JAYAKARTA NEWS— Kalangan petani di Bangli, Bali berharap program rehabilitasi jaringan irigasi melalui Instruksi Presiden (Inpres) terus dilanjutkan pada tahun anggaran tahun depan.
Hal ini karena proyek yang dikerjakan tahun Anggaran 2025 ini sangat memberikan manfaat bagi masyarakat petani di sejumlah wilayah Kabupaten Bangli, Bali. Infrastruktur yang telah diperbaiki kini sudah difungsikan untuk mendukung kelancaran distribusi air menuju lahan pertanian.
“Para petani sangat terbantu dengan adanya proyek irigasi ini karena debit air yang mengairi sawah makin besar. Dulu petani bisa panen dua tahun sekali, tapi sekarang sudah setahun sekali,” kata Klian Subak Puluai Tampuagan I Ketut Sirka kepada wartawan, Selasa (3/11/2026) di Bangli.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari proyek Rehabilitasi Jaringan Utama Daerah Irigasi Kewenangan Pemerintah Daerah Wilayah Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali-Penida Paket 1 Tahun Anggaran 2025, dengan nilai kontrak sekitar Rp134 miliar, yang dilaksanakan PT Hutama Karya (Persero).
Proyek ini mencakup tujuh kabupaten di Provinsi Bali, yakni Klungkung, Gianyar, Bangli, Badung, Tabanan, Buleleng, dan Jembrana, sebagai bagian dari upaya pemerintah meningkatkan keandalan infrastruktur pengairan serta mendukung ketahanan pangan.
Khusus di Kabupaten Bangli, rehabilitasi dilaksanakan pada sembilan lokasi, meliputi Subak Manuk, Tampuagan, Aya, Pembungan, Bangbanglet, Uma Selat, Tembuku, Bekutel, dan Apuan, dengan total panjang penanganan yang dilaporkan mencapai 7.635 meter.
Saluran di Subak Tampuagan Mulai Difungsikan
Berdasarkan peninjauan lapangan, kondisi jaringan irigasi di Subak Tampuagan, Desa Peninjoan, Kecamatan Tembuku, memperlihatkan bagian saluran yang telah direhabilitasi sudah dialiri air dan mulai dimanfaatkan untuk kebutuhan pertanian.
Aliran air yang melintasi saluran tersebut menjadi salah satu indikator bahwa infrastruktur yang telah diperbaiki telah dapat menjalankan fungsinya dalam mendukung sistem pengairan setempat.
Dalam pelaksanaan pekerjaan, sejumlah tantangan kondisi lapangan juga telah ditangani oleh penyedia jasa.
Salah satunya pada pekerjaan DI Tampuagan 1, di mana beberapa bagian saluran sebelumnya mengalami gangguan akibat longsor, banjir, serta gerusan aliran air pada saat curah hujan tinggi.
Hal senada disampaikan Made Sueca, Klian Subak Tampuagan Tempek Tabunan.
Ketut Sirka membantah jika ada petani yang mengeluhkan pengerjaan proyek rehabilitasi irigasi ini. “Tidak ada petani yang mengeluh. Dulu sampai ada petani tidak bisa tidur karena sulit mencari air, tapi sekarang sudah bisa panen pada bulan September kemarin dan pada November ini akan kembali menanam padi,” papar Sirka.
Dia menyampaikan terima kasih atas adanya proyek rehabilitasi irigasi ini dan berharap bisa dilanjutkan tahun depan.
Klian Subak Tampuagan Tempek Payuh, Nyoman Mandiaka menambahkan, petani semua mengharapkan proyek ini bisa berkelanjutan agar panen makin meningkat. “Ini harapan kami sebagai petani karena merasa puas,” tuturnya.
Klian Subak Tampuagan Tempek Candi, Sang Nyoman Giri Jaya juga membantah ada petani mengeluhkan proyek ini. Jumlah petani di 4 Subak ini mencapai sekitar 250 orang. Petani mengarapkan pembangunan Irigasi berlanjut hingga hilir
Ida Bagus Nyoman Adnyana, dari bidang Teknik Irigasi Dinas PUPR Bangli menilai proyek ini sangat.menberikan manfaat bagi para petani. Dia juga berharap nantinya para petani bisa panen setahun dua kali. (Cmg)
