Site icon Jayakarta News

Menyibak Pagar Laut dan Revolusi Keuangan Nasional

Saat Laut, Fiskal, dan Nurani Bangsa Diuji

> “Kebenaran tidak bisa ditenggelamkan. Ia hanya menunggu waktu untuk kembali ke permukaan.”

— Brigjen Purn. MJP Hutagaol ’86

Laut yang Dipagari, Nurani yang Diuji

Di utara Jakarta, laut yang dulu menjadi ruang hidup bagi nelayan kini berubah rupa menjadi daratan buatan. Beton berdiri, sertifikat diterbitkan, dan dalih “bekas empang” dijadikan alasan hukum.

Namun dari citra satelit dan ingatan masyarakat pesisir, jelas wilayah itu dulunya laut murni — bukan daratan alami.

“Pagar laut” itu bukan sekadar persoalan fisik; ia adalah cermin dari cara bangsa ini memperlakukan kebenaran. Ketika laut yang hidup dijadikan milik pribadi, bukan hanya batas air yang bergeser, tetapi juga batas nurani kita sebagai bangsa.

Dari PIK 2 hingga Proyek Strategis Nasional

Proyek reklamasi yang dahulu diagungkan kini banyak dikaji ulang. Beberapa wilayah yang sempat menjadi bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) telah ditinjau kembali bahkan dicabut statusnya.

Langkah ini menunjukkan kesadaran baru — bahwa pembangunan sejati bukanlah yang menutup jalan air, melainkan yang membuka jalan keadilan.

Dalam pandangan leluhur Nusantara, laut adalah ibu kehidupan. Ia tidak dimiliki, hanya dijaga. Maka bangsa yang menutup laut demi kepentingan sesaat sejatinya sedang menutup sumber berkatnya sendiri.

Revolusi Keuangan: Napas Segar dari Purbaya

Nama Purbaya Yudhi Sadewa kini hadir membawa semangat pembaruan. Gerakannya tidak gegap gempita, namun jelas arah: memperbaiki sistem Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang kini telah menembus lebih dari Rp 300 triliun secara nasional¹, merapikan alur pendapatan negara, dan menutup ruang bocor di antara institusi fiskal.

Langkah-langkah ini ibarat arus laut yang tenang namun pasti mengubah garis pantai. Reformasi fiskal sedang berproses, bukan dengan teriakan, melainkan dengan ketegasan hati.

Tujuannya bukan hanya meningkatkan angka, melainkan memulihkan kepercayaan rakyat kepada negara.

Prabowo dan Lingkar Kepercayaan

Presiden Prabowo memasuki masa kepemimpinannya dengan tekad kuat membangun bangsa di atas nilai pengabdian.

Namun setiap pemimpin selalu dikelilingi oleh berbagai kepentingan. Dalam lingkar yang tampak loyal, ada pula yang masih terikat kepentingan pribadi.

Tantangan itu bukan untuk dituding, tetapi untuk disaring dengan kebeningan hati.

Seperti ajaran para leluhur: “air jernih tidak perlu menolak lumpur, cukup mengendapkan.”

Demikian pula seorang pemimpin — tidak perlu marah pada ketidaktulusan, cukup menegakkan ketenangan agar kebenaran tampak dengan sendirinya.

Analisis Penutup: Jalan Halus Menuju Keadilan Fiskal dan Moral

Reformasi fiskal, penataan tanah, dan penegakan hukum terhadap mafia sumber daya adalah bagian dari satu perjalanan besar bangsa menuju keseimbangan.

Namun semua langkah itu tidak akan berhasil tanpa kebeningan moral dan keberanian spiritual.

“Pagar laut” kini menjadi simbol peringatan — bahwa pembangunan sejati bukanlah soal menambah daratan, melainkan memperluas keadilan.

Bila bangsa ini berani jujur terhadap lautnya sendiri, maka berkat dan kesejahteraan akan kembali mengalir seperti ombak yang tak pernah lelah menuju pantai.

Karena sebagaimana pesan leluhur Nusantara:

> “Siapa menjaga harmoni antara langit, bumi, dan laut, maka jagat pun menjaga dirinya.”

Dan bila arah ini terus dijaga oleh Presiden Prabowo dan para pembaharu seperti Purbaya, maka bangsa ini akan sampai pada tujuannya:

Indonesia yang merdeka secara fiskal, bermartabat secara moral, dan selaras dengan hukum semesta.

Catatan Kaki

Sumber data PNBP:

Kementerian ESDM, 2023 — “PNBP Sektor ESDM Tembus Rp 300,3 Triliun”

(esdm.go.id)

Kemenkeu, Agustus 2025 — “Realisasi PNBP Nasional Capai Rp 306,8 Triliun”

(databoks.katadata.co.id)

Exit mobile version