Kolom

Menemukan Living Qur’an secara Faktual di Jepang – Bagian 2

Published

on

Sungai-sungai di kota Jepang sangat bersih. Sulit menemukan adanya sampah dari plastik atau sampah organik (sisa makanan, daun), apalagi limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun).
Oleh Achmad Fachrudin,
Dosen Universitas PTIQ

Tidak hanya di daratan, pemandangan serupa juga tampak di sejumlah sungai di Tokyo. Airnya terlihat jernih, tepian sungainya tertata rapi, dan hampir tidak terlihat sampah plastik maupun limbah rumah tangga yang mengapung.

Sungai tidak diperlakukan sebagai “halaman belakang” tempat membuang segala yang tidak diinginkan, melainkan sebagai bagian dari ruang publik yang harus dijaga bersama. Bahkan sungai menjadi ruang rekreasi, jalur pejalan kaki, dan tempat masyarakat menikmati suasana kota tanpa terganggu bau tidak sedap ataupun tumpukan sampah.

Pemandangan itu menyadarkan bahwa kebersihan di Jepang bukan sekadar slogan atau program pemerintah, melainkan telah menjelma menjadi budaya kolektif yang meresap hingga ke setiap sudut kehidupan. Kesadaran untuk tidak mengotori lingkungan tumbuh dari dalam diri setiap warga, sehingga sungai pun tetap menjadi sumber kehidupan yang bersih, indah, dan memberi manfaat bagi generasi yang akan datang.

Hal lain yang tidak kalah menarik adalah budaya berjalan kaki. Di berbagai kawasan di Tokyo, berjalan kaki bukan sekadar pilihan transportasi, melainkan bagian dari gaya hidup. Hampir setiap hari masyarakat berjalan kaki atau bersepeda menuju stasiun, sekolah, kantor, maupun pusat perbelanjaan.

Tempat sewa dan parkir sepeda banyak ditemukan di berbagai pemukiman dan sekitar perkantoran serta pembelanjaan Jepang.

Sepeda tidak dipandang sebagai simbol kesederhanaan, melainkan sebagai sarana mobilitas yang praktis, sehat, dan ramah lingkungan. Karena itu, deretan sepeda menjadi pemandangan yang sangat lazim dijumpai di kawasan permukiman, perkantoran, maupun pusat-pusat aktivitas masyarakat.

Budaya berjalan kaki seolah telah menyatu dengan kehidupan warganya. Aktivitas fisik yang dilakukan setiap hari tanpa disadari ikut membentuk masyarakat yang relatif sehat dan bugar. Tidak mengherankan apabila sebagian besar orang Tokyo memiliki postur tubuh yang proporsional dan langsing. Kasus obesitas atau perut buncit relatif jarang dijumpai. Fakta ini  sangat berbeda dengan pemandangan yang kini mulai banyak terlihat di berbagai kota besar di Indonesia.

Selain itu, yang sempat membuat saya bertanya-tanya sedikit penuh keheranan, yakni: tiadanya bangku atau tempat duduk di ruang publik. Di banyak stasiun, terminal, maupun trotoar, kursi hanya tersedia dalam jumlah terbatas. Lama-kelamaan saya menyadari bahwa desain ruang seperti ini mendorong masyarakat untuk terus bergerak. Mereka datang, berjalan, bekerja, lalu kembali pulang. Ruang publik tidak didesain sebagai tempat untuk berlama-lama bermalas-malasan, melainkan sebagai ruang yang mendukung produktivitas dan efisiensi.

Menariknya lagi, mobil pribadi tidak menjadi ukuran utama prestise sosial. Sistem transportasi umum yang cepat, nyaman, dan tepat waktu membuat masyarakat lebih memilih menggunakan kereta api, bus, atau sepeda untuk menjalani aktivitas sehari-hari. Meskipun pajak kendaraan pribadi tertentu relatif rendah, harga kendaraan dan biaya parkir yang tinggi membuat masyarakat berpikir lebih rasional dalam memilih moda transportasi. Dampaknya sangat terasa: jalan raya lebih lengang, kemacetan dapat ditekan, dan kualitas lingkungan menjadi lebih baik.

Kemandirian dan Pemerataan

Nilai kemandirian juga tumbuh kuat sejak usia dini. Anak-anak berangkat ke sekolah sendiri menggunakan kereta atau berjalan kaki tanpa selalu diantar orang tua. Mereka belajar mengatur waktu, menjaga barang bawaan, dan bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Pemandangan yang tidak kalah mengesankan terlihat pada para lansia.

Banyak di antara mereka yang tetap aktif bekerja sebagai penjaga perlintasan kereta, petugas parkir, pengelola taman, maupun relawan pelayanan publik. Usia lanjut tidak dipandang sebagai akhir dari produktivitas, melainkan sebagai fase kehidupan yang tetap dapat memberi manfaat bagi masyarakat.

Budaya mandiri itu terus berlanjut hingga dunia pendidikan dan tempat-tempat umum. Di kantin kampus maupun restoran cepat saji, setiap pelanggan mengembalikan sendiri baki, piring, gelas, dan sisa makanan ke tempat yang telah disediakan. Sampah dipilah sesuai kategorinya sebelum dibuang. Tidak ada pekerjaan yang dianggap terlalu rendah untuk dilakukan sendiri.

Justru dari kebiasaan-kebiasaan sederhana seperti itulah tumbuh rasa tanggung jawab, penghormatan terhadap orang lain, dan kepedulian terhadap ruang publik. Saya semakin memahami bahwa masyarakat yang maju tidak dibentuk oleh kebijakan besar semata, tetapi oleh kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten oleh setiap warganya.

Last but least, pemandangan lain yang menarik adalah wajah kawasan permukiman di kota-kota Jepang yang tampak tertata rapi dan relatif seragam. Rumah-rumah dibangun dengan ukuran yang proporsional, bersih, dan terawat sehingga hampir tidak dijumpai kontras yang mencolok antara rumah yang sangat mewah dengan rumah yang kumuh di sebelahnya. Perbedaan tingkat ekonomi tentu tetap ada, tetapi tidak diekspresikan melalui kesenjangan visual yang ekstrem.

Lingkungan permukiman memancarkan kesan sederhana, nyaman, dan bermartabat bagi seluruh warganya. Penataan ruang yang baik, kepatuhan terhadap aturan tata kota, serta budaya merawat lingkungan menjadikan kawasan hunian terlihat harmonis, mencerminkan masyarakat yang lebih mengedepankan pemerataan, keteraturan, fungsi, dan kualitas hidup daripada kemewahan yang dipamerkan.

Pengalaman dan Pembelajaran

Ketika pesawat mulai meninggalkan landasan Negeri Sakura, yang saya bawa pulang ternyata bukan sekadar deretan foto indah, cendera mata, atau kenangan tentang kota-kota yang bersih dan modern. Ada sesuatu yang jauh lebih berharga: sebuah perenungan yang diam-diam mengusik nurani. Di sepanjang perjalanan itu saya seperti diajak menyaksikan bagaimana nilai-nilai yang selama ini akrab saya baca dalam ayat-ayat Al-Qur’an justru hidup dan bekerja secara nyata dalam denyut kehidupan sehari-hari masyarakat Jepang.

Pengalaman tersebut menghadirkan sebuah pertanyaan yang terus bergema dalam hati. Bagaimana mungkin masyarakat yang mayoritas tidak mengenal Al-Qur’an mampu menampilkan begitu banyak perilaku yang selaras dengan pesan-pesan universalnya, sementara di banyak negeri Muslim nilai-nilai itu sering kali berhenti sebagai wacana, slogan, atau seruan moral? Pertanyaan itu bukan untuk membandingkan siapa yang lebih baik, melainkan sebagai undangan untuk melakukan muhasabah: sudah sejauh mana Al-Qur’an benar-benar membentuk cara kita hidup?

Perjalanan singkat ini akhirnya menyadarkan saya bahwa hakikat Living Qur’an bukan hanya terlihat pada semaraknya simbol-simbol keagamaan, banyaknya lantunan ayat, atau kuatnya identitas keislaman. Living Qur’an hadir ketika ajaran Al-Qur’an menjelma menjadi karakter: disiplin dalam memanfaatkan waktu, jujur dalam bertindak, bersih dalam menjaga lingkungan, bertanggung jawab terhadap ruang publik, menghormati sesama, serta bekerja dengan sungguh-sungguh. Nilai-nilai itulah yang melahirkan masyarakat yang tertib, nyaman, produktif, dan saling menghargai.

Mungkin inilah pelajaran paling berharga yang saya temukan di Jepang. Kemajuan sebuah bangsa ternyata tidak selalu dimulai dari proyek-proyek besar atau teknologi yang canggih, tetapi dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan konsisten oleh seluruh warganya.

Dan, sebagai seorang Muslim, saya pulang dengan keyakinan yang semakin kuat bahwa tugas kita bukan sekadar membaca, menghafal, atau mengagungkan Al-Qur’an, melainkan menghadirkannya dalam setiap perilaku sehingga nilai-nilai rahmatnya benar-benar dapat dirasakan oleh siapa pun, di mana pun. Barangkali, justru di Negeri Sakura itulah saya menemukan makna Living Qur’an yang paling membekas. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Exit mobile version