan Geologi dalam akun X, Selasa (8/9/2026).
Meski demikian, Badan Geologi memastikan erupsi kali ini tidak berpotensi memicu tsunami seperti kejadian pada akhir Desember 2018 silam karena dimensi tubuh gunung yang masih relatif kecil.
Tinggi kolom erupsi terbaru yang terjadi pada Selasa (8/9/2026) pukul 05.34 WIB memang tidak teramati, namun seismograf mencatat amplitudo maksimum sebesar 44 mm dengan durasi 10 detik.
Aktivitas itu merupakan rangkaian erupsi susulan setelah letusan utama pada Jumat (4/9/2026) malam yang menyemburkan aliran lava serta abu vulkanik hingga berdampak pada penutupan sejumlah bandara.
Masyarakat yang terdampak sebaran abu diimbau untuk membatasi aktivitas di luar rumah guna menghindari iritasi saluran pernapasan dan mata akibat kandungan silika pada debu vulkanik. (*/di)
