Kolom

“Kungkum” sebagai Peleburan

Published

on

Gde Mahesa

Sura dira jayaningrat, lebur dening pangastuti.
Kungkum lelaku bukan tentang mandi malam, tetapi tentang laku melebur mengosongkan rasa.

Membenamkan diri, duduk bersila di petirtaan, dengan tangan ditangkupkan. Tidak ada mantra yang keras, tidak ada sesaji bunga warna warni, tidak juga aroma dupa atau kemenyan.

Hanya nafas, dan derasnya air dingin yang keluar dari sumbernya. Langit malam berhias bulan sabit, dan keheningan yang pekat serta suara detak jantung sendiri.

Kungkum, banyak yang mengira hal itu merupakan ritual minta-minta kepada mahkluk penunggu. Minta rezeki, minta pangkat, jodoh. Itu kulit.

Sejatinya menurut penelitian di Umbul Sungsang Pengging Boyolali, makna kungkum yang sesungguhnya adalah tiga hal : penyucian jiwa raga, ikhtiar batin atas usaha lahir, dan sarana menentramkan hati.
Bukan meminta ditambah, tapi meminta dikurangi.  
Yang dilebur adalah diri.

Leluhur kita percaya, manusia lahir dengan sedulur papat limo pancer yang bersih, tapi sepanjang hidup tertutup kerak : sombong karena pangkat, serakah karena harta, benci karena luka lama, takut karena masa depan.
Kerak itulah yang disebut dira — angkara.

Air adalah elemen yang paling jujur. Ia tidak bisa dibohongi. Saat kita berendam sebatas leher di tengah wengi, di petirtaan yang sepi, dinginnya air tidak hanya menusuk kulit, tapi menelanjangi ego. Tidak ada jabatan di dalam air. Tidak ada kaya-miskin. Yang ada hanya tubuh yang menggigil dan jiwa yang ditanya: sopo sejatine aku ?

Itulah peleburan. Sura dira jayaningrat, lebur dening pangastuti, segala keangkeran dan keangkuhan, akan lebur oleh kelembutan dan kasih yang tulus.

Air adalah wujud pangastuti itu.
Kenapa malam, kenapa bulan sabit ?
Kungkum tidak dilakukan siang hari saat dunia ramai. Ia dilakukan di malam Jumat Pahing, malam Seloso Kliwon, atau malam-malam sunyi lainnya, karena malam adalah simbol suwung.

Dalam filosofi Jawa yang tertulis di Serat Wedhatama dan Serat Centhini, kondisi suwung, kekosongan adalah pintu menuju keseimbangan lahir dan batin.

Bulan sabit kekuningan adalah candra alit, cahaya yang tidak menyilaukan. Jika purnama adalah simbol puncak keberhasilan yang benderang, maka sabit adalah simbol kesadaran: masih kurang, masih perlu belajar, masih perlu menunduk. Cahayanya cukup untuk menerangi, tapi tidak cukup untuk membuat kita silau dan lupa diri.
Kabut tipis di pepohonan adalah wewayangan, bayangan masa lalu yang masih menggantung. Ia tidak perlu diusir paksa, cukup dikenali, digelapkan, dan dibiarkan larut bersama embun.

Dan bayangan di dalam air adalah kejujuran malam. Di kegelapan, kita tidak bisa melihat pantulan diri dengan jelas. Kita dipaksa untuk merasakan, bukan melihat.

Kepingin mencoba?
Kungkum bukan milik orang sakti. Ia milik siapa saja yang lelah.
Jika hati sedang penuh, cobalah laku ini di tempat yang aman dan wajar, di sendang, di sungai yang tenang, saat tengah malam sepi :

  1. Niat Peleburan, Bukan Penambahan. Masuklah dengan niat: Aku ingin meleburkan amarahku, meleburkan takutku, meleburkan sombongku. Bukan: aku ingin mendapat ini itu.
  2. Adab Banyu. Sebelum masuk, cuci muka dan kaki. Iringi dengan doa sesuai keyakinan. Bagi leluhur, membawa kembang dan dupa hanyalah simbol penghormatan pada Tuhan YME dan alam, intinya adalah rasa hormat. 
     
  3. Suwung. Rendam diri sebatas leher. Pejamkan mata. Atur nafas. Jangan melawan dingin. Biarkan dingin itu mengajarimu bertahan. Tangkupkan tangan sebagai simbol menyatunya cipta, rasa, dan karsa. Diam. 15 menit, 30 menit, atau sekuatnya.
  4. Suwuk. Saat keluar, jangan langsung mengelap kasar. Duduk sejenak di tepi. Rasakan tubuh yang lebih ringan. Karena yang luntur bukan hanya daki, tapi beban batin yang kau bawa bertahun-tahun.

Bagi sebagian masyarakat Jawa, ritual ini sama sakralnya dengan bertapa atau semedi, karena memerlukan konsentrasi khusus (kekhusyukan) untuk mendapatkan wangsit.  
Wangsit itu tidak selalu berupa suara gaib. Kadang wangsit itu adalah kesadaran yang tiba-tiba muncul: oh, ternyata selama ini aku yang terlalu keras pada diriku sendiri.
Itulah Peleburan.

Bullllll…. Bullllll…. Klepussss

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Exit mobile version