Oleh Brigjen Purn. MJP Hutagaol
Di tanah manusia,
setiap langkah menaruh cerita tak tuntas.
Bumi menampung derap kaki,
air menampung air mata,
langit menampung doa yang lupa pulang.
Pepohonan berdiri seperti para bijak,
akar mereka meraba rahasia masa lalu.
Mereka tahu: manusia sering lupa
bahwa hidup bukan miliknya semata.
Dari kesunyian alam lahir keseimbangan,
dari kesibukan kota tumbuh keinginan yang tak henti.
Batu karang di tepian laut berbisik:
“Aku kuat bukan karena melawan,
melainkan karena menahan kemarahan ombak.”
Sungai membalas:
“Aku jernih karena aku memilih mengalir,
bukan memaksa setiap batu berubah bentuk.”
Burung di langit menulis puisi sayap:
“Kebebasan adalah seni melepaskan.”
Tanah berbisik lembut:
“Aku memeluk siapa pun yang jatuh —
raja, pengembara, pengemis.”
Langit menanggapi:
“Aku menaungi yang berdoa, meski suaranya patah.”
Ah manusia,
engkau mengira hidup perlombaan,
padahal hidup adalah jeda hening
di antara dua keabadian.
Engkau mencari yang agung di puncak,
padahal yang agung berbisik dalam dirimu —
di ruang antara napas dan sadar.
Lihatlah:
uap menjadi hujan,
daun yang gugur menjadi tanah,
tanah menjadi bunga,
bunga memberi madu,
madu memberi hidup.
Semuanya memberi tanpa menuntut kembali.
Jika kasih pudar, batu pun retak.
Jika kasih datang, luka menumbuhkan taman.
Lentera di dada menyala — kecil, tetapi setia.
Ia tak butuh tepuk; ia hanya butuh kesadaran
bahwa hidup bukan untuk mengumpul,
melainkan untuk memahami dan memberi.
Jadi hormatilah akar, dengarkan embun,
belajarlah pada batu, pada angin, pada burung.
Karena di sanalah hikmah semesta tertulis:
dalam cara segala makhluk memberi nyawa pada yang lain.
Dari tanah yang dulu disebut tanah air mata,
tumbuh tanah-cahaya —
karena setiap tetes tangis telah menumbuhkan pengertian,
dan setiap luka mengajarkan cara mencinta.
Di akhir jalan, yang tersisa bukan gelar, bukan upacara,
melainkan sebuah lentera tertinggal di ambang malam:
sederhana, tak bernama, namun menerangi langkah siapa pun.
✨ Itulah tugas kita: menjadi lentera bagi semesta.
